
"Siapa Revina, Mas? Pacar kamu?"
"Eh," Zee langsung menoleh ke arah sumber suara. Dia cukup terkejut saat melihat Kiara masih berada di sana. "Bukan, Yang. Dia hanya sahabat."
Wajah Kiara terlihat penasaran. Namun, dia tidak berani meminta penjelasan lebih lanjut kepada Zee. Kiara masih merasa canggung. Zee yang menyadari perubahan ekspresi sang istri pun langsung menyunggingkan senyuman. Zee menarik tangan Kiara hingga terjatuh di pangkuannya.
Sontak saja tindakan tiba-tiba Zee tersebut membuat Kiara kaget dan salah tingkah. Apalagi, saat itu posisi tubuh Kiara sedang duduk di atas pangkuan Zee. Dia merasakan sesuatu yang mulai mengeras di bawahnya. Menyadari hal itu, wajah Kiara terasa semakin panas. Wajahnya juga mulai memerah hingga telinga. Zee benar-benar merasa gemas dengan tingkah sang istri.
"Kenapa, hhmmm? Kamu cemburu?" tanya Zee sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Kiara. Jangan lupakan tangan kiri Zee sudah mulai menerobos di bawah sana.
"Eh, ti-tidak, Mas. Siapa yang cemburu?" Kiara menggeleng-gelengkan kepala. Tampak sekali wajahnya sudah mulai mupeng dengan tindakan Zee.
"Yakin tidak cemburu?"
Lagi-lagi Kiara menggelengkan kepala. Dia sudah tidak bisa berkonsentrasi dengan perkataan Zee karena merasakan jari tangan sang suami sudah mulai bergerak di bawah sana. Kiara bisa merasakan jika ada yang masuk lewat samping di bawah sana. Koara hanya bisa memegang bahu Zee dengan bibir tergigit erat.
Belum sempat Zee bermain 'ciluk-ba', terdengar suara ponselnya kembali. Kali ini, terlihat nama sang daddy di layar ponselnya. Dengan sangat terpaksa, Zee melepaskan Kiara mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, Dad?"
"Zee, kamu masih di Surabaya?"
"Iya. Besok baru kembali ke Jakarta. Ada apa?"
__ADS_1
"Malam ini saja kamu kembali ke Jakarta. Besok ke kantor pusat untuk menemui Mr. Edward. Beliau akan datang ke kantor. Daddy dan Papa masih belum bisa kembali ke Jakarta."
Zee menghembuskan napas beratnya. "Kenapa kalian lama sekali di sana? Bukannya sudah selesai semua urusan disana, Dad?"
"Urusan kantor sih sudah selesai, tapi urusan keluarga belum selesai." Ken menjawab dengan entengnya.
"Maksudnya urusan keluarga itu apa, Dad?"
"Tentu saja urusan Daddy dan Mommy kamu. Kami juga punya banyak urusan. Kemarin hampir satu bulan Daddy nggak punya banyak waktu bareng mommy kamu, sekarang giliran bayar hutang, dong."
Sontak saja jawaban sang daddy membuat Zee membulatkan kedua mata dan mulutnya. Bagaimana bisa daddy melakukan hal itu? Bukankah seharusnya aku yang melakukan liburan dengan Kiara? Batin Zee.
Rupanya, Ken bisa menebak apa yang dipikirkan sang putra. Dia langsung kembali bersuara. "Giliran kamu nangi saja. Bukannya kamu bilang akan menunda untuk punya anak karena masih muda? Jadi, kapan-kapan saja liburannya bareng Kia."
Menjelang pukul sebelas malam, Zee dan Kiara sudah sampai di rumahnya. Mereka segera membersihkan diri dan beristirahat. Tidak ada aktivitas 'horor' yang mereka lakukan. Tubuh mereka tidak sanggup untuk bekerja kembali.
Keesokan hari, Zee sudah bersiap ke kantor pusat untuk menemui Mr. Edward. Keadaan GC yang sudah stabil, membuat aktivitas di perusahaan tersebut terlihat semakin sibuk.
Zee langsung menuju ruangan sang daddy, karena Mr. Edward sudah menunggunya. Begitu sampai di depan ruangan Ken, Zee langsung memasukinya.
Ceklek.
Terlihat seorang laki-laki paruh baya dan seorang wanita seusia Gitta sudah berada di sana. Zee langsung berjalan mendekati mereka dan memberikan sapaan.
__ADS_1
"Selamat pagi, Mr. Edward. Saya minta maaf atas keterlambatan saya." Zee meminta maaf kepada tamunya.
"Tidak apa-apa, Mas Zee. Justru kami lah yang seharusnya minta maaf. Kami yang membuat janji bertemu jam sebelas siang, tapi justru memajukan pertemuan jam delapan pagi." Mr. Edward merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Mr. Edward. Kami bisa memahami jika Anda harus mengejar pesawat ke Italia siang ini."
Setelah itu, obrolan dilanjutkan dengan tawaran beberapa kerjasama dari perusahaan Mr. Edward. Zee dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Namun, dia belum bisa memutuskan semuanya sendiri.
Begitu selesai pembicaraan, Mr. Edward dan sekretarisnya undur diri. Mereka harus bergegas menuju bandara siang itu juga.
"Kalau dilihat dari wajah, sepertinya kamu masih muda. Pasti masih kuliah," ucap Mr. Edward sambil berjalan menuju pintu.
"Hehehe, benar sekali, Mr. Edward. Saya memang masih kuliah." Zee menjawab sambil mengulas senyumannya.
"Waahh, yang muda, yang berbakat. Calon menantu idaman, nih." Mr. Edward terkekeh.
"Eh?"
\=\=\=
Jangan lupa tinggalkan jejak buat Zee ya.
Menantu idamannya siapa sih ini?
__ADS_1