Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 80


__ADS_3

Zee pun mengangguk. "Nama Daddyku Keenan Alexander. Nama Mommyku Greetta Aryanti Novanda."


"Bagus sekali, Sayang. Sekarang Zee boleh duduk," ucap Bu Devia yang meminta Zee untuk kembali ke tempat duduknya.


Hati itu, pelajaran pertama di sekolah Zee masih berhubungan dengan perkenalan. Zee masih terlihat belum berani berkenalan dengan teman-temannya. Dia masih merasa malu.


Hingga waktu istirahat tiba, Zee masih belum mempunyai teman. Namun, saat hendak keluar kelas, tiba-tiba ada siswa laki-laki yang duduk di belakangnya menepuk bahunya. Zee langsung menoleh.


"Hai, aku El." Anak laki-laki tersebut mengulurkan tangan dan memberikan sepotong kue untuk Zee.


Zee langsung menyambut uluran tangan tersebut sambil memperkenalkan diri.


"Aku Zee. Terima kasih." Zee memperkenalkan diri dan menerima kue yang diberikan oleh El.


"Nama kamu Zoey, kenapa panggilnya jadi Zee?" tanya El.


Zee hanya mengedikkan bahu. Dia juga tidak tahu mengapa orang tuanya memanggil seperti itu. Sejak saat itu, Zee dan El mulai bersahabat. Mereka tidak tahu jika ternyata kedua orang tua mereka juga saling mengenal.


Sampai keduanya lulus sekolah dasar, Zee dan juga El masih bersahabat. Bahkan, ketika mereka bersekolah di SMP maupun SMA, keduanya tetap bersekolah di tempat yang sama, meskipun berbeda kelas.


Zee tidak hanya bersahabat dengan El. Namun, dia juga bersahabat dengan Revina, putri asisten daddynya El. 

__ADS_1


Tak terasa kini Zee sudah berusia tujuh belas tahun. Dia sudah duduk di bangku kelas dua belas. Zee, benar-benar mewarisi sifat kakek dan ayahnya. Dia tumbuh menjadi laki-laki yang sangat dingin, cuek, irit bicara, dan terkesan angkuh di luar rumah. 


Namun, hal itu tidak berlaku jika di rumah. Zee akan berubah menjadi anak yang sangat manja kepada sang mommy. Bahkan, jika sedang sakit, dia akan minta ditemani oleh mommynya. 


Hampir setiap hari, ada saja ulah Zee dan juga Ken, sang daddy. Mereka selalu saja rebutan perhatian mommy Gitta. Sering kali Gitta harus ngomel-ngomel panjang lebar baru mereka berhenti.


Pagi itu, Ken dan Zee sudah bersiap dengan kaos olahraganya. Daddy Vanno, yang saat itu berusia enam puluh tahun pun tidak mau kalah. Dia ingin ikut olahraga dengan putra dan cucunya tersebut. Meskipun begitu, daddy Vanno lebih sering menjadi wasit untuk Ken dan juga Zee.


Seperti biasa, Gitta membawakan minuman dan cemilan untuk mereka. Zee, Ken dan daddy Vanno akan bermain basket di halaman depan rumah.


"Dad, pokoknya jika aku menang kali ini, aku mau melanjutkan kuliah ke Singapura seperti Daddy. Tugas Daddy adalah membujuk Mommy agar mengizinkanku melanjutkkan kuliah disana." Zee yang saat itu sedang melakukan pemanasan menoleh ke arah sang daddy.Ken hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar perkataan sang putra.


Hal yang sama juga dilakukan oleh daddy Vanno. Jika kamu kuliah ke luar negeri, mama kamu pasti akan menyusul. Kamu saja nggak nyadar jadi cucu satu-satunya yang bisa di 'uleng-uleng' mama kamu, batin daddy Vanno.


Gitta yang saat itu masih berdiri di dekat teras, langsung menatap tajam ke arah Ken dan daddy Vanno. Dia bisa mendengar jelas perkataan sang putra. Namun, Gitta pura-pura tidak mendengarnya.


Glek.


Ken dan daddy Vanno yang mendapat tatapan tajam dari Gitta langsung menelan saliva dengan keras. Rupanya, mereka bisa merasakan hari-hari yang buruk jika sampai Zee memenangkan pertandingan pagi itu.


"Ken, sepertinya pagi ini Daddy nggak mau jadi wasit," bisik daddy Vanno. Dia pura-pura membenahi simpul tali sepatunya untuk berbisik kepada Ken.

__ADS_1


"Benar, Dad. Hari ini bantu aku mengalahkan Zee. Jangan sampai anak itu menang. Masa depan kita bisa terancam."


"Kamu benar. Mommy kamu sudah mewanti-wanti Daddy."


Rupanya, kedua ayah dan anak tersebut sudah sepakat untuk tidak memberikan kesempatan kepada Zee untuk memenangkan pertandingan. Mereka sama-sama tidak mau mendapatkan hukuman dari istri masing-masing.


"Pa, hari ini jadi wasit, ya?" Zee yang sudah selesai melakukan pemanasan langsung menghampiri daddy Vanno.


"Papa ikut Daddy kamu, Zee. Kasihan Daddy kamu kecapekan nanti."


Zee terlihat cemberut. "Kenapa aku jadi lawan dua orang? Seharusnya, Papa ikut aku, bukan ikut Daddy. Jika begini, kapan aku bisa menang, Pa?" Zee masih merengek.


"Kamu kan masih muda. Tenaga juga masih full begitu. Pasti sangguplah melawan kami," ucap daddy Vanno.


Zee semakin mencebikkan bibirnya. "Ck, jika kalian main normal sih aku yakin bisa menang. Masalahnya, Daddy dan Papa kan sering tidak normal mainnya."


"Tidak normal bagaimana? Memangnya kami terbang-terbang mainnya?"


\=\=\=


Kira-kira siapa yang menang? Zee dapat izin tidak ya?

__ADS_1


__ADS_2