
Gitta cukup terkejut dengan ucapan sang suami. Namun, tiba-tiba air mata luruh begitu saja saat melihat netra Ken sudah terbuka dan sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Gitta langsung memeluk leher sang suami dan terisak disana.
"Kamu sudah sadar, Mas? Hiks hiks hiks." Gitta masih memeluk leher Ken dengan erat. Wajahnya bahkan langsung di surukkan pada ceruk leher Ken.
Dengan tangan kirinya yang tidak mendapat infus, Ken mengusap punggung Gitta dengan lembut.
"Ssttt, nggak usah nangis, Yang. Aku nggak apa-apa, kok."
Gitta masih saja menangis sesenggukan. Namun, setelah beberapa saat kemudian, dia segera melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang membasahi pipi dan juga kedua matanya. Gitta menatap wajah Ken sambil menangkup kedua pipinya.
"I love you, Mas. I love you, so much. Maafkan aku tidak membalas ucapanmu tadi pagi. Kamu tau, aku tadi menangis karena takut tidak bisa membalasnya. Hiks hiks." Tangis Gitta kembali luluh saat dia mendaratkan beberapa kecupan singkat pada bibir Ken.
Ken tersenyum saat mendengar ucapan dan tindakan Gitta. Dia menarik tubuh Gitta dan memeluknya dengan erat.
"Kamu itu ngomong apa sih, Yang. Tanpa kamu jawab pun aku tau jika kamu mencintaiku. Cup cup cup." Ken mendaratkan beberapa kecupan bertubi-tubi pada pucuk kepala Gitta.
"Tapi aku biasanya membalasnya, Mas. Rasanya tidak nyaman sekali jika sampai kamu tidak sadar dan aku belum menjawabnya."
Sontak saja ucapan Gitta tersebut membuat Ken kesal. "Apa-apaan itu? Apa maksudnya tidak sadar kembali? Kamu ingin aku tidak sadar terus, Yang?"
__ADS_1
Gitta menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil memeluk tubuh sang suami. "Tidak, tentu saja tidak."
Ken mendesahkan napas beratnya. "Maafkan aku membuat kamu cemas, Yang. Aku juga tidak tau kenapa bisa sampai pingsan."
Gitta segera mengangkat wajah dan mengusap air matanya. "Aku sangat khawatir, Mas. Aku nggak tau jika kamu punya usus buntu. Hiks hiks."
"Ssttt, sudah, sudah. Jangan menangis lagi. Sekarang kan sudah di operasi. Nggak usah terlalu khawatir, yang penting, bukan Kj yang buntu, kan?" Ken masih sempat menggoda Gitta sambil menaik turunkan alisnya.
Mendengar ucapan sang suami, Gitta hanya bisa mendengus kesal. Dia segera beranjak untuk memanggil dokter dan memberitahu jika Ken sudah sadar. Gitta memilih untuk berjalan keluar ruang perawatan daripada menekan tombol darurat.
Setelah kepergian Gitta, Ken langsung meringis. Dia mulai merasakan sedikit perih di bagian perutnya. Dia benar-benar berusaha untuk terlihat tegar di depan Gitta agar tidak membuat khawatir sang istri.
Beberapa saat kemudian, Gitta terlihat kembali bersama dengan Dokter Robin dan perawat. Dokter Robin langsung memeriksa keadaan Ken, sementara Gitta menunggu diluar ruang perawatan setelah Ken memberikan kode kepada Dokter Robin untuk meminta Gitta keluar.
Setelah cukup memeriksa keadaan Ken, Dokter Robin dan perawat segera keluar ruang perawatan. Gitta juga segera memasuki ruang perawatan untuk menemani sang suami.
"Bagaimana, Mas? Apa ada yang sakit?" tanya Gitta sambil mengusap surai hitam Ken.
"Nggak ada, Yang. Tapi, perutnya mau di elus-elus." Ken sudah kembali ke mode ngalem bin nyebelin.
__ADS_1
Gitta langsung mencebikkan bibir. Namun, segera dia menuruti keinginan sang suami. Gitta mengusap-usap perut Ken yang bukan bekas operasi.
Ken mencoba memejamkan mata saat merasakan usapan tangan Gitta. Namun, beberapa saat kemudian, kedua matanya langsung terbuka. Ken menoleh ke arah Gitta.
"Ada apa, Mas?"
"Bawahan dikit, Yang. Elus yang bawah juga sekalian. Kasihan dia sudah ingusan."
Kira-kira jika berada di dekat Ken, mau apa ya?
a. peyuk
b. tium
c. gebuk
d. …… (isi sendiri)
Bagi yang belum mampir ke cerita othor The CEO's Proposal (TCP), silahkan mampir, ya. Ceritanya memang buanyak, soalnya ada beberapa generasi disana. Othor jadikan satu, nggak dipisah seperti generasi Geraldy.
__ADS_1
Ada gesreknya, thor? Hehehe, bagi yang sudah terbiasa baca cerita othor, pasti sudah hafal 🤭
Cuss kepoin ya, gratis 🤗