
Zee bersungut-sungut setelah mendengar perkataan sang daddy.
"Mana ada banteng bertelur, Dad." Zee masih menggerutu sambil mengangkat belanjaan Kiara.
"Itu ada buktinya. Tanduk bantengnya satu dan memiliki telur dua. Hahahaha." Ken tergelak saat menatap ekspresi kesal Zee. Lagi-lagi, Zee hanya menggerutu tidak jelas.
Ken dan Zee segera berjalan mengikuti kedua wanita yang sudah lebih dulu berjalan menuju mobil. Setelah semua barang belanjaan mereka masuk ke dalam mobil, Zee segera menjalankan mobilnya menuju sebuah hotel.
Malam itu, mereka akan menginap di hotel, sebelum besok mengunjungi nenek Kiara untuk mencari solusi terbaik. Dengan membawa beberapa paper bag milik Kiara, Zee berjalan mengikuti istri dan mommynya. Dia hanya bisa cemberut sambil melirik sang daddy yang tengah mengotak atik ponselnya.
"Dad, ini yakin hanya pesan dua kamar? Nanti aku tidur sama Daddy gitu?" bisik Ken kepada sang daddy saat berjalan menuju kamar mereka.
Seketika Ken menolehkan kepala ke arah sang putra.
"Cckk, sembarangan. Kamu tidur sama istri kamu, Zee. Daddy tidurnya sama mommy kamu. Mulai sekarang, nggak ada nempel-nempel dan 'ndusel-ndusel' sama mommy kamu. Mommy kamu sudah seratus persen milik Daddy. Ingat itu." Ken mendelik ke arah sang putra.
"Mana ada begitu. Aku kan anak mommy." Zee tidak terima.
"Daddy kan suaminya."
"Lebih mending anaknya, Dad."
__ADS_1
"Enak saja. Tentu saja…," belum selesai Ken meneruskan perkataannya, Gitta sudah lebih dulu bersuara karena mendengar perdebatan Ken dan juga Zee.
"Astagaaa! Kalian berdua ini masih saja suka ribut. Nggak malu ini sudah punya istri dan menantu juga. Kamu Zee, mulai sekarang, biasakan melibatkan Kiara di setiap aktivitas kamu. Kamu harus bisa berbagi apapun dengannya mulai sekarang. Dan kamu, Mas. Nggak usah manas-manasin anak kamu," ucap Gitta dengan tatapan tajamnya ke arah Ken dan Zee.
Ken dan Zee langsung mengangguk-anggukkan kepala dengan patuh. Jika Gitta sudah mengeluarkan ekspresi seperti itu, baik Ken maupun Zee pun tidak ada yang berani membantah, apalagi Ken. Bagi Ken, kebahagiaan istri adalah berkah baginya. Rumahnya akan terasa nyaman, dan moodnya seharian akan bagus. Dan tentu saja, itu akan berpengaruh pada pekerjaannya.
Namun sebaliknya, jika Gitta marah dan uring-uringan, bisa dipastikan harinya dan juga pekerjaannya akan sangat buruk dan berantakan.
Setelah memastikan suami dan putranya menghentikan perdebatan, Gitta kembali menarik lengan Kiara menuju kamarnya yang berada di lantai tiga. Gitta memang sengaja memilih letak kamar di lantai yang berbeda dengan Zee. Dia ingin memberikan kesempatan kepada Zee dan Kiara untuk saling mengenal.
Zee dan Ken juga langsung mengikuti kedua perempuan tersebut. Mereka selalu bisa menuruti keinginan Gitta, apalagi Ken. Sudah dipastikan dia akan mengikuti kemauan Gitta jika tidak ingin gelisah galau merana seharian.
"Kia, ini kunci kamar kamu dan Zee. Kalian istirahat saja di dalam kamar, sekalian perkenalan. Nanti malam, juga pesan makan malam di kamar saja. Besok, baru kita ke rumah sakit untuk membicarakan kepindahan nenek kamu ke rumah sakit Omnya Zee," ucap Gitta sambil menyerahkan kunci kamar kepada Kiara.
Gitta buru-buru memeluk Kiara dan meninggalkan kecupan pada pipi kiri menantunya tersebut.
"Baiklah, Mommy tinggal dulu, ya. Baik-baik sama Zee. Jika dia nakal, jewer saja telinganya. Ingat kata Mommy tadi, okay?"
Kiara tidak berani mengangkat wajahnya. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepala.
Setelah itu, Gitta langsung menarik tangan Ken untuk menuju kamarnya yang terletak di lantai empat. Ken sempat memberi semangat kepada sang putra sebelum berlalu mengikuti sang istri.
__ADS_1
Melihat kepergian mommy dan daddynya, Zee hanya bisa mendesahkan napas ke udara. Dia menoleh ke arah Kiara yang masih terdiam di dekat pintu. Dia terlihat ragu untuk membuka pintu kamar tersebut.
"Mana kuncinya?" tanya Zee sambil mengengadahkan telapak tangannya.
"Eh, i-ini." Kiara menyerahkan kunci tersebut kepada Zee.
Setelah itu, Zee segera membuka pintu tersebut dan mengayunkannya lebar-lebar. "Ayo, masuk." Ucap Zee.
Meskipun ragu, namun Kiara tetap memberanikan diri memasuki kamar tersebut. Selama delapan belas tahun usianya, ini kali pertama bagi Kiara berada di sebuah kamar bersama dengan seorang laki-laki asing. Beruntung laki-laki tersebut sudah menjadi suaminya.
Zee segera menutup pintu kamar tersebut dan menguncinya. Dia berjalan menuju tempat tidur dan segera meletakkan paper bag yang berisi pakaian Kiara. Sementara tas punggungnya, sudah diletakkan di atas sofa.
Zee menoleh ke arah Kiara yang masih terdiam. Dia yakin Kiara pasti juga merasa canggung sepertinya. Zee segera mengambil baju ganti di dalam tas punggungnya. Setelah itu, dia berbalik menatap Kiara.
"Aku akan mandi dulu. Setelah itu, giliran kamu. Atau mungkin, kamu mau barengan?"
"Eh, apa?"
\=\=\=
Yok, bisa yok.
__ADS_1
Bisa apa thor?
Bisa nampol mulutnya Zee 🤧