
Beberapa saat kemudian, Pak Iskandar bergegas pergi ke rumah putranya untuk meminta sang cucu menemani Zee malam itu. Sebelum mengantarkan sang cucu ke rumah orang tuanya, Pak Iskandar juga sempat membelikan makan malam untuk Zee.
Hingga setelah maghrib, Pak Iskandar juga sudah datang kembali ke rumah orang tuanya bersama dengan sang cucu.
"Mas Zee, perkenalkan ini Ilham, cucu daya." Pak Iskandar memperkenalkan Ilham, cucu laki-lakinya yang berusia sepuluh tahun tersebut.
"Kamu kelas berapa?" tanya Zee setelah mereka berkenalan.
"Kelas empat, Om." Ilham menjawab pertanyaan Zee sambil membantu sang kakek menyiapkan makan malam.
"Nggak usah panggil, Om. Aku belum setua itu," jawab Zee.
Ilham tampak bingung. Dia menoleh ke arah sang kakek. Pak Iskandar tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Zee yang saat itu tengah duduk di kursi ruang makan, memperhatikan pak Iskandar dan juga Ilham yang terlihat sangat cekatan mempersiapkan makan malam.
Setelah semua siap, Pak Iskandar segera pamit undur diri. Zee pun mempersilahkannya. Selanjutnya, Zee mengajak Ilham untuk makan malam bersama. Awalnya, Ilham menolak, karena dia mengaku sudah makan. Namun, setelah Zee memaksanya, akhirnya Ilham menuruti permintaan tersebut.
"Kamu berapa bersaudara?" tanya Zee di sela-sela aktivitas makan malamnya.
"Tiga bersaudara, Mas. Kakak saya, laki-laki, kelas sebelas. Dan adik saya perempuan baru empat tahun." Ya, akhirnya Ilham memanggil Zee dengan panggilan Mas Zee, seperti sang kakek.
Zee mengangguk-anggukkan kepala. "Lalu, kenapa kakek kamu tadi tidak meminta kakak kamu saja yang menemaniku?"
"Kakak baru pulang ngantar panen ketela sama ayah, Mas. Belum bersih-bersih dan belum menurunkan pesanan tetangga. Kasihan nanti Mas Zee kelamaan menunggu."
Zee tampak terkejut mendengar penjelasan Ilham. Dia cukup kagum saat mendengar ada anak remaja masih mau bersusah payah membantu orang tuanya bekerja.
"Kamu juga sering membantu ayah?" tanya Zee.
__ADS_1
"Kalau mengantar panen sih nggak sering, Mas. Tapi, biasanya saya membantu mencari pakan kambing-kambing ayah sepulang sekolah."
Zee kembali mengangguk-anggukkan kepala. "Memangnya kamu nggak mainan sama teman-teman kamu yang lainnya sepulang sekolah?"
"Main sih, Mas. Hampir setiap hari aku main. Tapi, tidak terlalu lama. Kata ayah, main sih boleh, tapi jangan terus-terusan setiap hari. Khawatir gedenya jadi malas. Hehehe."
"Memangnya, kamu biasa main apa?" Zee penasaran.
"Ep ep, Mas. Hehehe." Ilham tampak nyengir saat menjawab pertanyaan Zee.
"Kamu ponya ponsel?"
"Punya. Ayah membelikan kami ponsel kok, Mas. Tapi ya, itu. Paketannya juga dijatah sama ayah. Hehehe."
"Jadi karena itu kamu tidak bisa bermain lama dengan teman-temanmu?"
"Nggak pakai wifi?"
"Pakai. Tapi disini nggak ada yang gratis, Mas. Sekali nebeng wifi, bayarnya tiga ribu satu jamnya. Kalau dua jam, baru lima ribu. Mending uangnya aku pakai buat beli bakso."
Zee kembali mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, obrolan kembali mereka lanjutkan hingga makan malam selesai. Ilham dengan cekatan langsung membereskan sisa-sisa makan malam mereka. Rupanya, anak itu sudah biasa melakukan pekerjaan seperti itu.
Setelah menyelesaikan aktivitasnya, Ilham langsung menuju ruang tengah untuk menonton televisi. Rupanya, dia menyukai sepak bola. Saat itu, memang sedang ditayangkan pertandingan liga Italia. Dan, Zee lagi-lagi di buat terkejut saat mengetahui Ilham juga mengidolakan klub hitam merah seperti dirinya.
Malam itu, Zee dan Ilham menonton pertandingan sepak bola bersama. Obrolan ringan pun menemani malam mereka, hingga akhirnya mereka sama-sama terlelap di ruang tengah rumah tersebut.
Pagi hari, Pak Iskandar sudah menjemput Ilham untuk sekolah. Meskipun Zee sedang libur semester, namun sekolah Ilham masih masuk. Pak Iskandar juga membawakan sarapan untuk Zee. Beruntung Zee membawa baju ganti. Mommynya tersebut seperti punya firasat jika dia harus menginap.
Siang hari, Zee dan pak Ilham bergegas mendatangi rumah warga yang bermasalah tersebut. Jika haris menunggu lagi, Zee tidak punya banyak waktu.
__ADS_1
Loksai rumah keempat warga tersebut berada di desa sebelah. Pak Iskandar dengan setia mengantarkan Zee menuju rumah warga tersebut.
Berhubung keempat warga tersebut masih bersaudara dan rumah mereka juga berdekatan, pak Iskandar mengantarkan Zee ke rumah orang yang lebih tua di antara mereka.
Kedatangan Zee dan pak Iskandar di sambut dengan ekspresi wajah dingin dari si empunya rumah. Meskipun begitu, Zee dan pak Iskandar tetap dipersilahkan masuk.
"Jadi, apa yang Anda berdua inginkan dengan datang ke rumah saya?"
Zee dan pak Iskandar saling pandang. Mereka sedikit bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh laki-laki yang ada di depannya tersebut.
"Sebentar, bukannya Anda yang ingin bertemu dengan saya?" tanya Zee.
"Aku? Untuk apa?"
Zee dan pak Iskandar tampak kebingungan. Setelah itu, pak Iskandar yang mengambil alih pembicaraan.
"Begini, Pak Danu. Bukankah Anda dan keluarga Anda menghendaki untuk bertemu dengan Mas Zee ini selaku pemilik proyek. Mengapa Anda kelihatan bingung?"
Laki-laki yang bernama Danu tersebut menoleh ke arah Zee. Dia terlihat mencibir saat menyadari usia Zee masih terlihat sangat muda. Apalagi, penampilannya saat itu benar-benar menunjukkan usianya.
"Oh, jadi ini pemilik proyek itu? Kami sekeluarga ingin menaikkan harga lahan kami. Kami ingin kenaikan harga sebesar dua kali lipat."
Zee yang sudah menduga hal itu langsung tersenyum. Daddynya sudah menduga hal ini sebelumnya.
"Yakin, Anda mau menaikkan harga dua kali lipat? Mengapa baru meminta sekarang? Kenapa Anda tidak memintanya dulu sebelum menandatangani surat pernyataan bermaterai itu?"
\=\=\=
Sabar dulu, jodohnya Zee setelah acara 'engkel-engkelan' ini ya.
__ADS_1