Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 227


__ADS_3

Keesokan pagi, Zee sudah berada di depan rumah untuk mencuci motornya. Hari ini, dia berencana pergi ke kampus untuk menyelesaikan urusannya.


Ken yang pagi itu baru saja lari pagi, sudah terlihat pulang dan menghampiri sang putra yang sedang mencuci motor.


"Jadi ke kampus hari ini?" tanya Ken saat sudah berada di dekat sang putra.


"Iya, Dad. Biar cepat beres."


"Langsung lanjut S2?"


"Ehm, nggak dulu, deh. Gantian dulu sama Kia. Kasihan Gen nanti jika orang tuanya semuanya kuliah."


Ken mengangguk-anggukkan kepala. "Bagus. Setidaknya ada salah satu yang bisa saling bantu jaga Gen jika yang satu sedang sibuk dengan tugas kuliah."


"Iya, Dad."


Setelahnya, Ken berjalan memasuki rumah. Dia melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 06.56 pagi. Ken berjalan menghampiri Gitta yang sudah berkutat di dapur memberikan arahan dan sesekali ikut turun tangan membantu membuatkan sarapan.


"Masak apa, Yang?" tanya Ken sambil melongokkan kepala di belakang bahu Gitta.


"Tuh, perkedel kentang sama jamur."


"Itu, ada perkedel jagung juga, Yang." Ken menunjuk ke samping Gitta.

__ADS_1


"Buat Daddy, Mas. Semalam Daddy minta dibuatkan bakwan jagung karena melihat ada jagung muda di dalam kulkas."


"Kok aku nggak dibuatkan juga, Yang." Ken langsung mengerucutkan bibir.


Menyadari jika sang suami tengah merajuk, Gitta langsung menoleh.


"Kamu ini kebiasaan deh, Mas. Jagungnya tinggal sedikit, kasihan Daddy juga jarang-jarang dibuatkan, Mas."


Ken hanya bisa mendengus kesal. Belum sempat Ken menyahuti ucapan sang istri, terdengar sebuah suara ponsel berbunyi dari atas meja dapur. 


"Ponsel siapa itu, Yang?" tanya Ken.


"Entahlah. Mungkin ponsel Kia. Dia sedang memandikan Gen. Coba kamu lihat, Mas. Siapa tahu penting."


"Ferdi?" gumam Ken.


Karena penasaran apakah Ferdi kakak tiri Kiara yang menghubungi, Ken langsung mengambil ponsel tersebut dan menggeser ikon berwarna hijau untuk menyambungkan panggilan. 


"Hallo, Kia. Aku minta tolong. Tolong bantu aku. Aku tidak bisa lari lagi. Orang-orang itu dan para polisi mengejarku. Aku butuh bantuan untuk sembunyi. Tolong aku, Kia." Ferdi langsung mengoceh. Dia tidak tahu jika saat itu yang mengangkat panggilan teleponnya adalah Ken.


Ken masih diam. Dia mengerutkan kening saat mendengar ucapan Ferdi.


Hhmmm, rupanya benar si Ferdi, kakak tiri Kiara. Setelah kemarin berani menelepon Kia, masih berani juga dia menghubungi Kiara lagi," batin Ken.

__ADS_1


Ken buru-buru mengambil ponselnya dari dalam saku celana pendeknya. Dia mengetikkan sesuatu diponselnya tersebut. Beberapa saat kemudian, muncullah jawaban disana.


Tahan dua menit lagi, Pak. Saya akan melacak keberadaan Ferdi - tulis balasan dari Juan.


Ya, Ken menghubungi Juan setelah mengetahui siapa yang menghubungi Kiara. Setelah itu, Ken masih diam tak bersuara.


Gitta yang baru saja datang untuk menyajikan sarapan, langsung berjalan menghampiri sang suami. Dia hendak bertanya, tapi Ken langsung menghentikan ucapannya.


Karena tidak mendapat jawaban, Ferdi kembali bersuara. "Kia, kamu masih disana, kan? Tolong bantu aku. Aku tidak tau harus kemana lagi. Aku juga tidak mungkin kembali ke desa."


Ken mendapatkan balasan dari Juan kurang dari dua menit kemudian. Setelah memastikan hal itu, Ken baru berani bersuara.


"Jika tidak bisa kembali ke desa, kembali saja ke Rahmatullah," ucap Ken.


Sontak saja Ferdi langsung tersedak di seberang sana. Dia cukup kaget setelah mendengar suara laki-laki.


"Si-siapa ini?"


"Ini siapa? Ini siapa?" (Baca sambil nyanyi)


\=\=\=


Bantu promote cerita ini juga ya, biar banyak yang mampir. Kasih like, komen dan vote banyak-banyak, biar othor semangat. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2