
Setelah itu, Ken, Gitta, dan Zee langsung berjalan menuju ruangan dokter yang bertugas hari itu. Tentu saja dokter langsung mengetahui siapa yang menemuinya saat itu.
"Bagaimana keadaan perempuan itu, Dok?" tanya Ken setelah mereka semua sudah duduk berhadapan dengan Dokter Arman, dokter yang bertugas hari itu.
"Semua kondisi perempuan itu cukup baik, Pak Ken. Hanya ada beberapa robekan pada pelipisnya akibat benturan. Bahu dan tulang pada kakinya juga hanya sedikit mengalami keretakan. Kami sudah menangani hal itu dengan baik," jawab dokter Arman.
Ken, Gitta, dan Zee yang mendengar penjelasan dokter Arman langsung merasa lega. Mereka bersyukur saat mengetahui keadaan perempuan yang ditabrak Zee tersebut sudah membaik.
"Lalu, apa dia sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan?" tanya Zee.
"Setelah ini, dia bisa segera dipindahkan Mas Zee. Pelipisnya masih harus dijahit karena robekan akibat benturan."
Zee hanya mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Setelah itu, dokter Arman kembali menjelaskan tentang keadaan perempuan tersebut. Zee dan kedua orang tuanya hanya bisa mendengarkan penjelasan dokter Arman.
__ADS_1
Setelah selesai, Ken segera mengajak Gitta dan Zee menuju ruangan khusus keluarga Geraldy yang berada di rumah sakit tersebut. Ken merasa harus segera menjelaskan laporan yang baru saja disampaikan oleh Juan.
Mereka berjalan melalui sebuah lift khusus VVIP yang langsung terhubung dengan lantai sepuluh tempat ruangan pribadi tersebut berada.
Begitu memasuki ruangan, Gitta langsung mengambilkan air minum untuk suami dan juga putranya tersebut. Mereka sama-sama terlihat lelah. Setelah cukup melegakan tenggorokan, Gitta langsung bertanya kepada Ken. Dia cukup penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi, bisa kamu ceritakan semuanya, Mas? Jangan ada yang ditutup-tutupi," pinta Gitta.
Ken meletakkan botol air minum di atas meja yang berada di depannya. Setelah itu, dia menoleh ke arah sang putra yang juga sedang menatapnya.
Mendengar ucapan Ken, sontak saja Gitta dan Zee langsung terkejut. Mereka tidak menduga sama sekali jika hal itu bisa sampai terjadi.
"Bagaimana bisa, Mas? Kenapa bisa sampai kecolongan? Bukankah kamu sudah meminta orang-orang kamu untuk mengawasi mereka?" Gitta menatap tajam ke arah Ken.
__ADS_1
Gitta terlihat kesal setelah mendengar apa yang baru saja Ken sampaikan. Ya, dia memang mengetahui jika sang suami memang mengawasi keluarga tiri Kiara. Ken tidak ingin keluarga tiri menantunya tersebut mengganggu mereka. Apalagi, beberapa bulan yang lalu, ibu dan kakak tiri Kiara sempat datang mengunjungi Kiara.
Ken sempat berpikir, karena Zee sudah memberikan uang yang cukup kepada ibu dan kakak tiri Kiara, mereka tidak akan mengganggu dan mengusik lagi kehidupan Kiara. Ken sempat merasa lega saat beberapa bulan ini tidak ada laporan mengenai ibu dan kakak tiri Kiara tersebut.
Namun rupanya, mereka bermain cukup cantik. Kakak tiri Kiara yang mengetahui siapa sebenarnya keluarga Zee, meminta bantuan seseorang untuk menjebak Zee. Tentu saja hal itu dilakukan melalui tangan orang lain. Ferdi, kakak tiri Kiara, merasa tidak akan aman jika dia melakukan semua rencananya sendiri.
Dengan berbekal uang yang sudah Zee berikan dulu, Ferdi membayar beberapa orang untuk menjalankan rencana mencelakai Zee. Ferdi memiliki dendam yang cukup besar kepada suami adik tirinya tersebut.
\=\=\=
Hhhmm, begitu ya.
Maksud hati Zee mengganti semua biaya karena telah menampung Kiara, malah disalah artikan.
__ADS_1
Di gas kan nggak nih?