
Ken menjelaskan semua informasi yang baru didapatkan dari Juan. Gitta dan Zee mendengarkan semua penjelasan tersebut sambil menahan amarah.
"Aku nggak bisa diam saja, Dad. Jika sudah seperti ini, tidak menutup kemungkinan jika nanti mereka akan kembali mengusik Kia." Zee menggeram kesal sambil menatap ke arah sang daddy.
"Jangan gegabah dulu, Zee. Kita bisa harus bersikap tenang dulu. Kita ikuti apa maunya sambil mempersiapkan sesuatu untuk membalas keluarga Kiara," ucap Ken.
Zee tampak setuju dengan apa yang dikatakan oleh sang daddy. Memang sebaiknya seperti itu. Mereka mengikuti dulu keinginan keluarga Kiara. Setelah dipastikan apa yang mereka inginkan, Zee bisa mengambil tindakan.
"Benar, Dad. Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa Papa sudah mengetahui hal ini?"
"Kita pulang dulu. Setelah ini, kita tunggu apa yang mereka inginkan. Papa sudah tahu, Zee. Tadi Papa juga sudah menghubungi Daddy."
Gitta dan Zee hanya bisa menghembuskan napas berat. Memang sangat sulit sekali menyimpan rahasia seperti itu di keluarga Geraldy. Apalagi, terhadap papa Vanno. Meskipun usianya sudah lebih dari enam puluh tahun, jangan dikira papa Vanno tidak tahu apa-apa. Papa Vanno bahkan jauh lebih teliti daripada Ken maupun Zee. Ibarat kata, matanya sudah ada dimana-mana.
__ADS_1
Setelah cukup lama berbicara, Ken, Gitta, dan Zee akhirnya beranjak pulang. Mereka juga tidak menjenguk perempuan yang ditabrak oleh Zee setelah mengetahui keadaannya yang baik-baik saja dari dokter Arman.
Ken dan Zee pulang bersama. Zee meninggalkan mobilnya di rumah sakit dan menghubungi orang bengkel untuk mengambilnya. Seperti biasa, Gitta akan meminta keluarganya untuk tidak menggunakan lagi mobil atau benda-benda yang sudah membuat mereka celaka atau cidera.
Zee hanya bisa pasrah saat sang mommy sudah bersuara. Dia hanya bisa menuruti keinginan tersebut meski masih menyayangkan mobilnya.
Ken langsung mengendarai mobilnya menuju rumah. Mereka ingin langsung pulang tanpa mampir kemana-mana.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikemudikan Ken sudah memasuki area perumahan. Ken melajukan mobil menuju rumahnya dengan kecepatan seperti biasa. Namun, saat hendak memasuki halaman rumah, mereka melihat Kiara yang sudah bersiap hendak pergi dengan diantar sopir. Wajahnya juga terlihat sembab karena menangis.
Kiara yang melihat sang suami baru saja keluar dari mobil Ken, mengurungkan niatnya untuk memasuki mobil. Dia menutup kembali pintu mobil dan langsung menyambut kedatangan Zee.
"Sayang, mau kemana?" tanya Zee dengan sedikit panik saat sudah berada di depan Kiara.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan Zee, Kiara justru langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya tersebut sambil kembali terisak. Kiara langsung memeluk tubuh suaminya tersebut dengan sangat erat.
Mendapati sang istri yang menangis terisak, Zee langsung mengusap-usap punggung Kiara sambil sesekali mendaratkan kecupan pada pucuk kepala Kiara.
"Ssttt, Sayang. Ada apa, hhmm? Kenapa menangis begini? Kamu mau pergi kemana?" tanya Zee sambil masih mengusap-usap punggung Kiara.
Bukannya menjawab pertanyaan Zee, Kiara justru semakin terisak. Zee semakin bingung dengan tingkah sang istri. Selanjutnya, Zee membujuk Kiara agar kembali memasuki rumah. Kiara hanya menuruti keinginan sang suami sambil masih memeluk erat tubuh Zee.
Setelah masuk, Zee membawa Kiara menuju ruang tengah. Terlihat Ken dan Gitta juga baru saja masuk setelah memarkirkan mobil mereka.
Begitu mereka duduk, Kiara baru bisa menjawab pertanyaan Zee. "A-aku takut sekali sesuatu terjadi kepada, Mas. Baru saja ada yang mengirimkan pesan jika kamu mengalami kecelakaan, hiks hiks."
\=\=\=
__ADS_1
Nah lho, ada yang mau cari gara-gara nih. Ini reviewnya lama ya, othor sudah up dari semalam masih belum lolos. Mohon maaf jika lama upnya.