Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 141


__ADS_3

Hari itu, acara belajar mengajar nyetir mobil pun harus berganti haluan dengan menyetir virtual. Zee benar-benar tidak membiarkan Kiara beranjak dari tempat tidur hingga menjelang makan siang. Yang dilakukan Zee hanya memeluk tubuh Kiara di bawah selimut, dan memberikan dia banyak kecupan di sana sini. 


Kiara hanya bisa pasrah saat sang suami tidak membiarkannya beranjak dari dalam kamar. Bahkan, telepon mommy mertua pun Zee yang menjawabnya.


Kini, Kiara tengah meringkuk dalam pelukan Zee. Tubuhnya masih polos, sementara sang suami sudah memakai kaos dan kolor andalannya. Kiara memang tidak memejamkan mata. Dia memeluk tubuh Zee sambil menggerak-gerakkan tangannya untuk membuat pola-pola abstrak pada perut Zee.


"Tahun ajaran baru nanti, apa kamu mau kuliah?" tanya Zee sesaat setelah menangkap gerakan tangan Kiara dan mengecupnya beberapa kali.


Kiara mendongak dan menatap wajah Zee. Keningnya berkerut saat bersuara. 


"Apa Mas Zee yakin memperbolehkan aku kuliah?"


"Tentu saja. Aku yakin kamu mampu melakukannya."


"Ehm, tapi aku belum mengenal siapa-siapa di sini, Mas."


"Tenang saja. Nanti juga ada aku. Lagi pula, memang biasa untuk siswa baru belum punya teman. Nanti pasti juga akan ada teman jika kamu sudah mendaftar."


Kiara mengangguk. Setelah itu, dia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang suami. Dia sangat bersyukur mendapatkan keluarga yang menerimanya apa adanya.


Malam itu, Kiara di ajak mertuanya untuk menghadiri acara rutin di masjid komplek. Acara yang sudah sejak dulu dilakukan itu, tetap dilakukan secara turun temurun.


Sementara Zee, dia sudah mulai berkutat dengan tugas kuliahnya di depan laptop. Tiba-tiba, sang daddy datang dengan membawa beberapa proposal. Kening Zee berkerut saat melihat Ken berjalan menghampirinya di ruang tengah. Pikirannya sudah mulai tidak enak. Daddynya itu pasti akan memaksanya untuk menggantikan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh Ken.


"Ada apa, Dad?" tanya Zee sambil menatap ke arah proposal yang dibawa Ken.


"Ini ada beberapa proposal yang masuk. Coba kamu periksa Zee. Cari yang memang bagus untuk kita." Ken meletakkan proposal itu di depan Zee.


"Aku sibuk, Dad. Banyak tugas kuliah. Kenapa tidak Daddy sendiri saja yang periksa?"

__ADS_1


"Daddy juga sibuk, Zee. Mana banyak banget pekerjaan setelah kemarin itu, lagi." Ken merebahkan diri diatas sofa di samping Zee.


"Minta saja Om Dino untuk memeriksanya."


"Dino sudah banyak sekali pekerjaannya. Daddy tidak tega." Ken masih memejamkan mata.


Zee hanya bisa mendengus kesal. "Ada-ada saja. Nanti aku periksa setelah tugasku selesai."


"Hhhmmm."


Zee tidak mempedulikan daddynya lagi. Dia kembali fokus pada tugas kuliahnya. Hingga terdengar bunyi ponsel Ken. Si empunya segera mengambil ponsel tersebut dan langsung menyambungkan panggilan. Terdengar Ken memberikan izin kepada seseorang. Setelahnya, panggilan tersebut terputus.


"Siapa, Dad?" tanya Zee penasaran.


"Laras. Dia minta izin besok datang agak siang. Dia mau periksa kandungan."


Hal itu membuat Zee menoleh kembali ke arah sang daddy. "Dad, memangnya jika istri hamil, kita nggak boleh sering-sering jenguk calon anak kita, ya?"


Ken langsung membuka mata dan menoleh ke arah sang putra. Keningnya berkerut sambil beranjak duduk.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu? Istri kamu hamil, Zee?"


Belum sempat Zee menjawab pertanyaan Ken, terdengar suara heboh dari arah depan.


"Apa? Kiara hamil?"


Zee dan Ken pun langsung menoleh ke arah sumber suara. Mereka cukup terkejut saat melihat Gitta dan Kiara sudah berdiri di sana. Apalagi, Gitta sudah mulai heboh sendiri dengan asumsinya yang belum tentu benar tersebut.


"Sayang, kamu beneran hamil?" Gitta langsung berbalik dan menggoyangkan bahu Kiara dengan ekspresi penuh harap.

__ADS_1


Kiara cukup terkejut mendapati pertanyaan sang mertua. Dia menggelengkan kepala dengan wajah takut-takut.


"Eh, ti-tidak, Mom. Be-belum." Kiara menjawab dengan wajah takut. Dia khawatir mengecewakan mertuanya.


Melihat ekspresi Kiara, Gitta merutuki dirinya sendiri. Dia terlalu bersemangat hingga membuat Kiara merasa takut mengecewakannya. Gitta buru-buru memeluk menantu kesayangannya tersebut.


"Nggak apa-apa, Sayang. Kalian kan baru dua bulan menikah. Nggak usah buru-buru. Masih banyak waktu yang bisa kalian lakukan."


"I-iya, Mom."


Setelahnya, kedua wanita tersebut langsung berjalan menuju dapur. Zee dan Ken yang melihat kedua wanita tersebut hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Ken menoleh ke arah sang putra.


"Mau Daddy kasih tau caranya agar istri kamu bisa segera hamil, Zee?" 


Zee mencebikkan bibir sambil melirik tajam ke arah sang daddy.


"Nggak perlu, Dad. Aku bisa sendiri. Lagi pula, kami juga nggak buru-buru, kok."


"Yakin nggak mau?"


Kali ini, Zee menolehkan kepala menatap wajah daddynya yang sedang menaik turunkan alis dengan jahil.


"Baiklah jika Daddy memaksa. Heran deh, kenapa punya orang tua yang suka sekali memaksa begini sih," jawab Zee sambil menggeser tubuhnya mendekat ke arah Ken.


\=\=\=\=


Sing mekso ki yo sopo to Zeee? 😩


Pitenah.

__ADS_1


__ADS_2