Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 40


__ADS_3

"Ituuutttt, Mi. Au ituuuttt." Zee langsung menoleh dan merengek kepada sang mommy.


"Sayang, Mommy hanya sebentar kok. Zee disini sebentar sama Mamang, ya." 


"Tak au. Ji au ituuttt."


"Mommy nggak lama, Sayang."


"Ji au ituutt. Ji au itut cuwah. (Zee mau ikut. Zee mau ikut sekolah)"


Gitta hanya bisa menghembuskan napas berat setelah mendengar rengekan sang putra. Jika sudah seperti itu, mau tidak mau Gitta mengajak Zee. Gitta segera menurunkan Zee dari mobil dan menggandengnya menuju gedung dekanat.


Zee yang sedang digandeng Gitta langsung menoleh ke arah sang mommy.


"Tak aik tolel, Mi? (Tidak naik stroller, Mom?)"


Gitta menatap wajah sang putra sambil mengulas senyumannya. "Enggak, Sayang. Mommy hanya sebentar, kok. Tuh, tempatnya sudah dekat." Gitta menunjuk gedung yang akan dikunjunginya.


Zee tamoak antusias saat melihat tangga yang ada di sana.


"Aik anda? (Naik tangga?)"

__ADS_1


"Eh, enggak Sayang. Bukan di sana. Tapi itu," tunjuk Gitta pada sebuah ruangan.


Zee hanya bisa menuruti langkah kaki sang mommy. Hingga mereka toba di depan sebuah ruangan. Ada beberapa mahasiswa yang lalu lalang di sana. Namun, sepertinya mereka mahasiswa yang berada di tingkat bawah Gitta.


Gitta terlihat menimbang-nimbang untuk membawa Zee masuk atau tidak. Namun, dia tidak memiliki pilihan lain. Tidak mungkin Gitta menitipkan Zee kepada orang yang tidak dikenalnya.


"Sayang, ikut Mommy ke dalam sebentar ya. Tapi ingat, Zee harus anteng diam, tidak boleh berisik, okay?"


"Ote!"


Gitta mengecup sekilas pipi sang putra sebelum mengajaknya memasuki ruangan tersebut. Dia sudah membuat janji dengan wali studinya. Ya, Gitta sedang konsultasi untuk pemrograman mata kuliah di semester tujuh nanti.


Tok tok tok.


"Selamat pagi, Bu."


"Oh, Gitta. Selamat pagi. Silahkan masuk."


Gitta segera mengangguk dan mengajak Zee masuk ke dalam ruangan tersebut. Kening dosen Gitta sedikit berkerut saat melihat Gitta mengajak seorang anak laki-laki. Gitta buru-buru menjelaskan keadaannya.


"Maafkan saya terpaksa mengajak putra saya, Bu. Dia tidak mau ditinggal tadi."

__ADS_1


Bu Lita, dosen wali studi Gitta, mengangguk mengiyakan. Dia terlihat tidak keberatan dengan keberadaan Zee. "Tidak apa-apa. Silahkan duduk."


Gitta segera mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Gitta juga langsung duduk sambil memangku Zee.


"Usia berapa?" tanya Bu Lita.


"Hampir dua puluh bulan, Bu."


"Sudah besar, ternyata." Wanita paruh baya tersebut tampak terkekeh.


Zee yang duduk anteng di atas pangkuan sang mommy hanya dia sambil memperhatikan orang yang ada di depannya tersebut. Ekspresi Zee, seperti biasa, datar saat menatap Bu Lita. Jangan lupakan bibir basahnya karena air liur, benar-benar membuat gemas siapa saja yang melihatnya. Rasanya benar-benar ingin menggigit kakeknya saking gemasnya.


Bu Lita terkekeh sekilas sebelum mulai membahas rencana perkuliahan Gitta. Setelah dirasa cukup, Gitta hendak berpamitan. Namun, niatnya diurungkan saat mendengar Zee menanyakan sesuatu.


"Ami, tu itan pa? (Mommy, itu ikan apa?)" tanya Zee sambil menunjuk sebuah lukisan ikan.


Bu Lita dan Gitta menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Zee. "Oh, itu ikan koi, Sayang." Gitta menjelaskan kepada Zee.


"Toi? Toi yang bica macak, Mi? (Koi? Koi yang bisa masak, Mom?)"


\=\=\=

__ADS_1


Eh, Toi?



__ADS_2