
"Sama, El. Dulu, Mommy ku juga yang paling berat melepaskanku untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Mungkin, semua perempuan pasti merasakan berat saat anak-anaknya minta izin untuk tinggal jauh darinya."
El menyetujui ucapan Zee. Dia juga berpikiran seperti itu.
"Kamu benar, Zee. Mungkin memang seperti itu. Apalagi, kita kan anak tunggal. Jadi, mereka merasa jauh lebih berat melepaskan kita," ucap El.
"Iya."
"Tapi, mungkin kali ini berbeda, Zee. Lo kan sudah menikah dan punya anak. Mungkin, mommy lo akan ngizinin jika lo mau lanjut kuliah ke luar negeri. Bagaimana? Lo nggak tertarik lanjut kuliah bareng gue?"
Zee menatap wajah sahabatnya tersebut sambil berpikir. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh El. Orang tuanya kemungkinan besar akan mengizinkan Zee untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Apalagi, sekarang sudah ada Gen yang bisa dijadikan 'mainan' oleh mommynya.
Namun, kali ini justru Zee yang sepertinya enggan jika melanjutkan kuliah di luar negeri. Apalagi, jika harus berjauhan dengan sang istri. Alasannya? Ya, tahu sendiri lah. Othor suka ngawur jika jelasin nanti. 🤧
"Sepertinya, gue belum bisa jika harus melanjutkan kuliah ke luar negeri, El. Gue baru lulus S1, sementara istri gue, baru mau daftar kuliah. Apalagi, sekarang sudah ada anak diantara kami. Rasanya, nggak etis banget jika gue paksain lanjut S2 sekarang."
__ADS_1
"Gue nggak mau egois dengan mementingkan diri gue sendiri, El. Dan, belum lagi jika nanti, karena kesibukan kita masing-masing untuk mengerjakan tugas kuliah, harus mengorbankan Gen. Kami jadi banyak meninggalkan Gen."
"Gue nggak mau jika hal itu sampai terjadi, El. Setidaknya, jika ada yang kuliah diantara kami, itu satu-satu dulu. Kami bisa saling bantu dan berbagi tugas untuk menjaga Gen. Gue nggak mau anak gue merasa jauh dari orang tuanya nanti," jelas Zee panjang lebar.
El menganggukkan kepala mengerti. Dia salut dengan sahabatnya tersebut yang sudah menjadi seorang ayah. Zee menjadi jauh lebih bijaksana dengan pemikirannya ke depan.
"Gue salut dengan pemikiran lo, Zee. Nggak nyangka jika lo bisa berpikir sampai sejauh itu," ucap El sambil tersenyum bangga.
Zee langsung mendengus kesal setelah mendengar ucapan sang sahabat.
"Cckkk, apaan salut-salut segala. Bilang aja lo jika ucapan gue seperti ucapan bapack-bapack," jawab Zee kesal.
"Lah, emang benar kan sekarang lo sudah jadi bapak, Zee. Lupa apa sengaja dilupain, nih?"
Lagi-lagi Zee hanya menatap tajam ke arah El. Mulutnya masih komat kamit melafalkan mantra gerutuan kepada El.
__ADS_1
Setelah itu, obrolan dua orang sahabat tersebut kembali dilanjutkan. Siang itu, El juga memberitahu jika dia akan berangkat ke luar negeri dua hari setelah acara wisuda di kampus mereka.
Zee yang mendengar penjelasan El langsung merasa terkejut. Pasalnya, Zee tidak menyangka jika El akan berangkat secepat itu.
Obrolan kedua sahabat tersebut berakhir saat panggilan telepon dari Omanya El terdengar. Dia diminta untuk menjemput Omanya tersebut di rumah sang tante. Mau tidak mau, El segera berpamitan.
Setelah kepergian El, Zee langsung bersemangat untuk kembali ke kamar. Dia berniat melanjutkan tidur siang setengah sorenya tersebut. Mumpung dia ada di rumah.
Ceklek.
Zee membuka pintu kamar dan langsung melihat sang putra tengah bermain-main di atas tempat tidurnya dengan Kiara.
"Lho, Yang, kenapa Gen dibangunin? Tidurin lagi gih. Gantian aku yang dikelonin, dong."
"Astaga, anak pertama masih saja rewel."
__ADS_1
\=\=\=
Masih sepi nih. Kasih dukungan banyak-banyak ya, biar othor semangat up meski gantian ma yang lain. 🤧