
Setelah perdebatan antara Ken dan Zee pagi, akhirnya mereka berdua mandi pagi bersama. Gitta segera menyiapkan baju untuk mereka berdua. Setelah selesai, mereka langsung sarapan bersama.
Begitu Zee selesai sarapan, Gitta langsung membawa sang putra kembali ke kamar. Dia segera menyiapkan perlengkapan Zee dan mengganti baju balita tersebut.
"Ami, Ji au ana? (Mommy, Zee mau kemana?)" Zee terlihat bingung saat melihat sang mommy mengganti bajunya.
"Zee nggak mau ikut Papa dan Mama? Jalan-jalan ke mall."
"Au, Mi. Beyyi obin agi. Yyeeee. (Mau, Mi. Beli mobil lagi)" Zee sudah melompat-lompat kegirangan di atas tempat tidur. Gitta langsung menangkap tubuh balita tersebut.
"Jangan lompat-lompat, Sayang."
Ken yang baru saja memasuki kamar langsung berjalan mendekat ke arah sang putra. Dia menggendong Zee di depan sambil menciumi hidung putranya tersebut.
"Sayang, nanti tidak boleh minta mobil besar lagi, ya. Minta mobil mainan saja. Okay?"
Zee yang tidak paham dengan maksud sang daddy hanya bisa menatap wajah Ken sambil mengalungkan kedua tangannya. "Obin ainan? (Mobil mainan?)"
"Iya. Zee mau nggak main mobil-mobilan bareng Daddy?"
"Ja!" Zee mengangguk dengan penuh semangat. "Ji au ain obin becal. (Zee mau main mobil besar)"
"Bagus. Pinter anak Daddy. Nanti minta beli mobil-mobilan sama Papa, ya."
"Jaaa!" Zee mengangguk penuh semangat.
Sementara di rumah mommy Retta dan daddy Vanno, mereka juga sedang bersiap-siap.
"Mas, nanti pakai baju yang aku siapkan di atas tempat tidur, ya," kata mommy Retta sambil meletakkan sepasang celana dan kaos untuk sang suami.
"Iya." Jawab daddy Vanno dari dalam kamar mandi.
Setelahnya, mommy Retta langsung berjalan menuju ruang ganti untuk mengganti bajunya. Beberapa saat kemudian, daddy Vanno terlihat keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya. Dia menggosok-gosokkan rambut basahnya dengan handuk kecil untuk mengeringkannya.
Kedua matanya langsung menatap celana jean berwarna hitam dan kaos putih bertuliskan ''Kenalkan, gue papa Vanno, lo siapa?" di bagian depannya. Daddy Vanno yakin jika kaos itu adalah kaos couple yang sudah biasa dipakai olehnya dan sang istri.
Keningnya langsung berkerut saat membaca tulisan yang ada di bagian depan kaos tersebut. Entah bagaimana caranya hampir setiap jalan-jalan keluar dengan sang cucu, sang istri selalu mempunyai baju couple yang berbeda dan berganti-ganti setiap saat.
Saat sedang mengamati tulisan yang ada di bagian depan kaos tersebut, terdengar suara pintu ruang ganti terbuka. Terlibat mommy Retta sudah selesai berganti baju. Kedua bola mata daddy Vanno langsung membesar saat melihat penampilan sang istri.
"Kenapa kamu jadi terlihat seperti mahasiswi begitu sih, Yang?!" Protes daddy Vanno.
Bagaimana tidak, di usia yang sudah memasuki empat puluh tiga tahun, tapi mommy Retta masih terlihat segar, bugar dan wajahnya juga terlihat awet muda. Jangan lupakan juga tubuhnya yang masih terawat hingga sekarang.
"Memangnya kenapa? Bukannya kamu suka jika aku terlihat muda?"
__ADS_1
"Ya, suka sih. Tapi nanti jika jalan-jalan dan ketemu brondong, aku nggak suka jika mereka menatap kamu dengan tatapan liarnya." Kata daddy Vanno sambil mendengus kesal.
Mommy Retta hanya bisa mencebikkan bibirnya. Dia berjalan mendekat ke arah daddy Vanno.
"Memangnya kamu nggak lihat tulisan di kaos aku, Mas?" Kata mommy Retta sambil menunjukkan tulisan "Kenalkan, gue mama Retta, lo siapa?". "Mereka juga pasti sudah tahu jika kita sama-sama sudah taken. Ada-ada saja kamu ini, Mas." Lanjut mommy Retta.
Daddy Vanno lagi-lagi hanya bisa mendengus kesal. "Ya, aku nggak mau mereka menatap kamu dan berpikiran aneh-aneh." Kata daddy Vanno.
Mommy Retta hanya bisa memutar bola matanya dengan jengah. Dia sudah sangat hafal dengan sifat sang suami yang sangat posesif seperti itu. Tanpa mau memperpanjang perdebatan dengan sang suami, mommy Retta langsung beranjak menuju meja riasnya. Dia hendak bersiap-siap untuk memakai bedak dan lipstik tipis yang biasa dipakainya. Mommy Retta termasuk orang yang tidak suka memakai make up.
Namun, gerakan tangannya langsung terhenti saat melihat tingkah sang suami dari pantulan cermin di depannya. Sontak mommy Retta langsung berbalik dan berteriak.
"Mass! Apa-apaan sih itu?!" Teriak mommy Retta.
Bagaimana dia tidak terkejut jika melihat sang suami sudah melepaskan handuknya dan kini daddy Vanno sudah polosan di belakang mommy Retta. Jangan lupakan apa yang sedang dilakukannya sekarang. Daddy Vanno sedang mengeringkan seluruh tubuhnya dan juga Vj yang masih basah dan terlihat sangat, ah sudahlah.
"Memangnya kenapa sih, Yang? Selalu saja histeris jika melihatku polosan. Beda sekali dengan tadi pagi." Cibir daddy Vanno tanpa ada rasa bersalah, apalagi rasa malu.
"Tingkah kamu itu selalu saja aneh, Mas. Cepat pakai baju sana!" Protes mommy Retta dengan wajah yang sudah mulai terasa panas.
"Iya, iya. Lagian, sudah biasa melihat dan merasakan masih saja malu," gerutu daddy Vanno.
"Aku dengar, Mas."
Setelah selesai bersiap-siap, daddy Vanno dan juga mommy Retta langsung berangkat menuju rumah Ken yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah mereka. Keduanya langsung turun dan masuk ke dalam rumah untuk menjemput sang cucu.
Dari arah tangga, terdengar suara anak laki-laki yang berada di dalam gendongan sang daddy.
"Mama, Ji dah ciap!" Kata Zee sambil merentangkan kedua tangannya.
Ken segera menurunkan sang putra begitu sampai di ujung tangga.
Bayi laki-laki yang juga memakai baju couple seperti kakek dan neneknya tersebut langsung berlari menuju ke arah mommy Retta.
"Waahh cucu Mama sudah cakep nih. Coba lihat bajunya," kata mommy Retta.
Mommy Retta merapikan kaos Zee yang terlihat kusut tersebut. Ada tulisan "Hai, aku si gemoy Zee, mau cium nggak?". Mommy langsung tersenyum saat melihat hasil karyanya tersebut.
"Mommy apa-apaa sih, masa iya setiap keluar jalan-jalan selalu saja ganti baju couplenya. Mana tulisannya juga ganti-ganti lagi," protes Ken yang sudah berdiri di depan kedua orang tuanya.
"Memangnya kenapa? Kamu nggak suka?"
"Ya bukannya nggak suka, Mom. Tapi tulisannya sering aneh-aneh. Ken jadi malu pakainya."
"Memang tulisan yang mana yang membuat kamu malu?"
__ADS_1
"Itu yang kemarin. Masa iya di kaos ken tulisannya, 'Gue sudah menikah dan punya anak, jangan lirik-lirik' aku malu, Mom."
"Cckkk, jadi kamu mau tulisannya diganti, "gue single, silahkan lirik gue" begitu?" Tanya mommy Retta sarkas.
Belum sempat Ken menjawab perkataan mommy Retta, terdengar suara sang istri dari belakang. "Oh, jadi kamu mau tebar pesona saat jalan-jalan begitu, Mas? Mau melirik-lirik para cewek-cewek yang masih muda-muda itu, iya?"
Glek.
Ken langsung menoleh dan menatap wajah Gitta sambil berusaha menelan salivanya dengan susah payah.
"Sukurin, wanita kok dilawan. Jika mau melawan mereka, bawa ke atas ranjang. Daddy yakin mereka akan bertekuk lutut dan pasrah." Bisik daddy Vanno.
Ken langsung menoleh ke arah daddy Vanno. Dia merasa semakin kesal setelah mendengar perkataan sang daddy.
"Ck, apa-apaan itu. Di atas ring pun juga sering nggak mau ngalah." Ken masih mencebik ke arah daddy Vanno.
Tanpa memperdulikan Ken yang tengah kesal, daddy Vanno dan mommy Retta segera berangkat dan membawa serta Zee. Sementara Ken dan Gitta, juga bersiap ke rumah sakit. Mereka akan mengunjungi Vita, sahabat Gitta yang baru saja melahirkan.
Tak butuh waktu lama, Ken dan Gitta sudah tiba di sebuah rumah sakit. Mereka hendak berjalan menuju kamar Vita saat melihat Gilang, suami Vita berjalan menuju tempat parkir.
"Eh, Git. Kalian ada di sini?" Gilang menyapa Gitta dan Ken.
"Iya. Mau kemana?"
"Oh, ini mau pulang dulu. Mau ambil perlengkapan bayi. Kemarin lupa bawa saking paniknya. Hehehe,"
Ken dan Gitta menyadari hal itu bisa saja terjadi karena panik. Setelah itu, mereka segera berpisah. Ken dan Gitta segera melanjutkan langkahnya menuju ruangan Vita.
Ceklek. Gitta dan Ken melongokkan kepala ke dalam ruangan setelah mendapatkan izin. Sontak saja wajah Gitta langsung berbinar bahagia saat melihat Vita tengah memangku bayinya. Gitta langsung berjalan memasuki ruangan tersebut.
"Wuaahhh selamat ya, Sayang." Gitta langsung menghamburkan pelukannya pada sang sahabat. "Waahh, cantiknya anak kamu, Vit." Gitta tampak berbinar bahagia saat menatap bayi perempuan mungil tersebut.
"Hehehe, terima kasih sudah datang, Git, Ken."
"Sini deh, coba aku gendong." Gitta meminta untuk menggendong bayi Vita. Wajahnya tampak berbinar bahagia saat melihat bayi mungil tersebut. "Waahh, cantiknya. Lihat deh, Mas. Cantik banget ya," Gitta menggeser tubuhnya mendekat ke arah Ken.
"Benar, Yang. Gemes banget. Seharusnya tadi Zee di ajak sekalian. Dia pasti suka melihat bayi cantik begini."
"Yang suka Zee apa kamu, Mas?" Gitta mendelik tajam menatap ke arah Ken.
"Hehehe, dua duanya, Yang."
Gitta mencebikkan bibirnya. Dia menoleh ke arah Vita. "Siapa namanya, Vit?"
"Namanya…,"
__ADS_1
\=\=\=
Bisa di skip ya jika merasa sudah membaca.