Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 103


__ADS_3

Ken dan Zee masih berada di depan masjid. Mereka berdua menunggu Yono dan yang lainnya untuk membicarakan masalah lahan yang akan dijadikan untuk resort.


"Kalian ingin berbicara dengan pemilik lahan?" kali ini Yono yang bersuara. Dia masih menatap Ken dan Zee bergantian.


"Iya. Dimana kita bisa bicara?" Ken bertanya.


Yono menoleh ke arah Danu yang kebetulan berada di sana. Danu pun menganggukkan kepala mengerti.


"Mari, kita bicara di rumah saya saja." Danu menawarkan dan langsung disetujui oleh Ken dan juga Zee.


Mereka segera beranjak menuju rumah Danu. Zee yang memang sudah pernah mengunjungi rumah Danu, langsung mengemudikan mobilnya ke sana. Ketika dalam perjalanan, Zee bertanya kepada sang daddy.


"Apa yang harus kita lakukan, Dad?"


"Kita ikuti mau mereka, Zee. Jika mereka tetap meminta tambahan harga, kita lepas. Tentu saja mereka juga harus membayar pelanggaran kesepakatan. Namun, jika mereka tetap meneruskan kesepakatan, kita buat hitam diatas putih segera."


Zee mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Tak berapa lama kemudian, Zee dan Ken sudah sampai di rumah Danu. Mereka yang menggunakan sepeda motor, tentu saja sudah tiba lebih dulu. Yono juga terlihat ada di sana. Entah apa maksudnya orang tersebut ikut.


Ken dan Zee segera dipersilahkan untuk memasuki rumah Danu. Ada delapan orang yang berada di sana termasuk Ken dan juga Zee. Rupanya, ada dua orang lain lagi selain pemilik lahan. Meskipun begitu, Ken dan juga Zee tidak mempermasalahkan hal itu.


"Baiklah, Bapak-bapak. Kedatangan kami kemari adalah untuk memperjelas tentang kesepakatan kita sebelum ini. Langsung saja, kami ingin meminta kepastian tentang tanah Bapak-bapak semua. Saya yakin, Anda semua pasti sudah memikirkan hal ini dengan baik. Bagaimana? Apa keputusan Bapak-bapak?" Ken langsung bertanya.


Keempat orang pemilik lahan langsung saling pandang. Zee masih menatap sengit ke arah Ferdi, kakak tiri Kiara. Dia masih terlihat kesal karena ulah Ferdi semalam.


Tampak Danu menoleh sekilas ke arah Yono. Kali ini, tatapan wajah Danu sedikit melunak. Dia tidak segarang kemarin saat menemui Zee. Hal yang sama juga dilakukan oleh dua orang lainnya.


"Ehm, sa-saya akan tetap melanjutkan kesepakatan kita, Pak." Danu menundukkan kepala saat mengatakannya.


Yono langsung terkesiap setelah mendengar perkataan Danu. Dia sama sekali tidak menyangka jika Danu akan mengatakan hal itu.


"Apa maksud kamu?! Bukannya kamu sudah sepakat akan melakukan seperti perkataanku kemarin, hah?!" Yono langsung meledak emosi.


Belum sempat Danu menjawab pertanyaan Yono, seorang laki-laki yang lainnya bersuara. "Maaf, Pak Yono. Kami tidak bisa menuruti permintaan anda. Jika kami membatalkan kesepakatan, kami harus mengembalikan uang muka dan sekaligus membayar denda pelanggaran kesepakatan. Apa jika kami membatalkan kesepakatan, anda bersedia membayar dendanya?"

__ADS_1


Tampak Yono sedikit terkejut dengan perkataan laki-laki itu. Dia menoleh ke arah Ken dan Zee, beserta keempat laki-laki pemilik lahan. 


Ferdi juga tampak gelisah. Namun, dia masih cukup tahu diri untuk tidak melakukan hal-hal konyol yang akan merugikannya. Bagi Ferdi, Zee tidak meminta hak Kiara saja sudah bagus. Eh, apa mungkin belum? batin Ferdi. Dia semakin gelisah.


Ken sudah menduga apa yang terjadi. Dia yang memang sudah mengetahui jika keempat orang tersebut termakan hasutan, langsung bersuara.


"Apa Bapak-bapak ini sudah yakin dengan keputusan anda? Jika memang benar sudah yakin, nanti sore akan datang pengacara kami untuk menyelesaikan masalah ini."


"Iya, Pak." Jawab keempat orang tersebut bersamaan. Mereka terlihat tidak mempedulikan Yono.


Ken mengangguk-anggukkan kepala. "Baiklah. Kita sepakat kalau begitu. Bapak-bapak sudah dengar perkataan putra saya kemarin. Jika anda semua minta tambahan harga, maaf kami tidak bisa. Itu sudah menyalahi kesepakatan. Kami akan melepasnya. Dan, tentu saja anda semua harus mengembalikan uang beserta dendanya."


"Sedangkan jika anda semua sepakat dengan kesepakatan kita dulu, kami akan tetap menjalankannya. Namun, tentu saja ada hitam diatas putih. Saya tidak mau ada masalah seperti ini terulang lagi. Dan ingat, saya tidak akan pernah bermain-main dengan ucapan saya." Ken menatap orang-orang yang berada di sana dengan tatapan tajamnya. Tidak ada raut wajah bercanda, yang ada hanyalah tatapan mata serius. Bahkan, terdengar gertakan gigi Ken hingga membuat orang-orang yang berada di sana mengkerut takut.


"I-iya, Pak." Keempat orang tersebut merasakan aura yang berbeda saat Ken berbicara dengan tegas seperti itu. Bahkan, mereka merasa seperti tengah disidang. Hanya untuk menarik napas dan menghembuskannya saja, mereka terlihat khawatir jika sampai berisik. Benar-benar suasana yang sangat mendebarkan.


Ken juga masih mengintimidasi Yono dengan tatapannya. Sama seperti yang lainnya, Yono juga merasakan aura yang berbeda dari Ken. Entah mengapa bisa seperti itu. Mendadak perutnya terasa tidak enak. Entah karena tegang atau karena lapar.


"Setelah ini, kita kemana, Dad?" tanya Zee saat dalam perjalanan menuju rumah pak Iskandar.


"Kita ke kota. Cari hotel."


"Eh, ngapain?" Zee cukup terkejut mendengar perkataan sang daddy.


Ken menoleh sekilas ke arah sang putra sambil mencebikkan bibir.


"Memangnya kamu mau icip-icip di rumah orang?"


Zee mengerutkan kening bingung. "Icip-icip apa?"


"Tentu saja "si kembar menggemaskan" yang dibawa-bawa istri kamu."


Sontak saja Zee langsung mengerti perkataan sang daddy. Dia juga menjadi ingat jika dirinya sudah menikah sekarang. Zee hanya bisa mendesahkan napas ke udara.

__ADS_1


"Apa itu "si kembar menggemaskan"? Maksud daddy Degan milik Kiara?"


\=\=\=


Othor kasih bocoran nih ya.


Zee kecil


Oh tidak, Om Coyuuss cedang ain cama tiyek 😱



Apa cih anggil-anggil Ji. Ji tium anti.



Zee dewasa


Semoga tidak mewarisi gen keluarganya




Kiara 


Semoga bisa menjadi pawang generasi keempat Geraldy




Mohon maaf jika kurang sesuai dengan ekspektasi 🤧

__ADS_1


__ADS_2