Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 73


__ADS_3

Sementara di rumah Ken, dia sudah terlihat semakin membaik. Meskipun dia masih memakai infus, namun rasa pusingnya sudah mulai berkurang. Tubuhnya juga tidak demam lagi. Malam itu, Gitta sering terjaga untuk memastikan sang suami tidak membutuhkan sesuatu.


Keesokan pagi setelah sarapan, infus Ken sudah dilepas. Ada perawat khusus yang sengaja datang ke rumah Ken sejak kemarin, untuk membantu memeriksa keadaan Ken dan mengganti infusnya.


"Yang, aku boleh mandi, ya? Lengket semua ini badannya." Ken masih merengek sesaat setelah menyelesaikan sarapannya. Gitta dengan telaten membantu sang suami sarapan dengan menyuapinya.


"Kamu baru sembuh, Mas. Nanti panas lagi."


"Nggak akan, Yang. Aku nggak nyaman ini, beneran."


Gitta hanya bisa pasrah. Entah mengapa sifat Ken jadi mirip seperti Zee. Eh, memang siapa yang menurun siapa ini?


Mau tidak mau, Gitta hanya bisa menuruti keinginan sang suami. Dia membantu Ken untuk menyiapkan keperluan mandinya. Gitta tidak membiarkan Ken mandi dengan air dingin. Dia menyiapkan air hangat untuk sang suami.


"Air hangat, Yang?" tanya Ken saat menyadari air yang disiapkan oleh sang istri.


"Iya. Jangan mandi air dingin, Mas. Pakai air hangat saja."


"Gerah, Yang." Ken masih saja merengek.


"Hanya sebentar. Nanti juga hilang gerahnya."

__ADS_1


Ken hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Meskipun begitu, dia tetap menuruti keinginan sang istri. 


Siang itu, Ken sudah terlihat membaik. Gitta juga sudah menjemput Zee dari rumah daddy Vanno. Saat ini, Zee tengah duduk di pangkuan Ken sambil makan ice creamnya. Ken yang memang belum bekerja, memilih menemani sang putra hari itu.


"Tedi au kim?"


"Nggak mau, Sayang. Buat Zee saja." Ken mengusap-usap surai sang putra.


Zee kembali mengangguk-anggukkan kepala. Dia masih menyendokkan ice cream dan memasukkannya ke dalam mulut. Bibirnya sudah penuh dengan ice cream yang belepotan. Ken benar-benar gemas melihatnya.


"Tedi, Ami ana?"


"Mommy di dapur, Sayang. Zee mau sama mommy?"


Ken menciumi pipi sang putra sambil beranjak menuju dapur untuk mencari Gitta. Namun, langkah kakinya terhenti saat berpapasan dengan asisten rumah tangganya.


"Eh, apa itu, Bi" tanya Ken saat melihat sang asisten rumah tangga membawa sebuah box memasuki rumah.


"Eh, ini ada paket, Mas Ken."


"Untuk siapa?"

__ADS_1


"Disini ada tulisan untuk Ken dan Gitta, Mas."


Kening Ken berkerut. Dia masih menatap box tersebut sambil mengamati alamat yang tertera di sana.


"Benar ini untukku dan Gitta. Tapi tidak ada alamat pengirimnya."


"Iya, Mas Ken. Tidak ada pengirimnya ini."


Selanjutnya, Ken melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk mencari Gitta. Dia segera memberikan Zee yang sudah mulai merengek. Setelah itu, Ken berjalan menuju ruang tengah untuk melihat isi paket yang diperolehnya.


Ken meneliti paket tersebut sebelum membukanya. Tidak ada yang aneh dari paket box berukuran sekitar 60 cm x 60 cm x 60 cm tersebut. Ken segera membuka paket tersebut.


Dan, begitu paket tersebut terbuka, Ken langsung mengerutkan kening. Dia melihat sebuah maket bangunan yang sudah cukup hancur. Meskipun sudah hancur, Ken bisa mengetahui dengan mudah jika itu adalah maket gedung utama GC di Jakarta.


Ada sebuah kertas yang dilipat di sana. Ken membuka lipatan kertas tersebut, dan mulai membacanya.


Bersiap-siaplah. Kita akan bermain-main setelah ini.


Ken mengerutkan keningnya. Belum sempat Ken melipat kembali kertas tersebut, ponselnya sudah bergetar. Dia mengambil ponsel tersebut dan segera menyambungkan panggilan saat melihat nama daddy Vanno tertera di sana.


"Hallo, Dad."

__ADS_1


"Ken, kamu juga dapat paket?"


"Eh?"


__ADS_2