
Bu Halimah tampak terkejut saat mendengar ucapan Rachel. Beliau menoleh dengan kening berkerut sambil menatap perempuan disampingnya tersebut.
"Ada apa, Bu? Benar kan yang aku bilang? Aku baru akan terkejut jika mereka adalah Geraldy," ucap Rachel sambil menyeringai lebar.
"Lho, memang benar mereka adalah Geraldy. Kamu belum tahu?"
"Hhaa?" Rachel mendadak kaget. Dia hampir tersedak air liurnya sendiri saking terkejutnya. "Bu Halimah serius? Mereka benar-benar Geraldy?"
"Iya. Memang mereka Geraldy, kan? Semua warga disini juga sudah tahu dari dulu. Ya, sejak dulu memang seperti ada hukum tidak tertulis, jadi kami tidak diperkenankan untuk menyebarkan informasi apapun tentang keluarga ini."
"Serius, Bu?" Lagi-lagi Rachel masih belum percaya sepenuhnya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Tentu saja serius. Kami mana mungkin melakukan hal itu. Jangan dikira keluarga Geraldy tidak bisa dengan mudah menemukan siapa yang membocorkan identitas mereka. Dan, kami semua cukup waras untuk tidak melakukannya." Bu Halimah menjelaskan kembali kepada Rachel.
Kedua bahu Rachel langsung luruh. Tubuhnya terasa lemas seolah tak bertulang. Informasi yang baru saja diterimanya benar-benar membuat kepalanya berat.
Rachel benar-benar tidak menyangka jika Zee adalah salah satu anggota keluarga Geraldy yang sangat jarang terekspose. Bahkan, para pencari berita sangat kesulitan mencari informasi tentang Geraldy.
Entah mengapa Rachel tiba-tiba menjadi merinding. Dia bisa membayangkan seberapa besar pengaruh mereka hingga bisa menyembunyikan identitas seperti itu.
Rachel kembali melirik hampers yang berjejer di ruangan sebelah. Dia hanya bisa menghembuskan napas berat saat mengetahui jika hampers tersebut tidak akan ada apa-apanya bagi keluarga Geraldy.
__ADS_1
Acara syukuran empat puluh hari baby Gen pun berjalan dengan lancar. Semua doa terbaik dari para undangan yang hadir juga turut diberikan kepada bayi mungil yang sudah terlelap tersebut.
Menjelang pukul sembilan malam, seluruh tamu undangan sudah mulai berpamitan. Kini, tinggal keluarga besar Geraldy yang masih berada di rumah Ken.
Para laki-laki sedang mengobrol di ruang tengah, sementara para wanita mengobrol di dalam kamar Kiara. Tentu saja mereka masih mengobrol tentang perkembangan Gen.
"Gen masih asi kan, Kia?" tanya Khanza yang saat itu tengah memangku Gen. Sesekali dia menciumi pipi gembul cucunya tersebut. Ya, sekarang Khanza bahkan sudah menjadi Oma karena Zee, anak dari kakaknya sudah memiliki putra.
"Masih, Aunty. Bahkan, dia sulit sekali dibantu susu formula." Kiara menjelaskan.
"Eh, kenapa harus dibantu susu formula?"
"Sebentar lagi Kia mau melanjutkan kuliah, Za. Jika tidak dibantu susu formula, dia khawatir jika Gen akan merengek nanti."
Khanza menoleh ke arah Kia. "Asinya berlebih, kan?"
"Iya, Aunty."
"Pakai asi saja sebisa mungkin, jangan pakai susu formula. Jika berlebih, simpan saja di freezer khusus untuk menyimpan asi," ucap Khanza. Dia cukup mengerti tentang hal itu karena sang suami adalah seorang dokter.
Kia dan yang lainnya mengangguk mengerti. Selanjutnya, Khanza mulai menjelaskan apa dia tahu kepada Kiara. Dengan penuh semangat, Khanza mendengarkan penjelasan sang bibi dan juga mertuanya.
__ADS_1
Setelah cukup lama mengobrol, Khanza dan Gitta segera keluar kamar Kiara dan membiarkan Kia menidurkan Gen. Gitta berjalan beriringan dengan Khanza untuk menemui para lelaki.
"Malam ini menginap disini kan, Za?" tanya Gitta sambil mendudukkan diri di samping Ken.
"Langsung balik Surabaya, Kak. Kasihan anak-anak sedang ujian soalnya."
"Mau kenaikan kelas ya, Aunty?" tanya Zee.
"Iya. Akhir semester ini."
"Hhhmmm. Sebentar lagi lulus SMA nih. Habis itu kuliah. Apa Aunty mau menikahkan Fi dan Fio segera?" tanya Zee.
"Eh, kamu ingin Aunty punya cucu di usia muda, Zee?" tanya Khanza dengan tatapan tajamnya ke arah Zee.
"Lhah, Aunty kan memang sudah punya cucu dari Zee."
"Oh, iya, ya."
\=\=\=
Bocoran cerita Khanza nih. Maafkan jika lama update. Khanzanya proses editing 🙏
__ADS_1