Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 63


__ADS_3

Gitta masih menatap perempuan yang ada di depannya tersebut dengan tatapan datarnya sambil melanjutkan perkataannya.


"Harusnya lo itu sadar, suami gue nggak menuntut banyak untuk hukuman lo. Dia bahkan mencabut beberapa tuntutan terhadap bokap lo."


"Dengar Sa, gue bilang sekali lagi, jangan mencoba untuk masuk kembali di kehidupan gue. Lo tau sendiri apa yang dapat dilakukan oleh keluarga suami gue jika mereka tahu lo masih berusaha masuk ke kehidupan gue kembali," kata Gitta sambil beranjak pergi.


Ya, perempuan tersebut adalah Salsa, anak dari paman angkat Gitta. Dulu, Salsa dan keluarganya pernah membuat ulah dengan Gitta hingga mereka harus menerima akibat dari perbuatannya tersebut. Namun, beruntung Ken masih memberikan beberapa pekerjaan untuk keluarga paman angkat Gitta tersebut.


Salsa yang melihat kepergian Gitta hanya bisa mendengus kesal. Dia sudah yakin tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya. Jika Salsa berani macam-macam, bisa dipastikan hidupnya dan keluarganya akan terkena imbasnya.


Menjelang petang, Gitta baru sampai di rumah. Hari itu, dia benar-benar sangat sibuk di butik. Kini, butik Mommy Retta sudah mulai berpindah kepengurusan. Gitta sekarang memegang butik yang berada di Jakarta dan Bandung. Sementara mommy Retta, memegang butik yang berada di Yogyakarta, Surabaya, dan tentu saja butik yang berada di Spanyol dan Dubai.


Gitta melihat mobil Ken sudah terparkir di garasi. Dia juga mendengar suara celotehan sang putra dengan daddynya dari arah belakang. Rupanya, Ken sudah menjemput Zee dari rumah orang tuanya. Gitta langsung melangkahkan kakinya ke belakang rumah.


"Assalamualaikum."


"Wayaikumcayam, Ami dah puyang?" ucap Zee dengan wajah bahagianya. 


Zee yang saat itu tengah duduk di atas perut Ken yang sedang berbaring di atas matras, langsung berdiri menghampiri sang mommy. Zee langsung menghambur ke pelukan Gitta sambil tersenyum lebar.


"Waahhh, Zee sayang sudah wangi nih. Siapa tadi yang memandikan?" tanya Gitta sambil menciumi pipi gembul sang putra.

__ADS_1


"Mbak Pitli."


"Eh, Mbak Fitri ke sini?" tanya Gitta.


"Ja, cama Mama."


Gitta mengangguk-anggukkan kepalanya. Mbak Fitri adalah asisten rumah tangga mommy Retta.


"Zee turun dulu, ya. Mommy mau mandi dulu," kata Gitta sambil hendak menurunkan sang putra.


"Ndak au. Au mimi cucu duyu," jawab Zee sambil langsung membuka kancing baju Gitta.


Tanpa menunggu lama, kancing-kancing baju tersebut sudah terlepas dengan sempurna hingga menunjukkan sebelah balon tiup Gitta terekspos dengan sempurna. Hap. Zee langsung melahapnya dengan rakus seolah dia sudah lama tidak merasakannya.


"Yang, nanti jika sudah nggak menyusui, kamu suntik ya," kata Ken sambil tak mengalihkan pandangan dari apa yang dilakukan oleh putranya.


"Eh, suntik apa?" tanya Gitta bingung.


"Suntik agar balon tiup tetap melembung dan tidak kempes."


Gitta hanya bisa melongo saat mendengar perkataan sang suami. Ingin rasanya Gitta mencubit bibir lemes Ken saat itu juga. Namun, karena ada Zee yang tengah nemplok pada tubuhnya, Gitta hanya bisa bereaksi dengan melayangkan tatapan tajam kepada sang suami.

__ADS_1


"Kamu ini jika ngomong jangan suka ngasal deh, Mas. Sembarangan saja." Gitta masih bersungut-sungut kesal.


Namun, bukan Ken namanya jika pantang menyerah. Dia beringsut mendekati Gitta dan Zee yang saat itu tengah mengenyot pabrik nutrisinya. Ken mendekati telinga Zee dan berbisik.


"Boy, kamu mau balon nggak?" bisik Ken.


Seketika Zee yang matanya sudah mulai sayu pun melepaskan kenyotannya dan menoleh ke arah sang daddy. Gitta yang melihat hal itu langsung menatap wajah Ken untuk memberi peringatan agar tidak main-main. Lagi-lagi Ken tidak menggubris tatapan tajam Gitta.


"Bayyon?" Zee mengulangi ucapan Ken.


"Iya, balon, Sayang. Zee mau?"


Zee langsung mengangguk-anggukkan kepalanya antusias. "Ja. Ji au bayyon."


"Pinter, besok minta Mommy untuk memberikan balon untuk Zee dan Daddy, Okay?"


Gitta masih menatap horor ke arah Ken. "Jangan aneh-aneh, Mas."


Namun, saat menyadari perkataan sang daddy, Zee tidak serta merta mengiyakan. Zee menatap ke arah Ken dengan bibir mengerucut. "Ji au bayyon telbang, Ted. Butan bayyon Ami," Zee mendekap erat balon tiup idola daddynya tersebut.


\=\=\=

__ADS_1


Sebentar lagi, part yang akan nyambung di cerita Khanza ya.


__ADS_2