Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 154


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, kini Zee harus bersiap untuk menggantikan daddy dan papanya untuk urusan kantor. Namun, Zee tetaplah Zee. Dia tidak akan mau berpakaian formal seperti daddy atau papanya jika ke kantor. Zee tetap memakai celana jean dan kemeja lengan panjang yang sudah dilipat hingga siku. Zee juga memakai sepatu kets biasa saat ke kantor. Meskipun begitu, tidak akan ada yang berani mengomentari penampilan Zee.


"Nanti pulang apa menginap disana, Mas?" tanya Kiara saat mengekori sang suami saat hendak keluar rumah.


"Belum tau, Yang. Jika cepat selesai, aku akan langsung pulang. Jika masih belum selesai, kemungkinan aku akan menginap. Tidak apa-apa, ya?" Zee berbalik dan menatap wajah Kiara yang sudah mulai bersedih. Kiara juga sudah mulai mengeluarkan air mata. Entah mengapa dia menjadi lebih sensitif saat hamil.


"Iya, Mas."


Zee mendesahkan napas ke udara. Selama beberapa hari ini, dia sudah mulai terbiasa dengan emosi Kiara yang sangat cepat berubah. Zee bahkan juga sudah bertanya kepada sang mommy mengenai perubahan emosi Kiara tersebut. Beruntung Zee sudah mendapat wejangan dan wanti-wanti dari sang mommy untuk terus bersabar menghadapi istri yang sedang hamil.


Zee langsung memeluk Kiara dan menghujami wajahnya dengan banyak kecupan. Zee sudah mulai mengetahui jika hal itu bisa langsung membuat mood sang istri membaik. Dan, hal itu benar-benar langsung berhasil. Terbukti Kiara langsung bisa tersenyum cerah saat melepaskan pelukan sang suami.


"Hati-hati, Mas. Segera kasih kabar begitu sampai di sana."


Zee tersenyum sambil mengusap pipi Kiara dan mengangguk. "Iya. Nanti aku akan langsung kasih kabar begitu sampai di sana." Setelah mengatakannya, Zee langsung menundukkan kepala dan menciumi perut Kiara. Dia ingin menyapa calon buah hatinya. "Jaga mommy baik-baik, ya. Jangan rewel. Dan ingat, jangan biarkan mommy banyak bergerak, okay? Cup cup cup." Zee meninggalkan beberapa kecupan pada perut Kiara.


Kiara yang sudah mulai terbiasa dengan tingkah Zee, hanya bisa mengulas senyuman. Hatinya selalu menghangat setiap kali sang suami melakukan hal seperti itu.


Setelah cukup berpamitan, Zee segera berangkat menuju puncak. Hari itu, dia berangkat ke puncak dengan ditemani oleh Johan, salah satu staf asisten sang daddy. 

__ADS_1


Menjelang siang, Zee dan Johan sudah tiba di puncak. Zee langsung menuju ke villa keluarganya untuk beristirahat sebentar. Jam dua siang nanti, dia ada janji untuk menggantikan sang papa untuk menghadiri pertemuan.


"Om, sudah mendapat telepon dari sekretaris Pak Prasojo?" tanya Zee begitu sampai di villa keluarganya.


"Sudah, Mas Zee. Mereka ingin membuat janji untuk bertemu besok pagi," jawab Johan.


"Nggak bisa hari ini sekalian?" Zee tampak keberatan. Jika Prasojo menghendaki pertemuan esok hari, itu berarti dia harus menginap semalam di sana. Dan, Zee merasa enggan meninggalkan sang istri terlalu lama.


"Hari ini jadwalnya cukup padat, Mas Zee. Pertemuan kali ini pasti akan membahas banyak hal. Jadi, bisa dipastikan akan berlangsung sampai malam," jelas Johan.


Zee hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Dia juga tidak mungkin meninggalkan tanggung jawab yang sudah diberikan kepadanya. Meskipun Zee masih cukup muda, namun Zee sudah cukup baik memahami urusan pekerjaan. Satu hal yang benar-benar diwarisi oleh Zee dari daddy dan papanya dalam pekerjaan adalah ketegasan dan sikap tidak mudah diintimidasi. Karena itu pula, Ken dan papa Vanno memberikan kepercayaan kepada Zee untuk menghandle pekerjaan mereka.


"Hallo, Mas. Sudah sampai?" tanya Kiara begitu panggilan video tersebut sudah terhubung.


"Ini baru sampai, Yang. Kamu baru mandi?" tanya Zee saat melihat sang istri tengah memakai bathrobe dan sebuah handuk membungkus rambutnya.


"Eh, iya, Mas. Gerah banget ini."


"Buka, dong." Zee tampak antusias saat melihat sang istri baru selesai mandi.

__ADS_1


"Eh, buka jendela?"


Zee mengerucutkan bibir. "Cckk, bukan. Buka bathrobe maksudnya."


"Eh, buka bathrobe? Ngapain? I-itu dibelakang Mas Zee ada Om Johan," Kiara menunjuk ke arah layar ponselnya.


Zee buru-buru menoleh dan mendapati asisten daddynya tersebut sudah berada di sana.


"Om Johan ngapain disini? Ngintipin orang pacaran ya?" tanya Zee kesal.


"Saya kan sudah sejak tadi di sini, Mas. Saya buat kopi." Johan menunjukkan cangkir kopinya kepada Zee.


"Kok aku nggak lihat ada Om Johan disini?" 


"Biasa, Mas. Jika orang sedang kasmaran itu, nggak akan sadar orang disekitarnya. Mereka akan dianggap tiang listrik. Hehehe."


Zee mencebikkan bibir sambil menatap ke arah layar ponselnya kembali. 


\=\=\=\=

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.


__ADS_2