
Gitta dan Zee hanya bisa mencebikkan bibir setelah mendengar perkataan Ken. Mereka sudah sangat hafal dnegan ucapan absurdnya tersebut.
***
Hari-hari pun berlalu. Tak terasa, kini Zee sudah lulus SMA. Dia juga sudah sering menggantikan Ken untuk memegang beberapa proyek kecil dari perusahaan daddynya tersebut.
Kini, Zee sudah kuliah. Dia mengurungkan niatnya untuk kuliah di Singapura seperti sang daddy, karena mommynya menolak memberikan izin. Mau tidak mau, Zee hanya bisa pasrah menuruti keinginan sang mommy.
Memasuki semester dua, Zee mendapat tugas untuk memegang proyek yang ada di Surabaya. Mau tidak mau, hal itu membuat Zee bolak balik Jakarta dan Surabaya.
Seperti libur semester dua ini, Zee harus kembali ke Surabaya. Tepatnya, dia harus ke kota M***** untuk memeriksa lokasi pembangunan proyek terbaru GC. Namun kali ini, Zee tidak pergi sendiri. Ken dan Gitta juga ikut bersamanya. Mereka ingin sekalian liburan akhir pekan, mengingat keberangkatan mereka saat itu adalah menjelang akhir pekan.
"Ngapain Daddy ikut juga, sih?" Zee memprotes sang daddy yang saat itu baru saja turun dari kamarnya.
"Memangnya kenapa jika Daddy dan Mommy ikut?"
"Aku berasa jadi anak kecil yang dikintilin orang tua, Dad." Zee hanya mendengus kesal.
Mendengar gerutuan sang putra, Ken hanya bisa mencebikkan bibirnya.
"Biarin. Bagi kami, kamu tetap anak kecil sebelum kamu memberikan anak kecil kepada kami." Ken menjawab gerutuan sang putra dengan santainya.
"Ccckkk, maksud Daddy, apa? Cucu, begitu?"
"Tentu saja. Memang apalagi?"
__ADS_1
"Sembarangan Daddy kalau ngomong. Memang bagaimana caranya aku kasih cucu? Kawin saja belum." Zee masih mencebikkan bibirnya.
Puk. Ken memukul kepala bagian belakang sang putra karena kesal. Sontak saja Zee langsung mengaduh kesakitan.
"Auuwwwwhhh, apaan sih, Dad? Sakit tau." Zee memprotes tindakan sang daddy.
"Itu mulut sembarangan saja kalau ngomong. Main kawin-kawin saja. Nikah dulu."
Zee yang masih mengusap-usap kepalanya menoleh ke arah Ken dengan bibir mengerucut. "Iya."
Tak berapa lama kemudian, mereka bertiga berangkat ke Surabaya. Menjelang petang, Zee dan keluarganya sudah tiba di Surabaya. Seperti biasa, mereka kembali menginap di rumah mereka. Esok pagi, rencananya Zee akan berangkat menuju kota M.
Setelah makan malam, ponsel Zee berdering. Dia melihat nama sang papa terpampang di layar ponselnya. Zee segera menyambungkan panggilan telepon tersebut.
"Hallo, Zee. Sudah di Surabaya?"
"Sudah, Pa. Tadi sore kami sampai rumah. Ada apa, Pa?"
"Mommy kamu dimana?"
"Di kamar sama Daddy. Ada apa, Pa? Mau bicara sama Mommy?"
"Enggak. Papa mau ngomong sama kamu. Tapi kamu keluar dulu. Pergi ke teras atau kemana agar mommy kamu nggak dengar."
"Eh, memangnya ada apa?"
__ADS_1
"Sudah, kamu keluar dulu. Nanti papa jelaskan."
Zee pun menuruti permintaan sang papa. Dia segera berjalan menuju halaman depan sambil masih menempelkan ponsel di telinganya.
"Hallo, Pa. Ini aku sudah ada di depan."
"Bagus. Begini, Papa mau bilang jika motor yang kemarin kamu mau sudah bisa di antar."
Zee begitu terkejut mendengarnya. Pasalnya, motor tersebut merupakan produk limited edition. "Eh, serius, Pa?"
"Iya. Tapi, Papa masih bingung bagaimana cara bawanya? Kamu juga kan sudah punya motor besar. Daddy dan papa juga masing-masing sudah punya. Bagaimana nanti jika mama dan mommy kamu uring-uringan lagi, kalau kita mendatangan motor-motor itu."
Kening Zee berkerut. Dia masih bingung dengan apa yang disampaikan oleh sang papa. "Motor-motor? Maksudnya apa, Pa? Memangnya berapa motor yang Papa pesan?"
"Tiga."
"Eh, tiga? Kenapa banyak sekali?" Zee terkejut mendengarnya.
"Tentu saja yang dua untuk Papa dan Daddy kamu."
"Lhah?"
\=\=\=
Othor kasih bocoran ya, jodoh Zee dari Jawa Timur lho. Ada yang mau daftar nggak kira-kira? 🤭
__ADS_1