
Siang itu, Zee terpaksa berangkat ke kantor sang daddy. Dia tidak mau mendengar ceramah sang mommy lagi jika masih berada di rumah. Setelah uyel-uyel perut Kiara sebentar, Zee berangkat ke kantor. Dia juga hanya memakai celana jeans biru dan kaos putih dengan sepatu ketsnya.
Dengan mengendarai motor besarnya, Zee langsung menuju ke kantor pusat. Dia sudah di tunggu sang daddy di sana. Papa Vanno, juga sudah berada di sana.
Semoga tidak ada acara nasehat menasehati. Othor bisa-bisa mules nanti jika mereka berkumpul. 🤧
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Zee sudah sampai di kantor pusat. Setelah memarkirkan motornya, Zee segera bergegas menuju ruangan sang daddy. Saat itu, bersamaan dengan para karyawan yang baru saja kembali dari istirahat siang. Banyak karyawan yang sudah menunggu lift yang akan membawa mereka ke lantai tempat mereka bekerja.
Zee langsung berjalan menuju lift khusus yang berada di bagian barat lobi. Namun, langkah kakinya terhenti saat sebuah suara memanggil namanya. Zee langsung menoleh dan mendapati seorang laki-laki paruh baya berjalan ke arahnya. Zee mengenal baik laki-laki tersebut.
"Pak Prasojo, apa kabar?" Zee mengulurkan tangan ke arah laki-laki tersebut dan segera di sambut.
"Baik, Zee. Kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, Pak. Ehm, ini Pak Prasojo mau bertemu Daddy?" tanya Zee sambil menoleh ke arah Pak Prasojo dan perempuan yang berdiri di belakangnya bergantian.
__ADS_1
"Sebenarnya, saya ingin bertemu kakek kamu, Zee. Tapi, tadi ditelepon, kakek kamu bilang jika dia ada di kantor pusat. Jadilah saya mampir kesini."
Zee mengangguk-anggukkan kepala mengerti. "Kebetulan kalau begitu. Papa ada di ruangan Daddy. Mari, Pak, barengan saja."
Ajakan Zee tersebut langsung di angguki oleh Pak Prasojo. Selanjutnya, mereka bertiga langsung beranjak menuju ruangan Ken. Pak Prasojo menjelaskan sekilas maksud kedatangannya untuk menemui Papa Vanno. Beliau ingin menjual lahan yang ada di puncak. Dan, Papa Vanno tertarik untuk membelinya.
Beberapa saat kemudian, Zee dan kedua tamunya sudah berada di depan ruangan Ken. Setelah mendapat persetujuan untuk memasuki ruangan tersebut, Zee segera mengajak mereka masuk. Ken dan Papa Vanno menyambut kedatangan Pak Prasojo dengan hangat.
Setelah mereka saling menanyakan kabar, sampailah Pak Prasojo menawarkan lahan perkebunan miliknya kepada Papa Vanno. Zee yang sejak tadi mendengarkan, masih belum bisa menebak mengapa dia diminta datang ke kantor saat itu.
Papa Vanno masih membaca beberapa informasi yang diberikan oleh Pak Prasojo. Tentu saja dia tidak akan langsung menyetujui tawaran itu. Meskipun Papa Vanno sudah mengenal Pak Prasojo, tapi dia hanya beberapa kali terlibat kerjasama dengannya mengenai proyek di Bandung yang juga bekerja sama dengan pemerintah. Dan, itupun sudah terjadi beberapa tahun silam.
"Maaf Pak Pras, bukannya kami menolak. Tapi, kami tidak bisa langsung menyetujui dan menerima tawaran ini. Kami harus memeriksa lokasi dan semua surat-surat yang berhubungan dengan lahan tersebut. Mohon maaf, bukannya kami tidak percaya dengan Anda. Tapi, kami hanya ingin memastikan tidak akan ada ganjalan dan masalah lainnya nanti di belakang. Akan sangat merepotkan jika nanti kami harus mendapati masalah di kemudian hari," ucap Papa Vanno dengan tegas.
Awalnya, Pak Prasojo cukup terkejut mendengar penjelasan Papa Vanno. Namun, dia berusaha memahami maksud papa Vanno dengan lapang dada.
__ADS_1
"Benar, Pak Vanno. Memang sebaiknya begitu. Lalu, apa yang harus kami lakukan untuk membantu Anda?"
Papa Vanno tersenyum sekilas sebelum menjawab pertanyaan Pak Prasojo. "Anda tidak perlu melakukan apa-apa, Pak. Kami akan meminta Zee untuk survey langsung lokasi tersebut. Untuk surat-suratnya, Anda siapkan saja semuanya. Kami punya tim yang akan memeriksanya."
Pak Prasojo setuju dengan usul Papa Vanno. "Baiklah, saya setuju. Nak Zee bisa ditemani putri saya saat melakukan survey nanti," ucap Pak Prasojo sambil memperkenalkan perempuan yang ada di sampingnya tersebut yang ternyata adalah putrinya.
"Tidak usah repot-repot, Pak. Zee bisa melakukannya sendiri. Bisa kan, Zee?" tanya Ken sambil menoleh ke arah sang putra.
"Eh, bisa kok, Dad."
Sialan.
\=\=\=\=
Hhmmm siapa itu?
__ADS_1