Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 84


__ADS_3

Zee hanya bisa menatap sekilas ke arah sumber suara yang memanggilnya. Sementara El, dia masih menatap si empunya suara mendekat.


"Kak, kenapa semalam pesanku nggak dibalas?" tanyanya sambil menggelayuti tangan Zee.


"Aku tidur, Rev. Semalam kan hujan, jadi aku tidur lebih awal," jawab Zee sambil menoleh ke arah Revina. Ya, Revinalah tadi yang sudah memanggil Zee. Gadih ceria tersebut benar-benar tertarik dengan Zee.


"Serius, Kak?"


"Hhhmmm."


Revina hanya mencebikkan bibirnya. Tak berapa lama kemudian, terdengar bel sekolah berbunyi. Zee segera berpamitan karena arah kelasnya berbeda dengan kelas El dan juga Revina. Zee masuk kelas unggulan. Kelas yang mendapat perlakuan khusus karena sistem belajarnya juga berbeda. Hanya ada sepuluh siswa di kelas Zee yang terdiri dari tujuh perempuan dan tiga laki-laki.


Sedangkan El, dia masuk kelas reguler satu. Sebenarnya, pelajaran yang diterima tidak jauh berbeda. Hanya saja, kelas Zee mempunyai program pengembangan materi yang lebih luas. Sementara Revina, dia adalah adik kelas Zee dan El.


Menjelang pulang sekolah, seperti biasa kelas reguler sudah bersiap untuk pulang. Kelas Zee, masih menyisakan sekitar satu setengah jam kemudian. Kelas El yang saat itu sudah selesai pelajaran, segera bergegas pulang. Ketika El hendak keluar dari ruang kelasnya, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya.


"Heh, lo temennya Zee kan? Lo tau dari mana dia dapat motor barunya?" tanya anak laki-laki tersebut sambil merangkulkan lengan ke bahu El.


El menoleh sekilas sambil melepaskan rangkulan tangan laki-laki tersebut.


"Mana gue tau. Jika lo mau tau, tanya orangnya langsung sana," jawab El.

__ADS_1


"Cckkk, sama saja lo." Laki-laki tersebut mendorong tubuh El sekilas sebelum pergi.


El sebenarnya sangat geram dengan tingkah Rio, laki-laki yang baru saja bertanya tentang motor Zee tersebut. Rio and the gang benar-benar siswa pembuat rusuh. Mereka sering kali menjadikan siswa lain bullyan. El dan Zee, lebih memilih tidak bersinggungan dengan mereka. Tidak, bukan karena takut, tapi karena malas berhubungan dengan mereka.


El segera melanjutkan langkah kakinya menuju tempat mobilnya terparkir. Seperti biasa, Revina sudah menunggu di dekat mobil tersebut. El memang akan menjemput dan mengantar Revina pulang jika sedang tidak ada acara di sekolah.


"Lama sekali, Kak. Ada acara?" tanya Revina sambil memasuki mobil El.


"Enggak, tadi hanya ngobrol sebentar dengan teman."


Revina menganggukkan kepala. Setelah itu, dia mulai bercerita tentang banyak hal. El yang sudah terbiasa dengan hal itu, hanya bisa mendengarkan.


Sementara di sekolah, Zee baru saja menyelesaikan kelasnya. Dia berjalan menuju tempat parkir bersama dengan Felix teman sekelasnya.


"Motor siapa itu?" tanya Felix.


"Motor gue." Zee menjawab sambil melangkahkan kaki menuju motor daddynya.


"Eh, seriusan lo punya motor begituan, Zee? Gileee, ini mah motor seharga dua kali mobil bokap gue." Felix tampak heboh. Dia berjalan mendahului Zee menghampiri motor daddynya.


"Gue pinjem," ucap Zee yang mengekori Felix.

__ADS_1


Belum sempat Felix menanggapi perkataan Zee, terdengar suara dari arah utara.


"Pinjem apa lo nyolong? Mana ada orang yang pinjemin motor mahal beginian?" Rio and the gang berjalan menghampiri Zee sambil mencibirnya.


Zee dan Felix yang sudah cukup bosan dengan Rio dan teman-temannya, hanya memutar bola matanya. Mereka tidak mau menanggapi perkataan Rio.


"Mau gue pinjem atau nyolong, bukan urusan lo juga. Gue nggak ngrepotin lo, gue juga nggak minta bensin sama lo. Nggak usah repot-repot komen urusan orang lain," jawab Zee sambil memakai helmnya.


Rio terlihat geram dengan perkataan Zee. "Ccckkk, nyepetin mata gue, C*k!"


"Heleh, emang gue dan motor gue yang segede gaban gini 'klilip' apa, sampai buat mata lo sepet? Gue bisa bantuin nyopotin mata lo biar nggak merasa sepet lagi." Zee menjawab dengan santainya. Dia sudah menaiki motor daddynya, sementara Felix sudah berlalu menuju tempat mobilnya terparkir. Zee segera menyalakan motor tersebut tanpa mempedulikan reaksi Rio dan teman-temannya. 


Rio yang mendengar jawaban Zee langsung merasa kesal. Dia hendak melangkahkan kaki untuk mengancam Zee, namun Zee langsung menggeber motor tersebut sambil menatap tajam ke arah Rio dari balik helm full face nya.


"Gue peringatin, gie nggak mau ada urusan sama lo semua. Sekali lo buat urusan sama gue, gue nggak akan main-main lagi," ucap Zee dengan tatapan tajamnya.


Seketika Rio menghentikan langkahnya. Mendadak Rio merasakan aura yang berbeda dari ekspresi wajah Zee. Meskipun Rio hanya bisa melihat matanya. Rio dan teman-temannya tahu, jika selama ini, Zee memang tidak pernah bersinggungan dengan gang-gang yang ada di sekolah. Dia terkenal di sekolahnya, maupun sekolah lain, dengan caranya sendiri.


Setelah mengatakan hal itu, Zee segera menggeber kuda besi sang daddy menuju rumah. Sepanjang perjalanan, Zee hanya bisa menggerutu tidak jelas. Hingga sampai di rumah, Zee langsung menghubungi Dino, asisten daddynya.


"Hallo, Om. Tolong besok kirimkan satu motor ke rumah."

__ADS_1


\=\=\=


Ada yang bisa kasih saran motor apa buat Zee?


__ADS_2