Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 57


__ADS_3

"Jadi, Anda yakin tidak mau melepaskannya? Anda sudah siap dengan segala konsekuensinya?" 


Ken menatap Edrick dengan tatapan santainya. "Tentu saja saya yakin sekali pak Edrick. Justru seharusnya, saya yang bilang seperti itu. Bahkan kepada Pak Danil pun seharusnya saya menanyakan hal itu tadi." Ken menoleh ke arah Danil.


"Anda sebagai perwakilan Tirta Omega, sudah yakin saat datang kemari dengan semua data yang Anda bawa?" tanya Ken sambil menatap Danil dengan tatapan tajamnya. Kali ini, tidak ada tatapan ramah dari Ken. Aura seorang Geraldy langsung keluar saat itu juga.


Kali ini Danil merasa sedikit gentar saat mendapat tatapan tajam dari Ken. Dia menoleh ke arah Edrick sebelum menjawab pertanyaan Ken. "I-iya, Pak. Saya yakin."


"Ckck, Anda mau membawa kasus ini ke ranah hukum begitu? Anda ingin menuntut sesuatu yang menjadi milik orang lain, begitu?"


Entah mengapa Danil mendadak 'ndlongop' saat mendapat pertanyaan dari Ken. Belum sempat Danil menjawab pertanyaan Ken, Ken sudah kembali bersuara.


"Pihak Anda menginginkan sumber air yang ada di selatan untuk perusahaan air minum Anda. Apakah Anda sudah berpikir jika sumber air tersebut sebenarnya diambil dari wilayah kami? Bukankah seharusnya, kami yang menuntut pihak Anda, Pak Danil?" tanya Ken sambil mendengus.


"Eh, i-itu…,"


Ken mencibir samvil menggelengkan kepala. "Jangan khawatir Pak Danil, kami tidak tertarik melakukan hal itu. Justru, sudah berbaik hati untuk membiarkan Tirta Omega menggunakan sumber air di bagian utara. Bahkan, kami membuatkan akses jalan untuk menuju kesana."


"Sedangkan untuk masalah jarak? Apa yang dapat kami lakukan? Lokasi sumber air tersebut memang di bagian utara gunung. Masa iya kami harus membelah gunung jadi dua dan membuat jalan di tengahnya agar kalian bisa lewat? Apa kalian tidak keenakan nanti melewati dua gunung?" ucap Ken.

__ADS_1


Terdengar gelak tawa dari beberapa orang disana setelah menyadari ke arah mana maksud perkataan Ken. Embuh Ken, maksudmu opo.


"Pak Danil, kami menjalankan proyek ini bukan tanpa memikirkan pihak lain. Jika kami tidak memikirkan pihak lain, buat apa kami susah-susah membuatkan akses jalan hanya untuk Tirta Omega? Untuk warga sekitar, kami juga sudah memberikan solusi terbaik. Bahkan, kesepakatan kita waktu itu, sudah jauh melebihi saran dari pihak pemerintah. Jika Anda masih belum percaya, silahkan Anda bisa memeriksa langsung kepada pemerintah setempat."


Ken menoleh ke arah Edrick. Tatapan tajamnya saat ini benar-benar sudah tidak bersahabat lagi. "Dan untuk Pak Edrick, kami mohon maaf. Kami tidak tertarik dengan tawaran Anda."


Sepertinya, jawaban Ken tidak membuat Edrick terkejut. Dia hanya menyunggingkan senyuman sekilas. Namun, senyuman tersebut tidak bertahan lama. Setelahnya, Danil terlihat menerima sebuah panggilan telepon. Wajahnya yang semula tampak pucat, kini terlihat semakin pucat. Keringat sebesar jagung tampak muncul pada dahi dan pelipisnya.


Tak berapa lama kemudian, panggilan telepon terputus. Danil meletakkan ponselnya di atas meja dan menoleh ke arah Edrick. Kedua alis Edrick terangkat seolah meminta penjelasan dari Danil.


"Ehm, i-itu tadi dari Pak Gunawan," ucap Danil.


Sebuah senyuman tampak tersungging dari bibir Edrick. Dia berpikir mereka akan mendapatkan kabar baik dari pemilik Tirta Omega tersebut.


"Ehm, i-itu, tadi Pak Gunawan menyampaikan jika Tirta Omega sudah diakuisisi oleh GC."


Jedeerrrrr.


Edrick dan para pengikut mereka sangat terkejut. Mereka tidak menyangka jika GC benar-benar bertindak sejauh itu. Kedua netra Edrick langsung menatap wajah Ken yang masih tidak menyunggingkan senyumannya. Tatapan tajam Ken benar-benar langsung menghujam dalam ke arah mata para lawannya.

__ADS_1


Glek. Edrick benar-benar merasa kalah telak dari Ken. Dia sama sekali tidak menyangka jika Ken akan menyerang balik seperti itu.


"Saya rasa, pertemuan kali ini berakhir sampai sini. Kalian juga sudah tahu posisi Tirta Omega sekarang. Tidak akan ada lagi permasalahan seperti ini kedepannya. Saya tidak akan main-main jika sampai ada yang berbuat hal-hal aneh yang hanya membuang-buang waktu disini. Saya permisi, selamat siang." Ken mengucapkannya sambil berdiri dan menatap tajam ke arah Edrick, Danil, dan yang lainnya. Jangan tanyakan bagaimana ekspresi Ken saat itu. Dia benar-benar sudah mirip seperti daddy Vanno saat sedang serius bekerja.


Setelah itu, Kwn segera beranjak pulang ke rumah papa Evan. Untuk urusan yang lainnya, dia menyerahkannya kepada Dino dan tim Henry. Ken ingin segera bergegas kembali ke Jakarta. Setidaknya, sore ini mereka harus kembali. Ada banyak sekali pekerjaan yang sudah harus dikerjakan di Jakarta.


Menjelang makan siang, Ken sudah sampai di rumah papa Evan. Dia langsung memarkirkan mobilnya dan berjalan memasuki rumah. Terdengar suara Zee yang tengah bermain di kolam renang. Ken melangkahkan kakinya menuju kolam renang yang berada di samping rumah bagian kanan tersebut.


Zee yang saat itu hanya mengenakan popok yang sudah basah semua, langsung menoleh ke arah Ken. Dia tergopoh-gopoh menghampiri sang daddy yang sudah berdiri di dekat teras tersebut.


"Yyeeey, Tedi cudah puyyang. Yihat, Ji buat koyyam pancin. (Yyeey, Daddy sudah pulang. Lihat, Zee buat kolam pancing)"


Ken berjongkok sambil mengusap wajah Zee yang basah. "Kolam pancing apa, Sayang?"


"Tu, yihat. Ji unya itan yeye, itan toi, itan apus-apus, itan bantal, itan tecil-tecil tu Ted, itan cupi-cupi, cama itan capung," kata Zee sambil menunjukkan kolam renang yang kini sudah berubah menjadi kolam pemancingan dengan segala jenis ikan berkejaran di sana.


"Hheee?"


\=\=\=

__ADS_1


Coba dong, ada yang tahu maksud Zee itu ikan apa saja? 🤭


Kuylah, kasih vote buat Zee. Biar othor semangat upnya. 🤗


__ADS_2