Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 32


__ADS_3

Drrttttt drrrtttt drrtttttt.


Terdengar suara ponsel Mbak Risa. Dia segera mengambil ponsel yang berada di dalam saku celana tersebut dan menggeser ikon berwarna hijau untuk menyambungkan panggilan.


"Iya, hallo."


"...."


"Baik, tunggu sebentar. Saya akan segera turun untuk menjemputnya."


Panggilan telepon tersebut terputus. Mbak Risa segera menoleh ke arah Zee.


"Zee, tunggu sebentar ya, nanti Mbak Risa suapin lagi, ya."


"Au ana?" Zee tampak bingung saat melihat mbak Risa hendak pergi.


"Mbak Risa mau ke bawah jemput Ellen. Nanti mbak Risa kenalkan kepada Zee. Okay?"


"Ote." Zee mengangguk-anggukkan kepala. Entah dia mengerti atau tidak dengan perkataan mbak Risa tersebut.


Gitta yang melihat mbak Risa berjalan menuju pintu langsung menggelengkan kepala. "Kenapa kalian semua menolak dipanggil 'tante' sama Zee, sih?" ucap Gitta.


"Kami nggak mau terlihat tua, Gitt," jawab mbak Risa sambil melangkah keluar dari ruangan Gitta tersebut.


Mbak Risa hendak menjemput putrinya, Ellen, yang sudah datang dari les membaca. Mbak Risa memang memasukkan Ellen pada tempat kursus membaca setelah pulang sekolah. Dia memilih tempat kursus yang memang memberikan fasilitas antar jemput. Tentunya, yang juga dapat dipercaya.


Tak berapa lama kemudian, mbak Risa terlihat memasuki ruangan Gitta dengan menggandeng seorang anak perempuan yang berusia sekitar empat tahun. Namun, mbak Risa tidak menemukan keberadaan Zee dan Gitta di dalamnya. 

__ADS_1


Mbak Risa mendengar suara kucuran air dan suara berisik dari kamar mandi. Mbak Risa meyakini Gitta sedang memandikan Zee yang sudah belepotan makanan tersebut, mengingat mereka akan ada acara setelah ini.


Mbak Risa mengajak Ellen, putrinya, duduk di sofa. Seperti biasa, dia akan mengulang sebentar pelajaran apa yang didapat sang putri dari sekolah dan tempat kursus.


Sambil memperhatikan sang putri sedang mengeluarkan bukunya, Mbak Risa memberikan air minum kepada putrinya tersebut.


"Coba, hari ini Adik belajar apa?" tanya Mbak Risa saat sang putri mulai mengeluarkan buku pelajarannya dari dalam tas.


"Belajar baca kata-kata yang ada di kartu, Ma. Aku diberi lima kartu untuk belajar di rumah," jawab anak perempuan tersebut.


"Waahhh, coba Mama mau lihat dong."


Terlihat Ellen mengambil lima kartu yang dia maksudkan tersebut. Dia memberikannya kepada sang mama.


"Baiklah, mari kita belajar membaca ini pelan-pelan. Siap?"


"Coba pelan-pelan, ya. S-E dibaca?"


"Se"


"Bagus. Selanjutnya D-A dibaca?"


"Da"


"Ada P di belakang sendiri jadinya?"


"Dap."

__ADS_1


"Pinter, kalau digabung jadi?"


"Dapsun."


😲😲😲


Mbak Risa langsung melongo mendengar jawaban sang putri. Dia benar-benar bingung bagaimana caranya membuat sang putri bisa membaca. Karena sudah cukup stres, akhirnya mbak Risa membereskan peralatan belajar sang putri. Dia juga tidak mau terlalu memaksa sang putri agar langsung bisa.


Tak berapa lama kemudian, terlihat Gitta sudah keluar dari kamar mandi sambil menggendong Zee yang dibalut dengan handuk. Ya, dia memang baru saja memandikan Zee karena tubuh putranta tersebut sudah belepotan makanan dan susu.


"Eh, Ellen sudah pulang?" sapa Gitta sambil berjalan ke arah sofa bed untuk menurunkan Zee.


"Sudah, Tante. Itu siapa?" Tanya gadis kecil tersebut sambil menunjuk ke arah Zee.


"Oh, ini Zee, anak Tante. Nanti kalian kenalan, ya. Biar bisa berteman." Gitta menatap Ellen sambil mengulas senyumannya.


Ellen tampak mengangguk-anggukkan kepala. Ellen memang belum pernah bertemu dengan Zee. Biasanya, Zee akan ikut Gitta ke butik pada pagi hari. Sedangkan Ellen masih sekolah. Hari ini, sekolah Ellen sedang libur dua hari, karena ada agenda untuk siswa TK B. Jadi, dia hanya ikut kursus dan ke butik.


Setelah berganti baju, Zee dan Ellen tampak berkenalan. Mereka sudah langsung akrab setelahnya. Tak berapa lama kemudian, Ken datang untuk menjemput Gitta dan Zee. Mereka harus ke rumah orang tua Al siang itu.


Saat dalam perjalanan, mereka cukup terjebak macet karena sudah memasuki jam makan siang. Zee yang sudah nemplok pada pabrik nutrisinya, sesekali menoleh ke arah sang daddy. Seolah tau jika sang daddy selalu mupeng melihatnya, Zee selalu menggoda daddynya. Gitta selalu dibuat pusing dengan tingkah kedua laki-laki beda generasi tersebut.


Ketika mobil yang dikendarai Ken berhenti di sebuah perempatan karena lampu lalu lintas berwarna merah, Zee menoleh ke luar jendela. Kedua netranya menangkap sosok yang tidak asing baginya.


"Ados!"


\=\=\=\=

__ADS_1


Adooos Adoooosss.


__ADS_2