
"Bagaimana? Masih tertarik menjadi sekretaris saya?" tanya Zee sambil menoleh ke arah Anggita.
Mendengar penjelasan Zee, bukan hanya Anggita yang terkejut. Namun, orang tuanya pun juga merasa cukup terkejut.
"Bagaimana bisa Mas Zee tidak memiliki ruang kerja di kantor? Bukankah Mas Zee memegang beberapa proyek penting juga?" Pak Chandra merasa bingung.
"Memang benar, Pak. Tapi, saya bisa nebeng di ruangan Daddy, atau Papa saya jika ingin bekerja. Menurut saya, jauh lebih enak seperti itu. Saya bisa sekaligus bertanya dan belajar langsung dari mereka. Dan, perlu Anda ketahui juga, saya masih kuliah. Jadi, walaupun saya ada proyek, saya juga tidak akan datang ke kantor setiap hari. Saya lebih mementingkan pendidikan, Pak."
Terdengar helaan napas dari mereka. Zee hanya bisa mengulas senyuman melihat ekspresi semuanya. Setelah cukup lama terdiam, Zee akhirnya kembali bertanya.
"Bagaimana? Apa masih tertarik menjadi sekretaris saya? Oh iya satu lagi, saya kan masih kuliah, jadi sebagai sekretaris tentunya juga akan membantu mengerjakan tugas-tugas kuliah, kan? Hehehe," ucap Zee sambil terkekeh.
Mendengar ucapan terakhir Zee, sontak saja Anggita terkejut. Dia langsung menoleh ke arah sang ayah sambil berbisik.
"Pa, bagaimana ini? Membantu mengerjakan tugas kuliah? Bagaimana itu? Aku kan nggak kuliah. SMA juga harus susah payah bisa lulusnya," bisik Anggita.
Zee yang masih bisa mendengar bisikan tersebut merasa cukup terkejut. Dia benar-benar dibuat heran. Bisa-bisanya minta menjadi sekretaris tapi kemampuan masih meragukan begitu, gumam Zee dalam hati.
__ADS_1
Tampak wajah Pak Chandra mulai bingung juga. Hingga akhirnya, dia mengambil keputusan.
"Ehm, begini Mas Zee. Sepertinya, jika harus jadi sekretaris Mas Zee, putri saya sedikit keberatan. Dia masih belum terbiasa mengerjakan tugas kuliah," ujat Pak Chandra.
Zee hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Tidak apa-apa, Pak. Saya bisa mengerti. Lalu, bagaimana dengan tawaran menempati posisi staf? Apakah juga keberatan?"
Pak Chandra menoleh ke arah sang putri dan dijawab dengan gelengan kepala. Zee yang melihat hal itu, sudah bisa menduga jawaban yang akan disampaikan oleh Pak Chandra.
"Ehm, sepertinya yang itu juga belum bisa kami terima. Maksud kami melakukan internship agar Anggi ini bisa belajar mengurus perusahaan. Tapi, jika posisinya menjadi staf, akan sulit sekali baginya nanti untuk belajar."
Zee tampak kesal setelah mendengar jawaban tersebut. Memang apa salahnya menjadi staf? Untuk belajar, bukankah lebih baik dari posisi bawah dulu? batin Zee. Namun, dia tidak bisa mengatakannya karena merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, Mas Zee. Mungkin, lain kali kita bisa bekerja sama."
"Iya, Pak. Sekali lagi kami minta maaf."
Setelah itu, keluarga Pak Chandra undur diri. Zee sempat mengantarnya hingga pintu ruang kerja Ken. Sebelum keluar dari ruangan, Anggita sempat menoleh dan mengamati Zee sekilas sambil mengedipkan matanya. Zee yang melihat hal itu hanya bisa mendengus kesal.
__ADS_1
Hari itu, Zee benar-benar dibuat lelah dengan berpura-pura sabar menghadapi keluarga Pak Chandra. Setelah kepergian tamunya tersebut, Zee mulai memeriksa pekerjaan yang harus segera diselesaikannya sebelum orang tuanya kembali.
Zee mulai memeriksa laporan dan apa yang harus dilakukannya untuk mengatasi permasalahan di kantor cabang.
Hingga menjelang sore, Zee harus pulang. Dia segera bergegas setelah selesai berdiskusi dengan Johan.
Tak berapa lama kemudian, Zee sudah memasuki halaman rumahnya. Setelah memarkirkan mobil, Zee langsung keluar dari mobilnya. Tiba-tiba perhatiannya tertuju kepada seseorang yang berdiri tak jauh darinya.
"Sayang, kenapa di luar, hhmm?" tanya Zee sambil berjalan ke arah Kiara yang sudah menunggunya di teras samping rumah. Bi Ani juga terlihat berdiri di belakang Kiara.
"Ehm, aku nunggu kamu, Mas," ucap Kiara sambil menghambur pada pelukan Zee sambil mulai terisak.
Zee langsung mengusap-usap punggung sang istri sambil mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada pucuk kepala Kiara. Tiba-tiba perhatian Zee teralihkan saat Bi Ani berbicara.
"Mbak Kia sejak satu jam yang lalu sudah berada di sini nungguin Mas Zee sambil menangis, Mas."
Zee semakin mengeratkan pelukannya sambil kembali menciumi pucuk kepala Kiara.
__ADS_1
"Eh, menangis? Kenapa, Sayang? Kangen mau peluk? Mau cium? Apa mau diraba-raba?"
Jawabannya?