Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 85


__ADS_3

"Eh, memang mau motor apa, Mas?"


"Motor matic saja."


"Buat Bu Gitta?"


"Bukan. Buat aku, Om. Mommy sudah punya motor sendiri."


"Eh, buat Mas Zee? Tumben mau motor matic, Mas?"


"Buat cadangan, Om. Aku nggak mau pakai motor daddy lagi ke sekolah. Ribet."


Dino pun mengerti. Dia pun mengangguk-anggukkan kepala. "Baiklah. Besok akan Om kirim motor ke rumah."


"Terima kasih, Om."


"Sama-sama."


Setelah itu, panggilan telepon terputus. Zee langsung beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Begitu selesai, terdengar suara mommy dan daddynya pulang. Seperti buasa, Zee langsung menghampiri sang mommy.


"Eh, sudah pulang, Sayang?" Gitta langsung menoleh saat merasakan pelukan putranya dari belakang sambil mencium pipinya sekilas.


Ken yang melihat hal itu langsung mendengus kesal. "Zee, kamu itu sudah besar. Masa iya masih peluk-peluk Mommy kamu," ucap Ken sambil mendengus kesal.


Zee melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah sang daddy. "Biarin. Mommy saja nggak menolak. Daddy iri, ya? Mau aku peluk juga?" 


"Ogaiaahh." Ken melengos sambil berjalan menuju kamar. Gitta yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepala. Setelah itu, Gitta segera menyusul Ken menuju kamar. Mereka harus membersihkan diri.


Malam itu, Zee dan kedua orang tuanya makan malam bersama. Obrolan ringan pun terselip saat aktivitas makan malam hari itu. Setelah selesai, Ken dan Zee langsung menuju ruang tengah untuk menonton pertandingan sepak bola. Sementara Gitta, sedang membersihkan meja makan.


"Dad, aku mau motor yang baru launching itu, dong?" Zee menolehkan kepalanya ke arah sang daddy yang saat itu sedang duduk di sofa. Sedangkan Zee saat itu sedang rebahan di atas karpet.


"Yang mana?"

__ADS_1


"Yang kemarin gambarnya dikirim oleh Mr. Robbert."


"Kamu melihatnya?" Ken cukuo terkejut mengetahui sang putra melihat motor terbaru mereka.


"Iya. Mr. Robbert juga mengirimi aku gambarnya. Hehehe." Zee hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dasar, suka cari kesempatan."


"Biarin. Masa iya hanya daddy dan papa yang punya motor gede. Aku juga mau." Zee mencebikkan bibirnya.


Ken menoleh sekilas ke arah dapur. "Ssttt, jangan keras-keras ngomongnya. Kamu mau mommy kamu dengar?"


"Ah, iya. Lupa, Dad." Zee menutup mulutnya rapat-rapat. Dia lupa jika sang mommy pasti akan ngomel jika mereka membawa motor baru lagi.


Malam itu, Zee dan Ken melanjutkan obrolan hingga pertandingan sepak bola yang mereka saksikan selesai. Gitta juga ikut bergabung dengan mereka begitu selesai dari dapur.


***


Hari berganti hari. Tak terasa, weekend pun sudah menjelang. Zee biasanya akan ikut sang daddy ataupun papanya untuk melakukan survey di lokasi proyek. Weeken ini, Zee akan pergi ke Surabaya bersama dengan daddynya.


"Tumben malam, El. Dari mana?" Ken menghampiri Zee dan sahabatnya tersebut yang sedang ngobrol di ruang tengah.


"Dari tempat futsal, Om," jawab El.


"Tumben Zee nggak ikut. Ajaklah dia, El. Cowok di rumah terus mainnya." Ken mencibir sang putra.


"Hehehe, sudah diajak tadi, Om. Tapi Zee katanya diare sejak pulang sekolah." Ken masih terkekeh geli mendengar alasan yang disampaikan Zee saat dia mengajaknya ke tempat futsal.


Zee hanya mendengus kesal sambil melempar bantal ke arah El.


"Hahahaha, kamu benar, El. Dari tadi siang bolak balik terus dia ke kamar mandi. Nggak tau dia makan apa." Ken menjawab sambil berjalan menuju ruang kerjanya.


El hanya bisa menahan tawa sambil melirik ke arah Zee.

__ADS_1


"Lagian, lo aneh-aneh saja. Apaan sih yang lo makan sampai diare begitu?"


"Nggak tau. Lupa."


El hanya bisa mencebikkan bibirnya sambil menyeruput kopinya. Saat itu, melintas kucing mommy Gitta di samping Zee. Langsung saja Zee memanggil kucing bertubuh bulat tersebut.


"Neesss, Neessss. Puusss, puusss." Zee menggerak-gerakkan tangannya untuk menarik perhatian kucing betina yang sedang hamil tersebut.


El yang melihat hal itu langsung menoleh. "Gileeee, kucing sultan namanya bagus amat, Pak," ucap El. "Agnes ya namanya?" tanya El penasaran.


"Bukan."


"Vaness?"


"Bukan."


"Atau Jones?"


"Cckk, bukan."


"Yaness?"


"Bukan, El."


"Bukan mulu. Dikasih nama apa itu?"


"Ngenes."



"Eh, nggak kasihan itu kucing bagus-bagus gitu namanya Ngenes?" El memprotes.


"Itu hanya di sesuaikan dengan nasibnya, El. Dia ngenes karena hamil terus. Tuh, pejantannya ada tiga di belakang." Zee menunjukkan kandang kucing yang ada di dekat tempat gym daddynya.

__ADS_1


"Gila, poliandri dia?"


"Ho oh."


__ADS_2