Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 194


__ADS_3

Melihat tubuh Zee yang sudah jatuh, beberapa perawat langsung ikut panik. Mereka cukup khawatir mengingat siapa Zee sebenarnya. Dokter Andara langsung meminta perawat membantu Zee sementara beliau dan perawat yang lain membantu menyelesaikan persalinan Kiara.


Zee berhasil dibawa ke ruang sebelah tempat persalinan Kiara. Lebih tepatnya, ruangan tersebut adalah ruang VIP milik keluarga Geraldy jika harus menunggui salah satu keluarga ada yang dirawat.


Tak sampai lima belas menit kemudian, orang tua Zee sudah tiba di rumah sakit. Gitta langsung menghampiri Zee saat mengetahui sang putra tengah pingsan. Gitta mengurungkan niatnya menemui sang menantu karena Dokter Andara belum selesai melakukan penanganan pasca melahirkan.


Ceklek.


Pintu kamar yang ditempati Zee sudah terbuka. Terlihat Gitta langsung menghembuskan napas lega saat melihat Zee sudah duduk di atas tempat tidur.


"Cckkk. Kamu ini benar-benar ya, Zee. Bukannya memberi dukungan dan kekuatan pada Kia malah pingsan begini. Malu-maluin, ih." Gitta berjalan menghampiri Zee sambil mengejek sang putra.


Zee hanya bisa mendengus kesal saat mendengar ejekan sang mommy. "Enak saja. Aku juga nemenin Kia melahirkan, Mom."


"Nemenin apa? Suster bilang, kamu pingsan tadi."


"Aku memang sempat pingsan. Tapi itu pun sesudah Kia melahirkan, kok." Zee masih tak mau kalah.


Belum sempat Gitta menyahuti ucapan sang putra, terdengar suara pintu terbuka. 

__ADS_1


"Mana cucuku?" tanya Ken sambil berjalan memasuki ruangan tersebut sambil mengedarkan pandangan untuk mencari cucunya.


"Masih dibersihkan, Mas. Ini anak kamu baru saja pingsan saat nemenin Kia lahiran." Gitta menjelaskan kepada Ken.


Mendengar jawaban Gitta, sontak saja Ken langsung tertawa terbahak-bahak. Dia sama sekali tidak menyangka jika sang putra akan pingsan. 


"Kamu beneran pingsan, Zee? Hahaha. Nggak sesuai sekali sama tingkahmu." Ken masih berusaha menahan tawanya.


Lagi-lagi Zee hanya mendengus kesal melihat kedua orang tuanya meledek.


"Aku hanya terkejut tadi, Dad. Aku tidak menyangka jika perjuangan wanita yang melahirkan seperti itu. Apalagi tadi itu…," Zee rasanya tidak sanggup mengingat apa yang baru saja dilihatnya. Dia benar-benar shock saat melihat perjuangan sang istri melahirkan putranya. Zee bahkan harus bergidik dan menggelengkan kepala agar bayangan itu segera hilang.


Gitta dan Ken yang melihat tingkah putra semata wayangnya itu langsung saling pandang. Mereka terlihat bingung dengan tingkah Zee. Namun, belum sempat Gitta maupun Ken bertanya, terdengar sebuah ketukan pintu. Ternyata, seorang perawat memberitahu Zee agar segera mengadzani sang putra. Zee langsung bergegas mengikuti perawat tersebut dan diikuti oleh Gitta dan Ken.


Beberapa saat kemudian, Zee sudah selesai. Dia mengembalikan putranya kepada perawat untuk dibawa ke ruang bayi sambil menunggu Kiara pulih.


Zee masih melihat ketika perawat membawa putranya tersebut kembali ke ruangan bayi. Setelah itu, dia berjalan menuju kedua orang tuanya yang sudah menunggu. Ketika sudah berada di depan sang mommy, Zee langsung menghambur ke pelukan Gitta dan menangis tergugu.


Menyadari sang putra tengah emosional, Gitta hanya bisa mengusap-usap punggung putranya tersebut dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Mom, aku baru lihat jika perjuangan seorang ibu sangatlah luar biasa saat melahirkan. Aku nggak bisa bayangin apa yang Mommy rasakan saat melahirkanku dulu. Aku benar-benar minta maaf jika membuat Mommy kesakitan. Aku minta maaf, Mom. Hu hu hu." Zee masih terus menangis dalam pelukan sang ibu.


"Ssttt, kamu ngomong apa sih, Sayang. Nggak ada yang sakit. Semua rasa sakit itu tidak ada artinya bagi Mommy. Semuanya tergantikan dan terbayarkan dengan kelahiran kamu. Bagi Mommy, melahirkan kamu adalah sebuah anugerah terindah. Mommy sama sekali tidak merasakan sakit. Justru, Mommy sangat bahagia."


Zee masih terus menangis sesenggukan.


"Hu hu hu. Maafkan aku jika selama ini sering membantah Mommy. Maafkan aku juga jika selama ini belum bisa membuat Mommy bahagia." 


"Kamu sudah sangat membuat Mommy bahagia, Sayang. Kehadiran kamu selama ini sudah membuat Mommy dan Daddy bersyukur. Sudah, sekarang jangan menangis lagi. Mulai sekarang, kamu harus jadi laki-laki yang lebih bertanggung jawab. Kamu tidak hanya bertanggung jawab kepada Kiara saja, tapi sudah ada anak diantara kalian," ucap Gitta.


Zee menganggukkan kepala. Setelah itu, dia melepaskan pelukannya dan beralih menatap sang daddy. Dengan mata masih berkaca-kaca, Zee memeluk tubuh daddynya yang memiliki tubuh hampir sama dengannya tersebut.


"Dad, a-aku…," belum sempat Zee menyelesaikan ucapannya, Ken sudah lebih dulu menyahuti.


"Sudah, sudah. Daddy sudah tau apa yang akan kamu katakan. Pesan Daddy hanya satu. Jadilah suami dan ayah yang bertanggung jawab. Laki-laki yang bisa menjadi suami, ayah, dan sahabat untuk istri dan anak kamu. Mulai saat ini, sekolah kamu sudah naik kelas. Dulu, kamu hanya menjadi seorang suami. Tapi kini, kamu sudah menjadi ayah juga. Daddy harap, kamu bisa menjalani peran itu dengan baik," ucap Ken sambil menepuk punggung putranya dengan lembut.


Zee melepaskan pelukannya sambil menatap wajah daddynya. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.


"Iya, Dad. Aku akan mulai belajar lebih giat lagi sekarang," ucap Zee sambil menghapus sisa-sisa air matanya.

__ADS_1


"Tentu saja kamu harus lebih giat belajar menjadi seorang ayah. Jangan hanya giat mencetaknya saja."


Astaga, mulut siapa yang lemes itu😱


__ADS_2