Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 69


__ADS_3

Seluruh keluarga Khanza berbondong-bondong datang ke rumah sakit pagi itu, setelah mendapat kabar dari Al jika Khanza sudah sadar. Mommy Retta tak bisa menahan rasa harunya saat mendapati sang putri telah sadar. Hal yang sama juga dialami oleh daddy Vanno, Ken, dan Gitta. Mereka benar-benar bersyukur dengan kesadaran Khanza.


Hari-hari setelahnya, Khanza memulai pemulihan. Dia dan Al, masih berada di Singapura, sedangkan mommy Retta mau kembali ke Indonesia bersama dengan daddy Vanno.


***


Dua minggu berlalu setelah kepulangan Ken dan Gitta dari Singapura. Kini, aktivitas mereka sudah kembali seperti semula. Rasa syukur rak berhenti mereka lantunkan karena kesembuhan Khanza.


"Mas, bangun, ih. Kenapa belum siap-siap? Nggak ke kantor?" Gitta masih menggoyang-goyang lengan Ken yang saat itu masih bergelung di dalam selimut.


Ken membuka kedua matanya dan menggeliatkan tubuh. Dia berbalik sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Jam berapa, Yang?" tanya Ken sambil menarik tubuh Gitta dan membuatnya jatuh menimpa tubuh Ken.


"Ih, apaan sih Mas. Sudah jam tujuh lewat. Ayo bangun." Gitta masih mencoba bangun dari posisinya.


"Sebentar lagi, Yang. Masih ngantuk dan capek." Ken semakin mengeratkan pelukannya. Dia bahkan sudah menyurukkan kepalanya pada leher sang istri.


Ken memang baru semalam kembali dari Singapura untuk menjenguk Khanza. Dia sampai rumah hampir tengah malam. Jadi, tubuhnya benar-benar masih capek.


"Ihh, apaan sih ini gigit-gigithhh," Gitta menggeliat geli. 


Bukan Ken namanya jika tidak semakin menjadi. Dia sudah mulai aktif dengan tangan bergerilya kesana kemari. Jangan lupakan juga bagian bawahnya yang sudah mulai digesek-gesekkan. Gitta yang digoda pun sudah mulai pasrah. 

__ADS_1


Ken yang melihat sang istri sudah mulai pasrah, langsung bergerak cepat. Dia segera menyambar bibir ranum Gitta dan mulai menye*sapnya, menggoda, hingga membuat Gitta berhasil mengikuti permainan Ken.


Ketika keduanya sudah mulai panas meskipun tidak ada api, tiba-tiba Ken dan Gitta dikejutkan oleh sebuah suara.


"Tediii! Tenapa diditi lehel Ami? (Daddy! Kenapa gigiti leher mommy?)" tanya Zee yang tiba-tiba sudah memasuki kamar mereka.


Ya, Zee memang sering melihat bekas-bekas tanda merah pada leher Gitta dan pabrik nutrisinya. Dia selalu menanyakan dari mana asal tanda merah-merah tersebut. Zee akan menangis meraung-raung saat mendapati pabrik nutrisinya penuh dengan tanda sang daddy.


Seketika Gitta mendorong wajah Ken yang berada pada ceruk lehernya. Dia buru-buru bangkit dari atas tubuh Ken dan langsung duduk. Gitta segera merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan Zee.


"Eh, eng-enggak kok, Sayang. Mommy bangunin Daddy tadi." Gitta memeluk Zee yang sudah menubruk pangkuannya.


Zee masih menatap tajam ke arah Ken yang sudah beranjak bangun.


"Tedi tak boyeh didit i Ami. Ni Ami tu. (Daddy tidak boleh gigiti mommy. Ini mommyku)" zee menatap tajam ke arah sang daddy.


Zee masih tidak terima. Dia menatap tajam ke arah sang daddy. Tangannya sudah mulai membuka kancing baju sang mommy. Saat pabrik nutrisinya berhasil terbuka, Zee langsung berteriak histeris.


"Aaaaa, Teddiii! Tenapa mimi cucu Ji meyah-meyah! Huuaaaa huuaaaa." Zee langsung menangis meraung-raung pagi itu. Gitta hanya bisa mendesahkan napas sebelum berusaha menenangkan sang putra.


Hari itu, Ken memang sengaja berangkat ke kantor agak siang. Dia tidak memiliki banyak pekerjaan. Selain itu, tubuhnya juga terasa sangat letih. Entah mengapa tubuhnya terasa benar-benar lelah dan tidak bersemangat.


Daddy Vanno yang hari itu berada di kantor Ken langsung menghampiri sang putra. Dia segera beranjak menuju ruangan Ken.

__ADS_1


Ceklek.


Daddy Vanno membuka pintu ruang kerja tersebut dan mengedarkan pandangan. Daddy melihat Ken tengah tidur diatas sofa. Daddy Vanno pun menghampiri sang putra.


"Ken, kenapa tidur disini?" Daddy Vanno menggoyang-goyangkan lengan Ken.


Menyadari ada yang mengguncang-guncang tubuhnya, Ken pun membuka kedua mata.


"Dad?"


"Kenapa tidur disini? Kamu sakit?"


Ken pun beringsut duduk dia masih memejamkan kedua matanya.


"Tubuhku sakit semua, Dad. Rasanya lelah sekali."


Daddy Vanno pun memegang kening sang putra. Dia cukup terkejut saat merasakan tubuh Ken panas.


"Kamu sakit, Ken? Badanmu panas sekali ini. Daddy panggilkan Dokter Irwan dulu." Daddy Vanno bergerak mengambil ponsel. Namun, lengannya ditarik oleh Ken.


"Nggak mau, Dad. Aku nggak mau disuntik," rengek Ken. Seperti biasa, dia akan sangat 'ngalem' saat sedang sakit.


"Tapi badan kamu panas ini, Ken. Jika tidak segera di obati, kasihan nanti nularin Zee."

__ADS_1


"Nanti saja minta obatin Gitta untuk menurunkan panas," ucap Ken sambil kembali memejamkan mata.


"Ccckkk, bukannya menurunkan panas kalau sama Gitta. Nambahin panas sih iya."


__ADS_2