
Beberapa saat kemudian, Gitta dan Zee sudah sampai di butik. Hari itu, Gitta sudah ada janji dengan Mita yang ingin membuat baju seragam untuk keluarganya. Ternyata, Mita sudah ada di sana, dan tentu saja bersama dengan sang calon tunangan Agustino. Zee yang saat itu tengah berada di dalam gendongan Gitta, langsung berteriak heboh saat melihat keberadaan Agustino di sana.
"Ados!"
Gitta hanya bisa menghembuskan napas berat setelah mendengar perkataan sang putra.
"Om, Sayang. Panggil Om Agus." Meskipun Gitta terlihat tidak suka dengan Agustino, namun dia tetap harus mengajarkan sopan santun kepada sang putra.
"Om Adus?" Zee menelengkan kepala ke arah Gitta.
"Iya, Sayang. Tidak boleh hanya panggil nama kepada orang yang lebih tua."
Zee segera mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, Gitta mengajak Mita ke ruangannya. Tentu saja Agus ikut serta. Hingga menjelang siang, Gitta dan Zee harus segera pulang. Mereka harus mempersiapkan keperluan untuk pergi ke Surabaya nanti malam.
Zee yang sudah tertidur dalam perjalanan pulang, langsung digendong Gitta menuju kamar begitu mereka sampai di rumah. Setelah itu, Gitta mulai mempersiapkan keperluan mereka. Ken juga sudah sampai di rumah menjelang pukul tiga sore. Dia juga segera mempersiapkan semua keperluan yang dibutuhkan.
Pesawat mereka akan take off pada pukul delapan malam nanti. Menjelang petang, daddy Vanno terlihat menghampiri rumah Ken setelah pulang dari kantor.
__ADS_1
"Kamu yakin bisa mengatasinya sendiri, Ken?" tanya daddy Vanno saat dia dan sang putra tengah berbicara di ruang tengah.
"In Sha Allah aku bisa, Dad. Kita sudah punya semua surat resminya. Proyek kita legal. Kita juga bekerja sama dengan pemerintah daerah di sana. Jika ada masalah seperti ini, tentu saja ini mengada-ada."
"Kamu benar. Sebenarnya, kamu tidak perlu datang langsung kesana. Ada asisten Daddy yang bisa menghandle semuanya."
"Nggak perlu, Dad. Aku yang bertanggung jawab untuk semua permasalahan ini. Jadi, aku akan turun tangan untuk menyelesaikannya."
Daddy Vanno mengangguk-anggukkan kepala. "Gitta dan Zee ikut?" tanya daddy Vanno kemudian.
"Tentu saja mereka harus ikut." Ken mendengus kesal saat sang daddy menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya.
Ken semakin kesal mendengar perkataan sang daddy. "Memangnya Daddy bisa pergi ke luar kota atau ke luar negeri tanpa Mommy? Jangankan tiga hari, sehari saja Daddy pasti merengek untuk mengajak Mommy."
Kini, giliran daddy Vanno yang mencebikkan bibir. Dia terlihat kesal saat omongannya dibalik oleh sang putra. "Tentu saja Mommy harus ikut. Daddy mana bisa tidur kalau nggak 'koceh' dulu."
Belum sempat Ken menjawab perkataan sang daddy, terdengar teriakan Zee dari dalam. Dia masih berbalut handuk karena baru saja selesai mandi dengan Gitta.
__ADS_1
"Papaaa!"
Seketika daddy Vanno dan Ken menoleh. Senyum daddy Vanno langsung terbit saat melihat sang cucu berada di sana. Apalagi, Zee sudah langsung menghambur pada pelukan daddy Vanno. "Waahh, cucu Papa harum, nih. Baru mandi sama Mommy?" Daddy Vanno menciumi pipi gembul sang cucu.
"Ja." Zee mengangguk-anggukkan kepala. "Ji au ke cuyabaya. (Zee mau ke Surabaya)"
"Eh, Zee mau apa ke Surabaya?"
"Au beyyi ojak congol."
"Eh, congor?"
\=\=\=
Apaan sih Zee?
__ADS_1
Sabar ya, alurnya memang seperti ini. Jangan kaget jika nanti setting cerita kebanyakan di daerah Jawa Timur. ðŸ¤