Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Tak Terduga


__ADS_3

Setelah mengobrol cukup lama dengan Zee, El segera berpamitan. Dia sudah mulai punya gambaran tentang apa yang harus dilakukannya.


Hari itu, Zee pulang tidak terlalu sore. Jam kantor pun juga berubah saat bulan puasa seperti saat ini. Dengan penuh semangat, Zee langsung mengendarai mobilnya menuju rumah. Entah mengapa sejak punya anak, Zee selalu saja semangat saat sudah waktunya pulang.


Tak berapa lama kemudian, Zee sudah sampai di rumah. Setelah memarkirkan mobilnya, Zee langsung bergegas memasuki rumah. Terlihat sang putra tengah tidur di atas kasur yang sengaja di gelar di depan televisi di ruang tengah.


Melihat sang putra tengah terlelap, Zee dengan semangat empat limanya langsung bergegas menghampiri. Seperti biasa, dia akan mengganggu tidur Gen hingga membuat putranya tersebut terusik, dan lama kelamaan akan terbangun.


Zee memberikan beberapa kecupan pada pipi gembul putranya tersebut. Tak lupa juga dia menggesek-gesekkan ujung hidungnya pada ujung hidung putranya tersebut. Alhasil, tindakan Zee tersebut membuat Gen terusik.


Tak berapa lama kemudian, Gen tampak merengek karena tidur nyenyaknya terganggu. Kiara yang saat itu tengah berada di dalam kamar untuk menata pakaian yang baru saja di laundry, langsung buru-buru keluar kamar.


Begitu melihat Zee sudah cengar cengir sendiri, Kiara langsung mengerucutkan bibir kesal. Sementara sang putra, sudah mulai menangis sambil beranjak duduk. Tak berapa lama kemudian, Gen sudah berjalan tertatih-tatih menghampiri Kiara sambil merentangkan kedua tangannya minta gendong.

__ADS_1


"Hiks hiks, Ami. Hiks hiks Tedi atal. Tubit tubit tama tecup tecup Jen. Hiks hiks." Gen langsung melaporkan ulah daddynya.


"Uluh uluh, Sayang. Sini Mommy gendong. Cup cup cup jangan nangis, Sayang." Kiara langsung menggendong Gen sambil mengusap-usap punggung putranya tersebut. "Nanti biar Daddy bobok di luar ya, kita bobok di dalam berdua," lanjut Kiara sambil melirik ke arah Zee.


Mendengar ucapan Kiara, Zee langsung mengerucutkan bibir. Tentu saja dia tidak akan terima jika harus tidur di luar kamar. Namun, Zee hanya bisa diam agar tangisan Gen segera berhenti.


Dan, benar saja. Tak berapa lama kemudian, tangisan Gen sudah reda. Dia bahkan sudah lupa dengan apa yang baru saja dilakukan oleh sang daddy. Kini, Gen sudah bersiap mandi dengan Zee sore itu.


Seperti biasa, kedua laki-laki beda generasi tersebut sudah larut dalam permainan busa di dalam kamar mandi. Kiara sudah beberapa kali memperingatkan Zee agar segera menyudahi mandinya. Namun, Gen justru tidak mau beranjak dari kamar mandi. Mau tidak mau, Kiara langsung menggendong putranya tersebut untuk segera menyudahi acara mandinya.


Selesai berbuka puasa dan sholat maghrib, Zee juga bersiap untuk berangkat ke masjid. Dia akan mengikuti tarawih di masjid komplek rumahnya. Awalnya, Gen sudah geger ingin ikut. Namun, belum sempat berangkat ke masjid, dia sudah terlelap saat Kiara memberinya ASI.


Hari berganti hari, tak terasa bulan Ramadhan sudah usai. Kini, hari raya idul fitri pun sudah menanti. Seluruh keluarga besar Zee saling berkumpul di rumah papa Vanno. Mereka juga saling berkunjung ke rumah tetangga.

__ADS_1


Setelah lebaran, aktivitas kembali dilakukan seperti sebelum bulan puasa kemarin. Seperti hari ini, Zee bersiap untuk berangkat ke kantor. Namun, keberangkatan Zee tertunda karena Gen sudah merengek untuk ikut ke kantor.


Mau tidak mau, Zee terpaksa mengajak putranya tersebut ke kantor. Dia tidak tega meninggalkan Gen yang menangis meraung-raung untuk ikut.


"Hati-hati, Mas. Jika Gen sudah rewel, telepon aku segera. Nanti aku akan menyusul ke kantor," ucap Kiara saat Zee berpamitan.


"Iya. Kamu jadi belanja?" 


"Iya, Mas. Sekalian beli popok Gen juga. Sudah hampir habis."


"Yasudah, hati-hati."


Tak berapa lama kemudian, Zee segera berangkat bersama dengan Gen. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kiara. Dia segera berangkat untuk berbelanja. Kali ini, Kiara mengendarai mobil sendiri. Dia sudah terbiasa mengendarai mobil sendiri sejak kuliah.

__ADS_1


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Kiara sudah sampai di supermarket. Dia langsung mengambil trolley dan mulai berbelanja. Namun, ketika sedang memilih buah-buahan, tiba-tiba ada yang menarik lengannya dan mencengkramnya dengan kuat. Sontak saja hal itu membuat Kiara terkejut.


"Eh, ka-kamu?"


__ADS_2