
Zee hanya bisa mendesahkan napas berat saat melihat putranya menangis histeris. Dia langsung menoleh ke arah wajah-wajah para peserta meeting yang mendadak ikut panik.
"Tolong balas sapaan, Gen," ucap Zee.
Seketika orang-orang tersebut mengerti dan menganggukkan kepala. Mereka segera mengangkat tangan dan melambai ke arah Gen. Jangan lupakan senyuman dan sapaan yang dibuat seimut mungkin untuk membalas sapaan Gen.
"Hallo, Gen."
"Hallo."
"Hallo, Gen, anak pinter."
"Hallo, Gen, Sayang."
Mendengar sapaan dari semua orang yang ada di ruang rapat tersebut, seketika tangis Gen langsung berhenti bahkan sebelum Zee mengucapkan sepatah kata pun.
Dengan wajah yang masih dipenuhi air mata, Gen membalas kembali sapaan mereka.
"Aaooo. Emuuaahhh." Gen bahkan memberikan gerakan ciuman jauh untuk mereka.
Zee hanya bisa mendesahkan napas berat. Setelah itu, dia mengambil kembali botol susu Gen dan meminta asistennya untuk mengganti yang baru.
__ADS_1
Zee menurunkan Gen di atas meja yang ada di depannya dengan mainan buku gambar binatang kesukaannya. Setelah Gen tenang, Zee baru bisa konsentrasi dengan rapat hari itu.
"Saya minta maaf jika Gen mengganggu meeting kita hari ini. Saya terpaksa mengajak Gen karena istri saya sedang ada jadwal kuliah yang tidak bisa ditinggal. Selain itu, orang tua saya juga sedang tidak ada di Jakarta," ucap Zee meminta maaf.
"Tidak apa-apa, Mas Zee. Kami bisa memakluminya, kok," ucap salah seorang peserta meeting.
Setelah itu, meeting bisa di mulai. Zee bukannya tidak rewel selama meeting berlangsung, namun Zee bisa dengan mudah menarik perhatian putranya tersebut hingga tidak lagi merengek.
Baru saat menjelang makan siang, Gen sudah mulai merengek karena mengantuk. Beruntung meeting hari itu pun juga sudah selesai.
Zee membawa Gen kembali ke ruangannya. Gen benar-benar sudah mengantuk. Setelah membuatkan susu untuk Gen, Zee segera membawa putranya tersebut ke ruangan pribadinya. Zee menidurkan sang putra sambil menepuk-nepuk punggungnya. Tak berapa lama kemudian, Gen sudah berhasil terlelap.
Zee memastikan putranya tersebut nyaman dalam tidur siangnya. Baru setelah itu, Zee berani keluar kamar.
"Ada apa, Mbak?" tanya Zee. Ya, dia memang memanggil Riska dengan sebutan Mbak, karena usianya jauh lebih tua dari Zee.
"Maaf, Mas Zee saya masuk tanpa menunggu izin. Saya ingin memberitahu jika ada yang memaksa ingin bertemu dengan Anda."
"Siapa?" Kening Zee berkerut. Pasalnya, dia tidak merasa memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang hari itu.
"Saya kurang tahu, Mas Zee. Dia orang asing yang memaksa ingin bertemu dengan Mas Zee."
__ADS_1
"Orang asing? Siapa, sih?" Zee semakin penasaran. "Baiklah. Suruh dia masuk."
"Eh, apa tidak apa-apa? Ini waktunya makan siang lho, Mas Zee."
"Nggak apa-apa, Mbak. Suruh dia masuk. Kamu makan siang saja."
Riska hanya bisa mengangguk. Setelah itu, Riska segera beranjak keluar dari ruangan Zee dan meminta tamu yang ingin menemui Zee segera masuk.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu ruang kerja Zee. Zee pun segera mempersilahkan masuk tamunya tersebut.
Begitu si tamu membuka pintu dan berjalan masuk, Zee masih tidak bisa mengenali siapa tamunya tersebut.
"Hallo, are you Mr. Geraldy?" tanya bule tersebut sambil mengulurkan tangan.
"Yes. And, you?" Zee membalas uluran tangan tersebut dan balik bertanya.
"Edward Jackson."
•••
Siapa sih itu?
__ADS_1
Sambil nunggu up, bisa ngintipin cerita baru othor ya.
Lihat di profil othor untuk judulnya. Terima kasih.