Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 177


__ADS_3

Dokter Andara hanya bisa memijat-mijat pelipisnya. Entah mengapa kepalanya terasa nyut-nyutan. Beberapa kali dokter kandungan tersebut terlihat menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya pelan-pelan. Dokter Andara benar-benar berusaha keras menahan kesabaran.


"Mas Zee, Mbak Kia, kalian boleh melakukan gaya apapun, asal memperhatikan kondisi ibu hamil dan janin. Jangan melakukan posisi kayang atau terbang yang bisa membuat janin bermasalah," ucap dokter Andara. Beliau terlihat sudah sangat lelah.


"Untuk selanjutnya, saya kira pemeriksaan hari ini sudah selesai. Vitamin yang kemarin juga masih, kan?" tanya Dokter Andara yang segera di angguki oleh Kiara.


"Baiklah, jika tidak ada yang perlu ditanyakan lagi, kalian boleh pulang." Dokter Andara terpaksa meminta Zee dan Kiara segera pergi. Jika sampai diskusi aneh ini dilanjutkan, bisa-bisa Zee akan menunjukkan gaya yang dimaksudnya secara langsung. Dan, tentu saja hal itu akan membuat dokter Andara terkena serangan jantung.


Saat Zee hendak bersuara, Kiara buru-buru menggenggam tangannya. Kiara sudah bisa langsung memahami instruksi dokter Andara. Dia buru-buru berpamitan dan langsung menarik tangan Zee untuk segera keluar dari ruangan pemeriksaan tersebut.


Namun, saat Kiara dan Zee hendak mencapai pintu ruang pemeriksaan tersebut, dokter Andara memanggil mereka.


"Mas Zee, pemeriksaan selanjutnya bulan depan, ya. Kasihan Mbak Kia jika hampir setiap tiga hari sekali di ajak kesini," ucap Dokter Andara sambil mengulas senyuman.


Zee pun hanya bisa nyengir sambil menganggukkan kepala. Sementara Kiara, dia langsung menundukkan kepala dan berlalu begitu saja. Dia benar-benar malu. 

__ADS_1


Zee langsung mengejar langkah kaki Kiara yang berjalan cukup cepat. Begitu sampai di samping Kiara, Zee langsung menggenggam tangan sang istri dan menuntunnya menuju tempat parkir.


"Jangan terlalu cepat jalannya, Yang. Ingat, harus pelan-pelan. Ada baby yang harus diperhatikan," ucap Zee sambil mengusap-usap perut Kiara.


Kiara menoleh sekilas sebelum menjawab ucapan Zee. "Aku malu jika lama-lama berada di sana, Mas. Aku benar-benar sudah nggak punya muka lagi untuk bertemu dengan Dokter Andara."


"Eh, memangnya kenapa?" Zee masih belum menyadari penyebab kekesalan Kiara.


"Masih tanya kenapa? Semua gara-gara kamu, Mas. Jika kamu tidak menanyakan hal-hal aneh seperti itu, aku pasti akan dengan senang hati datang kesini. Tapi, karena pertanyaan-pertanyaan kamu yang mengejutkan itu, aku jadi malu."


Kiara hanya bisa mendengus kesal. Dia sudah terlalu lelah menjawab pertanyaan Zee. Setelah itu, mereka langsung beranjak pulang.


Sementara itu di sebuah supermarket, terlihat sepasang laki-laki dan perempuan paruh baya yang sedang berbelanja. Mereka terlihat memilih beberapa buah yang masih segar-segar.


"Banyakin makan sayur-sayuran dan buah, Mas. Biar tetap sehat dan bugar," ucap sang perempuan.

__ADS_1


"Iya. Jangankan sayur dan buah. Jamu pun aku siap meminumnya agar tetap bugar, Yang."


Sebuah cubitan mendarat pada pinggang sang laki-laki.


"Aduuuhh, Yang. Kenapa kebiasaan kamu yang suka cubit ini nggak hilang-hilang sih? Sudah mau punya cicit juga, ih."


"Lagian Mas Vanno yang suka ngasal. Ada-ada saja. Kalau jamu yang kamu minum itu sih beda. Bukan jamu untuk tambah sehat, tapi tambah tenaga." 


Ya, pasangan tersebut adalah Papa Vanno dan Mama Retta. Kakek dan nenek Zee tersebut tengah berbelanja mingguan di supermarket. Belum sempat Papa Vanno menyahuti ucapan sang istri, terdengar sebuah suara menginterupsi mereka.


"Retta?"


Mendengar suara seorang laki-laki menyapanya, sontak saja Mama Retta menoleh. Kedua bola mata dan mulutnya langsung membesar saat melihat siapa laki-laki yang berada di depannya tersebut.


"Eh,"

__ADS_1


Ehhmmm, siapa ya? 🤔


__ADS_2