
"Daster" Ken mengatakannya dengan santai.
Sontak saja kedua bola mata Gitta langsung melotot dengan sempurna. "Apa-apaan itu. Mana mungkin aku pakai daster, Mas? Sembarangan kalau ngomong." Gitta masih menggerutu dengan kesal.
"Kalau tidak mau ya sudah, nggak usah pergi sekalian. Pokoknya, aku nggak mau kamu pakai baju itu." Ken kembali menoleh ke arah Dino. Mereka melanjutkan obrolan yang sempat tertunda.
Zee yang kesal karena sang mommy tidak segera berangkat langsung menepuk-nepuk pipi Gitta.
"Ami, au beyyi kim. Ji au beyyi kim anyak. (Mommy, ayo beli ice cream. Zee mau beli ice cream yang banyak)" Zee tampak bersemangat.
Gitta menoleh ke arah sang putra. "Iya, sebentar Mommy ganti baju dulu," ucap Gitta sambil berjalan menuju kamar untuk tetap mengganti baju. Mau tidak mau, dia tetap menuruti permintaan Ken. Dia akan mengganti baju dengan daster kekinian yang sering di pakai ibu-ibu muda.
Zee menatap baju yang dipakai sang mommy, dan menarik bahu kaosnya. "Angan anti. Ni ja. Antik. (Jangan ganti. Ini saja, cantik)"
Gitta mencebikkan bibir sambil menatap ke arah sang putra. "Nanti jika Mommy tidak ganti baju, kita tidak jadi beli ice cream."
"Tapa? (Kenapa?)"
"Tidak boleh sama Daddy."
__ADS_1
Entah balita tersebut mengerti maksud perkataan sang mommy atau tidak. Dia masih berada di dalam gendongan sang mommy. Setelah sampai di dalam kamar, Gitta menurunkan Zee dan segera beranjak menuju walk in closet. Dia harus mengganti baju jika ingin mengajak Zee membeli ice cream.
Tak berapa lama kemudian, Gitta sudah selesai berganti baju. Zee menatap penampilan sang mommy sambil mengenyot botol susunya yang masih tersisa.
"Ami au acak? (Mommy mau masak?)" tanya Zee. Ya, Gitta memang sering memakai baju model seperti itu jika sedang di rumah atau memasak.
Gitta hanya mendesahkan napas ke udara. "Bukan, Sayang. Mommy mau ajak Zee beli ice cream. Ayo."
Zee pun langsung merentangkan kedua tangannya minta digendong. Gitta melirik penampilannya sebentar sebelum keluar kamar.
Dasar, laki-laki kok aneh. Masa iya pergi ke minimarket harus pakai daster. Awas saja jika nanti malam minta aneh-aneh, aku pastikan kamu akan molet-molet sendiri, Mas. Batin Gitta.
Gitta mendekat ke arah teras tempat Ken dan Dino berbicara. Gitta hendak pamit dan menunjukkan jika dia mengikuti permintaan Ken.
Ken menoleh ke arah Gitta dan Zee. Sebuah senyuman tersungging saat melihat Gitta sudah mengganti bajunya.
"Iya. Hati-hati."
Gitta hanya bisa mengangguk mengiyakan. Zee melambaikan tangan kepada sang daddy sebelum berbalik.
__ADS_1
Dino yang juga melihat penampilan Gitta langsung berkomentar. "Pak, kenapa Anda malah menyuruh Bu Gitta memakai daster?"
Kening Ken berkerut saat menoleh ke arah Dino. "Memangnya kenapa? Jika pakai baju seperti tadi, pasti akan banyak laki-laki yang tertarik dengan istri saya," jawab Ken dengan ekspresi wajah kesal.
"Eh, Anda salah, Pak. Sekarang ini, justru istri orang lebih menarik. Ibaratnya sekarang, istri atau suami orang sedang meroket, Pak. Dulu, mungkin banyak laki-laki yang tertarik dengan yang muda-muda. Namun, sekarang tak kalah banyaknya laki-laki yang tertarik dengan istri orang."
Sontak saja Ken terkejut mendengarnya. "Benarkah?"
"Tentu saja. Bapak tidak pernah mendengar istilah baru?" tanya Dino.
"Istilah apa?"
"Pring Bunder"
"Eh, apa itu 'Pring Bunder'?" Ken merasa belum pernah mendengar istilah itu.
"Pria Penggoda Bunda-bunda Berdaster"
Brukk Braakkk
__ADS_1
\=\=\=\=
Waduuhh suara apa itu?