Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 162


__ADS_3

"Kok tumben 'njembrung', Mas?"


"Eh?" Zee menoleh ke arah Kia. "Njembrung apaan, Yang? Emang dikira halaman yang penuh rumput dan daun-daun berguguran, 'njembrung'?" 


Zee masih mencebikkan bibirnya sambil melanjutkan aktivitasnya.


"Ya maaf, Mas. Habisnya kaget saat melihat 'itu' lebat sekali. Biasanya kan polosan," ucap Kiara. Wajahnya mulai merah merona. Dia mengalihkan pandangan dari tubuh sang suami. Otaknya sudah mulai menjelajah kesana kemari. Namun, buru-buru dibuangnya jauh-jauh pikiran itu, agar tidak semakin aneh-aneh.


"Ya maklum saja, Yang. Kita sudah beberapa hari nggak gelut di atas ranjang. Aku jadi malas bersihinnya." Zee menjawab perkataan Kiara dengan santainya.


Setelah selesai dengan aktivitas mereka, Zee dan Kiara segera beranjak menuju meja makan. Bi Ani sudah menyiapkan makan siang mereka. 


Zee yang melihat menu makan siang pesanannya, langsung menyambarnya. Perutnya sudah mulai keroncongan. Kiara yang melihat tingkah sang suami, hanya bisa mengulas senyumannya. Siang itu, Kiara dan Zee makan siang sambil mengobrol tentang banyak hal.


Menjelang sore, Kiara yang baru saja selesai mandi mendapati sang suami sudah rapi. Keningnya berkerut sambil berjalan mendekati Zee.


"Mau kemana, Mas? Tumben sudah rapi," tanya Kiara saat sudah berdiri di samping Zee.


"Mau ke tempat El sebentar, Yang. Ada beberapa pekerjaan yang harus dibahas."


Kiara terlihat menggigiti bibir bawahnya. "Sampai malam?" tanya Kiara.


"Enggak, Yang. Sebentar, kok. Aku juga ada perlu dengan daddynya El."


Kiara mengangguk mengerti. Zee yang melihat ekspresi sang istri, langsung berbalik. Segera direngkuhnya tubuh Kiara ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Mau ikut?" Zee menawarkan kepada Kiara.


Kepala Kiara menggeleng dalam dekapan Zee. "Nggak usah, Mas. Aku nggak mungkin ikut dalam keadaan begini," ucap Kiara sambil mengangkat tangannya yang masih diperban. Dia juga langsung menyentuh pelipisnya.


Zee mengusap pelan punggung Kiara. "Iya. Di rumah saja kalau begitu, Yang. Besok pagi, kita check up kandungan, ya?" Zee melepaskan pelukannya dan menatap wajah Kiara lekat-lekat.


Kening Kiara berkerut saat mendengar perkataan Zee. "Check up kandungan? Kenapa?"


"Nggak ada apa-apa. Aku hanya ingin memastikan keadaan dia," jawab Zee sambil mengusap-usap perut Kiara.


Jika sudah seperti itu, Kiara juga tidak akan berani menolak. Dia hanya bisa mengangguk setuju dengan rencana sang suami.


Setelah keberangkatan Zee, Kia hendak beranjak menuju ruang tengah. Namun, langkah kakinya terhenti saat suara ponselnya terdengar. Kiara segera mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Kening Kiara berkerut saat mendapati nomor sang mertua pada layar ponselnya. Dia buru-buru menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan.


"Assalamualaikum, Mom."


Kiara cukup terkejut saat mendengar pertanyaan Gitta. Bagaimana mertuanya itu bisa tahu jika dia sempat mengalami musibah tadi pagi? 


"Ehm, alhamdulillah aku baik, Mom. Tadi juga sudah diperiksa dokter."


"Alhamdulillah. Mommy nggak akan tau jika tidak tanya Zee tentang keadaan kamu. Tapi, Mommy bersyukur kamu dan Dedek baik-baik saja."


"Iya, Mom."


Oh, ternyata Mas Zee yang memberitahu Mommy. Kenapa tidak bilang? batin Kiara.

__ADS_1


Setelah itu, obrolan kembali dilanjutkan. Gitta dan mertuanya saling menanyakan kabar, hingga bercerita banyak hal.


Malam itu, Zee dipaksa untuk ikut makan malam di rumah El. Dia juga sudah memberitahu sang istri jika tidak bisa makan malam di rumah.


Setelah makan malam, Kiara merasa tidak kuat menahan kantuknya meski baru memasuki pukul delapan malam. Malam itu, Kiara juga sudah bersiap untuk beristirahat. Dia tidak akan sanggup jika harus menunggu Zee pulang. 


Tak berapa lama kemudian, Zee sudah sampai di rumah. Dia segera bergegas mencari keberadaan sang istri. Setelah mengetahui Kiara sudah tertidur, Zee segera membersihkan diri dan ikut bergabung dengan sang istri. Zee sudah merasa sangat lelah.


Sebelum ikut bergabung dengan Kiara, Zee masih menatap wajah damai Kiara saat tidur. Ingin sekali Zee merasai bibir ranum sang istri tersebut. Namun, pandangan matanya justru menangkap sesuatu yang lebih menarik.


Zee buru-buru beringsut mendekati tubuh sang istri. Pelan-pelan dia membuka selimut yang membungkus tubuh sang istri. Setelah itu, dia langsung beringsut untuk berbaring disamping Kiara.


Tangan kanan Zee melingkar pada pinggang Kiara dan sedikit menariknya agar bisa tertidur miring. Zee langsung menelusupkan wajahnya pada lereng si kembar menggemaskan milik Kiara. Dengan gemas, Zee menggesek-gesekkan wajahnya di sana. 


Tak hanya itu, dia juga melakukan hal yang sama pada perut sang istri. Entah mengapa Zee sangat suka sekali melakukan hal itu. Hingga tindakan Zee tersebut, mengganggu tidur Kiara.


"Hhhmmm, Mas? Sudah pulang? Kenapa uyel-uyel ini, sih?" Kiara masih terasa berat membuka kedua matanya.


"Hhhmm gemes, Yang. Maaf aku membangunkan kamu." Masih uyel-uyel.


"Hhmmmm, geli ih kegesek-gesek baju." Kiara bergerak-gerak gelisah.


"Lepas saja ya bajunya? Biar nggak kegelian," ucap Zee dengan semangat empat lima. Dia langsung beranjak duduk dan mulai membuka kancing baju tidur Kiara.


\=\=\=

__ADS_1


Benarkah biar nggak kegelian? 🤔


__ADS_2