
Menjelang pukul sepuluh malam, El berpamitan. Zee mengantarkannya hingga depan rumah.
"Berapa hari lo di Surabaya?" tanya El sambil berjalan menuju mobilnya.
"Belum tau, El. Gue mah ngikut Daddy gue."
El mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, dia benar-benar berpamitan.
***
Keesokan hari, Zee dan kedua orang tuanya segera bersiap. Hari itu, mereka akan berangkat ke Surabaya. Meskipun Zee masih bersekolah, tapi dia sudah sering ikut membantu pekerjaan daddynya. Lalu, kenapa sang mommy ikut ke Surabaya? Jawabannya, tanyakan kepada Ken saja. Othor juga nggak tahu.
Menjelang makan siang, Zee dan kedua orang tuanya sudah sampai di Surabaya. Seperti biasa, mereka langsung menuju rumah Ken yang ada di Surabaya.
"Jam berapa Daddy janjian untuk bertemu mereka?" tanya Zee sambil merebahkan diri di atas sofa panjang yang berada di ruang tengah disusul oleh Ken.
"Jam tiga. Kamu istirahat saja dulu. Nanti Daddy bangunin."
"Eh, yakin mau istirahat? Nggak nunggu makan siang dulu?" Gitta yang baru saja keluar dari kamar menghampiri suami dan putranya.
"Tidur saja bentar, Mom. Nanti bangunin kalau sudah siap. Aku ngantuk." Zee sudah mulai memejamkan mata. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ken.
Dua laki-laki beda generasi tersebut sudah mulai terlelap di atas sofa. Bahkan, mereka tidak membersihkan diri dulu. Namun, kali ini Gitta memaklumi jika suami dan putranya tersebut pasti kecapekan. Gitta melihat semalam Zee harus lembur mengerjakan tugas sekolahnya untuk hari Selasa dan Rabu. Dia khawatir jika hari Senin belum kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Setelah itu, Gitta segera beranjak ke dapur. Di rumah tersebut, memang ada sepasang suami istri yang bertugas sebagai asisten rumah tangga dan satpam yang menjaga keamanan rumah selama Ken dan keluarganya tidak berada di Surabaya.
Tak berapa lama kemudian, Gitta membangunkan putra dan suaminya untuk membersihkan diri. Setelah itu, mereka segera makan siang bersama.
Menjelang pukul dua siang, Ken dan Zee segera berangkat menuju lokasi pembangunan proyek mereka. Kali ini, Ken bekerja sama dengan pihak swasta daerah setempat untuk membangun sebuah apartemen yang ramah lingkungan.
Ken sudah membuat janji untuk bertemu di sebuah restoran, tak jauh dari lokasi yang rencananya akan dibangun apartemen. Zee yang saat itu sedang menyetir, segera memarkirkan kendaraannya di tempat parkir yang tersedia.
"Disini tempatnya, Dad?" tanya Zee sambil menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan.
"Iya. Ayo turun."
Zee dan Ken segera turun dari kendaraan dan berjalan memasuki restoran tersebut. Setelah menanyakan kepada petugas resepsionis, ternyata mereka sudah ditunggu kedatangannya di meja bagian utara. Ken dan Zee segera beranjak menuju tempat yang dimaksud.
Di sana, tampak seorang wanita dan seorang laki-laki langsung berdiri menyambut kedatangan Ken dan Zee.
"Terima kasih."
"Silahkan duduk, Pak."
Ken dan Zee segera mengambil kursi berdampingan. Kini, mereka berempat sudah duduk berhadapan. Ken memulai pembicaraan setelahnya.
"Kalau boleh tau, Anda ini…?" Ken menggantung pertanyaannya.
__ADS_1
Wanita tersebut tersenyum manis sambil menggeser kursinya. "Saya adalah Donita Rahadi, sekretaris Pak Anton, dan ini adalah Pak Bastian, penanggung jawab proyek ini, Pak. Kami adalah perwakilan dari Laksana Industry."
Ken mengangguk-anggukkan kepala. Dia memang baru mengetahui jika Pak Antonio, pimpinan Laksana Industry, akan mewakilkan pertemuan mereka hari itu. Hal itu baru di ketahui Ken sesaat setelah makan siangnya tadi. Pak Anton, mengalami kecelakaan ringan karena terpeleset dari tangga rumahnya. Dia harus dilarikan ke rumah sakit karena cedera pergelangan kaki.
Setelah itu, obrolan mulai dilakukan. Ken dan Zee saling mengutarakan keinginan mereka. Berhubung saat ini adalah pertemuan awal, tentu saja semua rencana masih dalam bentuk draf kasar. Setelah ini, mereka akan mulai membicarakan detail konsep dan kesepakatan bersama.
"Baiklah, Pak Ken. Kami cukup puas dengan apa yang Anda berdua sampaikan. Kami akan melaporkan semua pembicaraan kita sore ini kepada Pak Anton dan tim. Besok, kita bisa langsung survey lokasi. Bagaimana, Pak?"
"Baiklah. Saya setuju, Pak."
Setelah itu, mereka berempat berpisah. Ken dan Zee langsung bergegas kembali ke rumah. Namun, ketika melewati minimarket yang terletak tak jauh dari rumah, Zee melihat sang mommy tengah menaiki ojek online dengan membawa belanjaan. Dia sedang berada di boncengan abang-abang ojek berjaket hijau tersebut. Gitta sama sekali tidak mengetahui jika Ken dan Zee melihatnya.
"Sepertinya itu Mommy, Dad."
Ken yang saat itu tengah mengotak atik ponselnya, seketika mendongakkan kepala. "Mana?"
"Itu. Yang ada di boncengan tukang ojek itu bukannya Momny, Dad?" Zee menunjukkan tukang ojek yang dimaksud.
Ken yang melihat hal itu langsung membulatkan kedua mata dan mulutnya.
"Berhenti!"
\=\=\=
__ADS_1
Aye aye 💃💃
Ken mau apa itu?