
Zee mengangguk-anggukkan kepala setelah mendengar penjelasan El. Dia sedikit banyak bisa memahami apa yang El rasakan dan terpaksa dia lakukan saat itu. Namun, Zee berharap, El tidak main-main dengan apa yang sudah diputuskannya.
"Gue juga pernah mengalami peristiwa yang mirip sama lo, El. Jika lo masih ingat, gue juga memutuskan menikahi Kiara dadakan waktu itu. Bahkan, jauh lebih cepat dari apa yang lo alami. Awalnya, gue tidak memikirkan apapun tentang pernikahan yang gue lakukan. Maksudnya, belum memikirkan kedepannya akan seperti apa."
"Namun, orang tua gue memberikan dukungan yang luar biasa buat gue. Mereka membantu menumbuhkan rasa tanggung jawab yang harus kita emban setelah menikah. Orang tua gue juga memberikan banyak masukan serta support bagi gue dan Kiara untuk menjalani pernikahan ini dengan ikhlas."
"Dan, gue juga yakin jika orang tua lo pun juga akan melakukan hal yang sama. Mereka pasti akan sangat bahagia jika lo menikah dengan Fara. Gue bisa lihat seberapa dekat nyokap lo sama Fara."
El mengangguk-anggukkan kepala. Dia cukup setuju dengan apa yang dikatakan oleh Zee.
"Gue juga bisa melihat hal itu dari wajah nyokap gue, Zee. Mommy benar-benar bahagia saat gue memutuskan untuk menikah dengan Fara. Mungkin hal itu terjadi karena keluarga gue memang sudah dekat dengan Fara."
"Bisa jadi, El. Dan, gue berharap, lo tidak main-main dengan pernikahan ini. Ya, meskipun awalnya lo hanya iseng saat mengatakan akan menikahi Fara, tapi gue berharap lo serius menjalani ini semua."
"Gue yakin, lambat laun kalian pasti bisa mempunyai perasaan lebih setelah hidup bersama. Apalagi, jika lo sudah mulai cangkul mencangkul. Beuuhhh, jangan ditanya rasanya. Berasa ingin terus nyemplung, El. Anget."
__ADS_1
Zee langsung tergelak saat mendengar ucapannya sendiri. Mendengar hal itu, El hanya bisa mendengus kesal. Dia sudah cukup hafal dengan tingkah Zee setelah dia menikah. Entah mengapa otak Zee menjadi sedikit konslet. Apa mungkin, hal itu pengaruh gen yang mengalir deras dari keluarganya? batin El.
"Cckkk. Apaan nyemplung. Dikira kolam renang apa." El tak mau kalah.
"Eh, emang iya, kan? Kolam renang buat kecebong kita. Hahaha."
El hanya bisa melotot tajam ke arah sang sahabat. Dia mengambil botol minumnya dengan kasar, dan segera menggaknya. Hingga beberapa saat kemudian, Zee berhasil menghentikan tawanya. Dia teringat sesuatu yang ingin dibicarakan dengan sahabatnya tersebut.
"Tadi, lo bilang Revina mendapat informasi jika lo suka sama dia dari seseorang. Siapa itu?" tanya Zee penasaran.
"Ferdi. Anggota BEM angkatan lo."
Mendengar jawaban El, Zee langsung bisa menyimpulkan sesuatu. Ternyata, ada beberapa orang yang memang sekongkol untuk mengusik persahabatannya, El, dan juga Revina. Dan untuk itu, Zee tidak akan tinggal diam.
"Ferdi. Sepertinya, dia sudah bekerja sama untuk mengusik persahabatan kita El."
__ADS_1
Kening El berkerut. Dia masih belum mengerti dengan maksud ucapan Zee.
"Maksud lo apa, Zee?
"Gue juga dapat teror dari temannya Ferdi, Riko. Mereka satu circle saat kuliah."
Mendengar hal itu, sontak saja El terkejut. Dia masih belum mengetahui maksud Zee sebenarnya.
"Teror? Teror apa maksud lo, Zee? Jangan bilang lo diintimidasi atau direcokin sama mereka?" El semakin penasaran.
"Cckkk. Lo kira gue apaan bisa direcokin sama mereka? Yang ada juga gue yang bakal ngrecokin hidup mereka jika berani ngusik gue dan keluarga gue," ucap Zee berapi-api.
•••
Jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak ya, biar othor e semangat ngetik saat puasa begini.
__ADS_1