Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 263 - Kedatangan Sahabat


__ADS_3

Siang itu, Zee menunggu sang sahabat. Siapa lagi jika bukan El. Zee masih bertanya-tanya bagaimana sahabatnya itu bisa menikah secepat itu. Pasalnya, Zee tidak pernah melihat atau mendengar jika El sedang dekat dengan seorang perempuan.


Atau jangan-jangan, memang dirinya yang telah melewatkan sesuatu? Hal itu yang dipikirkan oleh Zee sejak tadi.


Setelah makan siang, El sudah tiba di kantor Zee. Saat itu, bukan kali pertama El datang ke kantor Zee. Dulu, saat masih kuliah bersama, El juga sudah sering mampir ke kantor Zee.


Kening Zee berkerut saat melihat pakaian formal El. Saat itu, El memang memakai celana jean berwarna hitam dengan kemeja putih. Zee yang tahu, tidak biasanya El mau memakai kemeja.


"Dari mana lo? Kenapa pakai kemeja segala?" tanya Zee sesaat setelah El mendudukkan diri di sofa yang ada di ruangan Zee.


"Gue habis foto buat buku nikah," jawab Rl sambil mengambil botol air minum yang sudah disiapkan oleh Zee.


Zee masih mengamati ekspresi sahabatnya itu. Dia mencari kebohongan di sana. Namun, Zee sama sekali tidak menemukan kebohongan itu. Biasanya, jika El berbohong, ujung bibirnya akan sering berkedut. Dan, kali ini Zee tidak melihat hal itu.


"Ini lo seriusan mau nikah, El?" tanya Zee untuk memastikan kebenarannya.


El meletakkan botol air minum dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menghela napas dalam-dalam sebelum mulai menjelaskan kepada Zee.


"Iya. Gue serius mau nikah. Lusa nikahan gue."

__ADS_1


"Hah? Kenapa secepat itu? Lo sudah kelepasan celap celupin anak orang begitu?" tanya Zee dengan ekspresi tanpa dosa.


El langsung mendengus kesal setelah mendengar ucapan sahabatnya itu. El segera melempar majalah yang ada di atas meja ke arah Zee.


"Sialaan! Mana mungkin gue ngelakuin itu?"


Zee menangkap majalah yang berhasil dilempar El sambil mengerucutkan bibir.


"Jika bukan seperti itu, kenapa lo nikah cepet-cepet. Seperti tidak ada hari lain lagi saja. Ngapain buru-buru nikah. Mana ini hanya tinggal dua hari lagi."


El menoleh dan menatap wajah sahabatnya itu dengan kening berkerut.


"Cckkk. Masih mending gue nikah ada jarak empat hari. Lha elo, nikah sehari jadi. Ngebet banget mau segera celap celup, Mas." Kini, gantian El yang menyindir sahabatnya itu.


"Sekarang, jelaskan bagaimana ceritanya lo bisa menikah secepat ini. Tapi, tunggu dulu. Lo mau mau nikah sama siapa ini?" tanya Zee.


El menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Zee.


"Gue mau nikah sama Fara."

__ADS_1


Kedua bola mata El langsung membulat dengan sempurna. Dia cukup terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh El.


"Fara? Fara yang kapan hari lo ajak ke rumah gue?" tanya Zee memastikan.


"Hhhmmm."


"Kok bisa lo nikah sama dia? Bukannya lo cinta sama Revina, El?"


"Cckkk. Itu dulu. Dan, gue juga nggak yakin jika yang gue rasakan ke Revina itu cinta. Selama di luar negeri, gue banyak memikirkan hal ini. Dan, seperti kata lo dulu, gue yakin apa yang gue rasakan ke Revina itu bukan cinta, tapi bentuk bentuk kebiasaan karena kita sering menghabiskan waktu bersama."


"Lo yakin dengan apa yang lo katakan?"


"Ya, nggak yakin juga, sih. Tapi, gue benar-benar sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi kepada Revina."


Zee mengangguk-anggukkan kepala. Dan, dia merasa bersyukur jika apa yang dirasakan oleh El kepada Revina itu bisa dihilangkannya. Zee sebenarnya tidak merasa nyaman jika persahabatan mereka melibatkan perasaan yang berbeda. Dan, Zee cukup bersyukur jika El sudah bisa mengubah rasa hatinya itu.


"Lalu, bagaimana lo bisa mau nikah sama Fara? Kalian nggak kena grebek, kan?"


•••

__ADS_1


Hhhh, dikira grebek seperti cerita keluarganya kali ya.


Jangan lupa sisakan satu vote buat Zee ya. Mohon maaf upnya gantian.


__ADS_2