
"Apa?"
Kiara langsung terkejut setelah mendengar ucapan Zee. Di kepalanya sudah mulai memikirkan hal yang tidak-tidak tentang suaminya.
"Apa yang dilakukannya disini, Mas? Dia mau apa?" Kiara mendadak panik. Dia mencengkram lengan Zee dengan ekspresi khawatir.
Melihat reaksi sang istri, Zee langsung berusaha menenangkannya.
"Tenang, Sayang. Dia tidak akan macam-macam," ucap Zee sambil mengusap-usap lengan Kiara. "Wawan datang kesini untuk meminta maaf."
Kening Kiara berkerut saat menatap wajah Zee. Dia masih belum bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi.
"Minta maaf? Apa maksudnya, Mas?" tanya Kiara bingung.
Setelahnya, Zee mencoba menjelaskan kepada Kiara maksud kedatangan Wawan pagi itu. Ekspresi Kiara berubah-ubah saat mendengar ucapan Zee.
"Begitu ceritanya, Yang. Dan, sampai saat ini Wawan sudah tidak bisa dihubungi," ucap Zee setelah menjelaskan kepada Kiara.
Mendengar hal itu, Kiara langsung kesal. Dia menatap wajah Wawan dengan tatapan tak bersahabat.
"Seharusnya, jika mau menerima pekerjaan, dipikir-pikir dulu jenis pekerjaannya apa. Jangan hanya memikirkan bayaran gede tapi pekerjaannya justru akan merugikan kamu sendiri. Jika sudah seperti ini, siapa yang akan bertanggung jawab, hah?"
"Suami dan keluargaku juga harus kerepotan gara-gara ulahmu dan keponakan kamu. Jika sudah seperti ini, siapa juga yang akan bertanggung jawab?" Kiara tampak berapi-api.
Zee yang berada di samping Kiara cukup terkejut saat mendengar istrinya berani berkata seperti itu. Hal yang sama juga dirasakan oleh Wawan. Dia tidak menyangka jika Kiara yang kelihatannya kalem akan berani berkata seperti itu.
__ADS_1
Wawan menatap ke arah Zee dan Kiara bergantian dengan ekspresi bersalah. "Maafkan saya. Saya tidak berpikir sejauh itu."
Kiara hanya bisa mendengus kesal sambil masih menatap tajam ke arah Wawan. Dia hendak bersuara kembali, namun Zee buru-buru melarangnya.
"Sayang, tenang dulu. Tahan emosinya. Kasihan nanti Gen jika ikut terkena imbasnya jika kamu masih emosi seperti ini," ucap Zee sambil mengusap-usap bahu Kiara dengan lembut.
Kiara hanya bisa mengerucutkan bibir sambil mendengus kesal. Dia menoleh ke arah Zee dengan tatapan tidak terima. Namun, Kiara tetap menuruti ucapan Zee untuk tidak kembali bersuara.
Setelah Kiara cukup tenang, kini Zee kembali menoleh ke arah Wawan. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu setelah ini.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Zee.
Wawan tampak membenahi posisi duduknya sebelum menjawab pertanyaan Zee.
"Saya akan mencabut laporan saya ke polisi. Setelah ini, saya akan langsung pergi ke kantor polisi." Wawan mengatakan hal itu dengan mantap.
"Saya cukup waras untuk berurusan dengan keluarga Geraldy, Mas Zee. Awalnya, saya memang tidak tahu siapa yang akan menjadi target saya. Tapi, setelah membuat laporan ke kantor polisi, saya baru mengetahui siapa sebenarnya orang yang saya laporkan."
"Selain itu, saya mulai merasa kesulitan bekerja. Sebelumnya, saya bekerja sebagai satpam di HDT. Tapi, tadi pagi saya menerima surat pemberhentian secara sepihak dari mereka. Hal yang sama juga didapat oleh Intan, keponakan saya yang juga bekerja di pabrik tersebut."
"Dan lebih parahnya lagi, kemarin sore pemilik kontrakan menarik kontrakan yang keluarga saya tempati. Mereka juga membayar ganti rugi untuk hal itu."
"Saya tidak tahu ini ada hubungannya dengan apa yang telah saya lakukan, Mas Zee. Tapi, saya lebih memilih untuk mundur daripada mendapatkan kesulitan lebih dari ini."
"Maksudnya, kamu menuduh kami yang melakukan semua itu kepadamu?!"
__ADS_1
"Eh,"
\=\=\=\=
Sudah ada jatah vote, jangan lupakan untuk kasih satu vote untuk Zee, ya.
Bagi yang belum mampir ke "Tetangga Kamar" cuss kepoin. Othor kasih bocorannya sedikit nih.
"Pak, bangun dulu. Makan siang sudah siap. Bapak juga pasti belum minum obat, kan?" Nayra menggoyang-goyangkan tubuh Rainer sedikit lebih keras.
Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya Rainer berhasil bangun. Dia mengerjap-ngerjapkan mata dan menoleh ke arah Nayra.
"Ada apa?" tanya Rainer dengan muka bantalnya.
Ingin sekali Nayra mengumpat kesal. Namun, sebisa mungkin dia menahan semua umpatannya.
"Makan siang sudah siap, Pak. Anda juga harus segera minum obat."
Dengan gerakan pelan, Rainer bangun. Tentu saja Nayra juga langsung membantunya.
"Tolong ambilkan celana pendek di dalam lemari. Aku mau pakai."
Seketika kedua bola mata Nayra membulat dengan mulut terbuka. Tanpa dikomando, kedua netranya melirik ke arah, ah sudahlah.
Rainer yang mengetahui arah pandang Nayra, langsung mendengus kesal.
__ADS_1
"Aku terpaksa melepasnya tadi karena basah. Aku terjatuh di kamar mandi," ucap Rainer dengan ekspresi kesal.
"Eh,"