
"Thomas? Boneka laki-laki maksudnya? Masa iya punyanya panjang?"
"Lhoh?" Ken langsung menoleh ke arah sang daddy. Dia mendenguskan napas kesalnya saat mendengar perkataan daddynya tersebut. "Apaan itu maksudnya yang panjang, Dad? Thomas itu kartun kereta api, bukan manusia. Lagian, itu kenapa pikiran selalu saja tamasya, sih. Heran, deh."
Ken tak berhenti menggerutu. Sementara daddy Vanno, dia hanya bisa mencebikkan bibir. Pagi itu sarapan di rumah mommy Retta dilakukan dengan diselingi celotehan Zee. Dia terlihat senang sekali dengan mainan baru yang dibelikan oleh sang papa.
Hari itu, Ken ada agenda untuk meninjau lokasi proyek. Daddy Vanno sempat mengajaknya ngobrol tentang permasalahan yang ada di Jawa Timur kemarin.
"Ken, sebisa mungkin kamu harus bisa menjaga diri dan keluarga kamu. Dunia bisnis itu keras. Daddy tidak mengatakan jika semua pelaku bisnis akan menggunakan segala cara untuk mencapai apa yang diinginkannya. Namun, tidak ada salahnya kita mencoba."
"Kamu pasti sudah mengetahui cerita masa kecil daddy, kan? Daddy tidak mau kejadian seperti itu dialami lagi oleh keluarga kita," ucap daddy Vanno.
"Iya, Dad. Itu lah mengapa aku juga mengikuti saran daddy kemarin"
"Baguslah. Jika bukan kita yang menjaga keluarga sendiri, siapa lagi? Baiklah, sekarang kamu berangkat saja."
"Eh, ini yakin Daddy mau menemui Om Gio sendiri?" Ken terlihat masih enggan untuk beranjak dari ruang kerja daddy Vanno.
"Ckckck, kamu meremehkan Daddy?"
"Ya, nggak gitu juga, Dad. Tapi, aku hanya khawatir saja."
"Seharusnya, kamu mengkhawatirkan Om Gio. Daddy tidak akan mentolerir apapun yang mengusik kita. Selama kita tidak melanggar aturan, Daddy akan pastikan mereka menyesal karena telah mengusik kita."
Ken hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, dia segera berangkat untuk meninjau lokasi proyek baru mereka.
***
Beberapa hari pun berlalu. Hari ini, Zee terlihat sudah rapi dan wangi. Dia akan ikut ke rumah kakek dan neneknya, orang tua kandung Gitta. Setelah sarapan, Gitta sudah mengantarkan Zee ke rumah orang tuanya yang berada tak jauh dari rumahnya.
Sementara Ken sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Hari ini, dia sudah rapi dengan jas kerjanya. Akan ada rapat dengan beberapa petinggi perusahaan siang nanti. Daddy Vanno juga sudah bersiap-siap.
Saat Gitta berjalan memasuki kamar, terlihat Ken sedang mendekatkan wajahnya pada cermin di meja rias Gitta. Kening Gitta berkerut melihat tingkah sang suami.
__ADS_1
"Ada apa, Mas?"
Seketika Ken menoleh menatap istrinya yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.
"Aku punya jerawat, Yang. Bagaimana ini?" kata Ken panik.
"Astaga, Mas. Hanya jerawat ini kamu sampai panik gitu," kata Gitta sambil mengambil obat oles dan mengoleskannya pada jerawat sang suami. "Nah, sudah."
"Terima kasih, Yang," ucap Ken sambil memeluk tubuh sang istri dan mendekapnya dengan erat. Jangan lupakan aktivitas selanjutnya.
Ken langsung menyambar bibir ranum sang istri yang selalu terlihat menggoda setiap pagi. Dilahapnya bibir tersebut seperti sarapan bagi Ken yang enggan untuk dilepaskannya. Jangan lupakan tangan kanan Ken yang sudah masuk ke dalam kaos rumahan yang dipakai oleh sang istri. Langsung dicarinya sumber nutrisi Zee tersebut dan mulai dimainkannya dengan sedikit lebih keras.
"Aaaahhhhhhh," seketika Gitta melepaskan pertemuan dua bibir tersebut. Kepalanya langsung mendongak dengan kedua mata terpejam. Gitta langsung menggigit bibirnya bawahnya agar tidak mengeluarkan suara yang lebih keras.
Melihat sang istri sudah mulai terbawa permainannya, Ken tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung membawa Gitta ke atas tempat tidurnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ken langsung berusaha melucuti pakaian sang istri dan pakaiannya sendiri.
Awalnya, Gitta belum begitu menyadari tindakan sang suami. Namun, saat tubuhnya terhempas di atas tempat tidur, kedua bola matanya langsung terbuka dan menyadari jika sang suami sudah menarik kaosnya ke atas dan melepas pengait kacamata besar tersebut.
Namun, usahanya sia-sia saat bibirnya langsung disambar oleh Ken. Kedua tangan Ken bahkan sudah mulai melepas kancing jas dan kemejanya. Bahkan, entah sejak kapan, Ken sudah melepas celananya lengkap dengan atribut di dalamnya.
Gitta yang sudah mulai menyadari apa yang diinginkan sang suami pun langsung mendorong bahu Ken agar sedikit melepaskan pagutan bibirnya.
"Hah hah hah, Mas. Apa-apaan sih. Semalam juga sudah lemburan, masa iya mau lagi."
"Nanggung, Yang. Mau charging energi untuk kerja seharian nanti," jawab Ken sambil bersiap-siap.
"Energi dari sarapan, Mas. Masa iya dari aaaaahhhhhh auuuhhhh, Maaassshhhh ssshhhh," Gitta bahkan belum menyelesaikan perkataannya, dia sudah langsung dibungkam oleh Ken.
Apa yang dilakukan Gitta setelahnya? Dia hanya bisa merem melek sambil mendes*h saat menerima hujaman Ken di bawah sana. Pagi itu, mereka benar-benar sarapan dan menuntaskan apa yang belum mereka selesaikan sejak semalam. Eh, maksudnya nambah yang semalam.
Sekitar pukul delapan, aktivitas mereka berdua baru selesai. Ken langsung buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan diikuti oleh Gitta di belakangnya.
"Awas, hadap dinding, Mas! Jangan hadap sini. Aku nggak mau di terkam lagi," kata Gitta sambil menatap ke arah sang suami yang sedang meletakkan handuk yang baru saja di sambarnya.
__ADS_1
"Iya, iya." Ken pun menuruti keinginan sang istri. Namun, seketika Ken langsung menoleh ke arah Gitta saat mendengar sebuah suara.
Weess eweeessss eweeesss ewesssss wwwsssssss.
"Eh, suara apa itu, Yang?" tanya Ken sambil menoleh ke arah Gitta.
"Kyaaaaa! Jangan lihat! Hadap sana, Mas!" Gitta memukul-mukul pinggang Ken dengan tangannya.
"Ckckck, kenapa harus malu, sih. Toh hanya pipis saja."
"Sembarangan."
Setelah perdebatan absurd tersebut, keduanya langsung buru-buru menyelesaikan aktivitas mandi kedua mereka. Ya, mereka terpaksa mandi dua kali pagi itu karena Ken benar-benar pandai menggoda Gitta.
Ken langsung berangkat ke kantor setelah selesai sarapan yang telat tadi. Dino, sang asisten, sudah sejak tadi menghubunginya beberapa kali. Pagi itu, mereka ada jadwal rapat pukul sepuluh pagi.
Sementara Gitta, dia juga sudah bersiap-siap ke butik. Mommy Retta juga berada di sana. Hari itu, akan ada tamu penting yang ingin menemui mommy Retta untuk melakukan fitting baju pengantin putranya.
Gitta tiba di butik hampir pukul sepuluh. Dia langsung beranjak menuju ruangan mbak Arin.
"Pagi, Mbak. Maaf telat, nih." Gitta menarik kursi yang ada di depannya tersebut.
"Nggak apa-apa. Klien juga belum datang, kok."
"Mommy?"
"Ada di ruangannya sama daddy kamu."
"Eh, ngapain Daddy ikut kemari?"
\=\=\=
Memangnya kenapa itu daddy Vanno ikutan ke butik Mommy? 🤔
__ADS_1