Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 174


__ADS_3

Kiara hanya bisa membulatkan kedua bola mata dan mulutnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika sang suami menginginkan makanan seperti itu.


"A-angsa, Mas? Dimana carinya pagi-pagi begini?" Kiara memutar tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Zee.


Zee menggelengkan kepala. Dia sendiri juga tidak tahu dimana bisa mencari angsa panggang. Apalagi, masih pagi seperti ini. Kalau bebek panggang sih, masih sering ditemukan. Lha ini, angsa. 


"Aku juga nggak tau, Yang. Ehm, aku minta tolong Pak Min dulu, Yang. Siapa tau dia kenal penjual bebek panggang yang bisa panggang angsa." Zee langsung berbalik dan berjalan menuju luar rumah.


Kiara hanya bisa diam mematung menatap kepergian sang suami. 


"Apa maksudnya itu tadi? Penjual bebek panggang yang bisa panggang angsa? Cckkk, mana ada yang seperti itu?" Kiara mendengus kesal saat menyadari ucapan Zee.


Setelah beberapa menit berlalu, Kiara tidak mendapati Zee kembali ke ruang makan. Dia segera beranjak menuju depan. Kiara mengedarkan pandangan dan tidak menemukan keberadaan Pak Min. Mobil Zee pun juga tidak terlihat.


"Sepertinya, Mas Zee dan Pak Min pergi mencari angsa panggang," gumam Kiara. Setelah itu, Kiara langsung kembali masuk ke dalam rumah.


Menjelang pukul sepuluh, Zee dan Pak Min tampak memasuki rumah. Kiara yang saat itu sedang melakukan panggilan video dengan Gitta langsung menoleh. Setelah memastikan jika sang suami sudah datang, Kiara buru-buru berpamitan kepada mertuanya.


Setelah itu, Kiara segera beranjak untuk menghampiri Zee. "Darimana sih, Mas?"


"Cari ini, Yang." Zee menjawab sambil mengangkat bungkusan yang dibawanya. Sebuah senyuman juga tak luntur dari bibirnya.


Kiara mengerutkan kening saat melihat bungkusan yang dibawa Zee.


"Apa itu?"


"Leher Angsa. Tadi aku dan Pak Min cari penjual bebek panggang, tapi mereka tidak punya angsa. Jadi, kami terpaksa ke pasar hewan untuk mencari angsa dan membawanya ke restoran Mommy. Aku minta Chef Nino untuk memasakkannya untukku. Hehehehe," ucap Zee sambil nyengir.


Kiara hanya bisa mendesahkan napas berat ke udara. Sudah dipastikan tingkah absurd sang suami pasti akan membuatnya geleng-geleng kepala.


Setelah itu, Kiara membantu Zee menyiapkan angsa panggang yang ternyata sudah dipotong-potong tersebut. Zee yang sudah sangat kelaparan pun langsung memakannya. Namun, baru beberapa kali suapan, dia sudah terlihat bosan. Zee memilih melanjutkan sarapan yang sempat disiapkan Kiara tadi pagi.


Kiara yang sudah sangat hafal dengan tingkah sang suami, hanya bisa diam memperhatikan. Mau tidak mau, dia harus lebih bersabar menghadapi ngidam Zee. Kiara bersyukur saat ini bukan dirinya yang ngidam untuk makan makanan yang aneh-aneh. Ataukah belum?


***


Hari berganti hari. Kini, usia kandungan Kiara sudah memasuki minggu ke tiga belas. Zee dengan semangat empat lima selalu mengajak Kiara periksa kehamilan.


Jika biasanya ibu hamil akan memeriksakan kandungan satu bulan sekali untuk usia awal-awal kehamilan dan menjadi satu minggu sekali jika mendekati waktu melahirkan, namun hal ini berbeda dengan Zee. Zee selalu mengajak Kiara untuk memeriksakan kandungan sekali atau bahkan dua kali dalam satu minggu.


Kiara sempat menolak keinginan Zee. Namun, dia tidak akan pernah bisa menang berdebat dengan Zee.

__ADS_1


"Mas, aku malu sama Dokter Andara. Dua hari yang lalu kita kan baru dari sana, masa iya hari ini kita kesana lagi?" Kiara masih memanyunkan bibir di samping Zee.


"Kenapa harus malu? Kita kan nggak ngapa-ngapain, Yang. Kita hanya periksa kandungan." Zee tetap tidak mau kalah.


"Jika hanya periksa sih nggak apa-apa, Mas. Tapi, kamu selalu menanyakan hal-hal aneh."


Zee menolehkan kepala sekilas ke arah Kiara. "Mana ada hal-hal aneh, Yang?"


"Ada. Itu buktinya setiap kali datang menemui Dokter Andara, kamu selalu saja bertanya posisi ini, posisi itu, posisi begini, posisi begitu, aman tidak buat dilakukan, Dok? Jika mau bertanya, datang saja sendiri, nggak usah ngajak aku, Mas." Kiara masih dalam mode kesal.


Zee tampak kikuk mendengar gerutuan sang istri. "Mana ada periksa kehamilan tanpa ibu hamil, Yang? Memang mau periksa secara daring?"


"Bukan ibu hamil yang periksa, Mas. Tapi, pelaku yang membuat hamil."


.


.


.


.


Sedikit nostalgia TCP ya, 🤗


Kenzo berjalan menuju pintu utama toko tersebut. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat. Dia mencoba menenangkan diri untuk memasuki tempat tersebut. Ini pertama kali baginya mendatangi gerai pakaian wanita.


Begitu Kenzo masuk ke dalamnya, beberapa pelayan toko yang melihatnya sempat terkejut. Bahkan, beberapa diantara mereka ada yang saling berbisik. Seorang wanita berjalan menghampirinya.


"Excuse me, can I help you?" Tanya seorang wanita yang menghampirinya. Pelayan wanita tersebut menggunakan bahasa Inggris mungkin karena melihat wajah bule Kenzo. Kenzo menoleh menatap pelayan tersebut.


"Yes, sure. Could you help me to find this?" Tanya Kenzo sambil menunjukkan pesan singkat dari Vanya. Sekalian saja pakai bahasa Inggris, biar tidak malu-maluin. Batin Kenzo.


Sementara pelayan wanita itu mengernyitkan dahinya saat membaca pesan Vanya. Pesannya kok pakai bahasa Indonesia? Ah, mungkin orang ini tidak mengerti bahasa Indonesia. Batin wanita itu.


"Of course. Follow me, please." Kata wanita tersebut sambil berjalan menuju bagian pakaian dalam wanita. Kenzo mengikuti wanita itu. 


Beberapa pasang mata memperhatikan Kenzo yang tengah berjalan menuju bagian pakaian dalam wanita. Mereka bahkan saling berbisik dan tersenyum-senyum ke arahnya. Kenzo merutuki dirinya yang tengah berada pada situasi ini. Jika bukan karena Vanya, bisa dipastikan dirinya tidak akan pernah mau masuk ke tempat seperti ini seorang diri.


"This is the place, Sir. And these are the sizes you want." Kata wanita tersebut. Terlihat dua orang wanita juga tengah berada di bagian itu. Keduanya langsung menoleh dan tersenyum genit saat menoleh dan menatap wajah Kenzo. Sementara Kenzo langsung merinding mendapati tatapan genit kedua wanita itu. 


"I want all of these sizes." Kata Kenzo dengan cepat. Dia tidak ingin berlama-lama disana. Kenzo ingin segera pergi dari tempat itu dan menjauh dari tatapan para wanita genit disana.

__ADS_1


Seketika pelayan dan dua orang wanita itu langsung terkejut menatapnya. 


"A-all of these?" Tanya pelayan wanita itu tidak percaya.


"Yes. Can you do it fast?" Tanya Kenzo dengan tatapan tajam.


Seketika pelayan wanita tersebut terkejut dan sedikit takut. Dia segera mengiyakan dan mengambil semua barang yang di maksud Kenzo dan membawanya ke kasir. Kenzo mengikutinya menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Buru-buru pelayan wanita tersebut membantu kasir menghitung belanjaan. Mereka sedikit takut dengan tatapan mata tajam Kenzo.


Seorang wanita berusia sekitar enam puluh tahunan berada di samping Kenzo menunggu giliran. Dia terlihat mengamati belanjaan Kenzo yang semuanya adalah berupa b*a wanita. Dia mengernyitkan dahinya sambil mengamati Kenzo dari atas sampai bawah. Kenzo yang mendapati tatapan aneh dari wanita itu hanya bisa mendengus kesal. Dia benar-benar merutuki dirinya saat ini.


"Mbak, nggak salah masnya kok belanja b*a sebanyak ini. Mau dia pakai sendiri?" Bisik wanita itu pada pelayan toko yang sedang memasukkan belanjaan Kenzo pada kantong belanjanya.


Kenzo bisa mendengarnya dengan jelas. Dia masih berpura-pura tidak memahami bahasa Indonesia.


"Eh, saya tidak tahu Bu. Mungkin buat istrinya." Jawab pelayan toko tersebut.


"Sebanyak ini? Memang berapa istrinya?" Tanya wanita itu lagi. Kenzo benar-benar kesal mendengarnya. Tapi dia tetap berusaha untuk menahan amarahnya.


"Entahlah Bu, mungkin juga buat saudaranya." Kata pelayan wanita itu lagi. Wanita itu kembali menatap Kenzo dari atas sampai bawah.


Kenzo menggertakkan giginya. Dia merasa risih mendapati tatapan dari wanita itu.


"Can you do it faster?" Tanya Kenzo tidak sabar sambil melayangkan tatapan tajamnya.


"Yes, Sir." Kasir dan pelayan wanita itu gelagapan dan sesegera mungkin menyelesaikannya.


Saat masih menunggu, tiba-tiba Reyhan masuk untuk menemui Kenzo. 


"Maaf tuan. Ada telepon dari nyonya." Kata Reyhan sambil memberikan teleponnya. Kenzo segera menerimanya dan menempelkan pada telinganya.


"Halo Ma, ada apa?" Kata Kenzo.


"Astaga, bule jadi-jadian."


****


Hayo, ada yang masih ingat berapa banyak 'kacamata' yang dibeli Kenzo? 🤭


Sudah ada jatah vote, sisihkan vote buat Zee ya. Terima kasih. 🤗


__ADS_1


__ADS_2