
"Kakak tiri?"
Zee menatap wajah kiara lekat-lekat. Seketika pikirannya teringat pada cerita pak Iskandar kemarin tentang pemilik lahan ke empat. Apakah pemilik lahan asli yang dimaksud adalah Kiara ini? batin Zee. Dia masih menatap wajah Kiara dengan tatapan menelisik. Zee bahkan tidak menyadari jika ada darah yang mengalir pada pipinya.
Kiara yang semula menundukkan kepala, memberanikan diri untuk mendongakkan kepala menatap wajah Zee. Tatapan mata mereka bertemu.
Ctaarrrrr. Duaarrr.
Tiba-tiba ada kilat dan suara guntur yang hampir bersamaan. Rupanya, hujan mungkin akan turun sebentar lagi.
Kiara dan Zee yang terkejut buru-buru menepi. Saat itu, posisi mereka sedang berada di tengah jalan makadam yang sudah rusak dan posisi jalananan tersebut sedikit turun dan ada belokan di ujung menuju rumah pemilik lahan yang akan dikunjungi Zee.
"Ada luka di kening kamu. Ikut aku ke rumah biar aku obati." Kiara kembali bersuara sambil masih menatap luka Zee.
"Nggak apa-apa. Nanti aku obati di rumah saja." Zee menolaknya karena ingin segera ke rumah pemilik lahan.
"Tapi nanti bisa infeksi jika dibiarkan terlalu lama. Rumahku tidak jauh, kok. Itu, ada belokan belok kiri."
Zee cukup terkejut mendengarnya. "Eh, kamu tetangga Pak Imam?"
"Iya. Kamu mau menemui Pak Imam?" tanya Kiara.
"Iya."
"Tapi Pak Imam dan keluarganya sedang ke Banyuwangi. Anaknya baru melahirkan. Jadi, rumahnya kosong."
Zee hanya bisa menghembuskan napas berat. Rupanya, kedatangannya malam itu bukan mendapat untung, tapi mendapat buntung.
"Kapan mereka kembali?"
__ADS_1
"Entahlah. Mereka baru berangkat kemarin malam."
Zee hanya mengangguk-anggukkan kepala setelah mendengar penjelasan Kiara.
Melihat Zee tidak juga beranjak pergi, lagi-lagi Kiara menawarkan bantuan untuk mengobati luka Zee. Dia merasa tidak enak karena Zee terluka oleh kakak tirinya.
"Bagaimana? Mau ikut ke rumahku sebentar? Biar aku obati dulu lukanya." Kiara menawarkan bantuan untuk mengobati luka Zee kembali.
Zee pun tidak ada pilihan lain selain mengikuti tawaran Kiara. Dia mengangguk mengiyakan. Setelah itu, Zee mengikuti Kiara berjalan menuju rumahnya. Namun, saat menuruni jalan makadam tersebut, Kaki Kiara tersandung batu hingga membuat tubuhnya terhuyung ke depan.
Zee yang melihat hal itu langsung berusaha menahan tubuh Kiara agar tidak terjatuh. Namun sayang, jalanan yang miring dengan banyak batuan disana, membuat keseimbangan tubuh Zee pun oleng. Sejurus kemudian, tubuh Zee dan Kiara sudah bergulung-gulung pada jalanan menurun tersebut.
Keduanya berguling hingga masuk ke semak-semak yang ditumbuhi oleh rumput gajah. Zee dan Kiara saling meringis kesakitan. Tubuh mereka yang saling berdempetan membuat Zee dan Kiara tersadar.
Belum sempat Zee dan Kiara berpindah posisi, terdengar suara ramai-ramai dari arah atas. Cahaya dari lampu senter pun tampak terlihat. Hingga sebuah suara mengagetkan Zee dan Kiara.
Zee dan Kiara pun cukup terkejut. Mereka buru-buru beranjak berdiri. Punggung dan bahu mereka terasa sakit. Apalagi, Zee. Punggungnya terasa perih. Kemeja yang dipakainya itu sudah robek karena tarikan kakak tiri Kiara.
Beberapa orang yang berkumpul di sana mengarahkan sinar lampu senter ke arah Zee dan Kiara. Tentu saja hal itu membuat keduanya menyilangkan tangan untuk menutupi wajah.
Ada sekitar tujuh orang laki-laki di sana. Dan, salah satunya adalah kakak tiri Kiara. Zee menatap wajah laki-laki itu dengan tatapan sulit terbaca. Sementara Kiara, dia sedikit merapatkan tubuhnya di belakang tubuh Zee.
"Oh, jadi ini laki-laki yang bertanggung jawab untuk proyek resort itu? Cckkk, tidak disangka dia mempunyai punya pikiran meshoommm juga." Salah satu laki-laki di sana mencibir Zee.
Sontak saja Zee langsung meradang. "Apa maksudmu dengan pikiran meshoomm? Kamu kira, apa yang kami lakukan? Kalian tidak lihat kami terjatuh begini?"
"Ccckkk, maling mana ada yang mengaku. Jika kami tidak kesini, kamu pasti sudah menunggangi Kiara."
"Bicara sembarangan!" Zee terlihat sudah sangat kesal. Tatapan matanya tajam dengan rahang mengeras.
__ADS_1
"Nggak usah banyak bicara. Arak saja keliling kampung. Sepasang laki-laki dan perempuan yang nekad akan melakukan perbuatan tidak senonoh." Kali ini kakak tiri Kiara yang bersuara.
"Tutup mulutmu!" Zee benar-benar marah.
"Apa? Kamu marah karena gagal melancarkan aksimu untuk menunggangi Kiara, kan?"
"Apa kamu sudah tidak waras? Dilihat di bagian mana aku berniat untuk melakukan tindakan seperti itu? Kamu nggak lihat baju Kiara masih lengkap. Kemeja depanku juga masih rapi terkancing, hanya bagian belakang bajuku sudah robek karena ulahmu. Kamu pikir, apa yang bisa aku lakukan dengan kondisi seperti ini, hah?"
Para laki-laki tersebut terlihat saling pandang sebelum menjawab Zee.
"Alah alasan. Bisa saja kamu mulai dari belakang." Seru seseorang lainnya.
"Dasar sint*ng! Apa yang dapat dilakukan dengan punggungku, hah?"
Seseorang yang terlihat lebih muda bersuara. "Benar juga, ya. Ngapain buka-bukaan punggung. Cowok kan nggak masalah walaupun masih pakai kemeja. Seharusnya yang dibuka celananya."
Kakak tiri Kiara yang berada di belakangnya langsung menimpuk kepala laki-laki tersebut.
"Diam kamu! Nggak usah ikut ngomong."
Zee dan Kiara menatap hal itu masih dengan tatapan waspada. Hingga sebuah suara berat terdengar dari orang yang paling tua dari mereka.
"Kamu memang wanita mur*h**! Sudah bagus aku menerimamu untuk menjadi calon istri putraku, kamu masih berani-beraninya berselingkuh dengan lurah baru. Dan sekarang, kamu juga bermain-main dengan laki-laki kota ini. Dasar p*r*k!"
Plaakkkk.
\=\=\=
Masih nungguin nggak nih?
__ADS_1