Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 188


__ADS_3

Kini, usia kehamilan Kiara sudah memasuki minggu ketiga puluh empat. Masa-masa melahirkan, sudah mulai dekat. Zee juga sudah mulai posesif terhadap sang istri. Dia mulai membatasi aktivitas Kiara. Bahkan, Zee melarang Kiara untuk menyiram bunga. Dia benar-benar akan mengomel seharian jika mengetahui sang istri melakukan pekerjaan rumah tangga.


Pagi itu, Mama dan Papa datang berkunjung. Mama dan Papa baru saja pulang dari Jepang. Tentu saja mereka juga membawakan beberapa baju untuk calon cicit mereka.


"Zee, sudah punya nama untuk calon cicit Papa?" tanya papa Vanno saat mereka sedang menikmati pisang goreng di teras belakang rumah Zee.


"Belum sih, Pa. Tapi, untuk panggilan sih sudah ada. Ada apa, Pa?"


"Papa kasih saran, panggilannya Yuu, artinya bagus."


"You, kamu, maksudnya?" tanya Zee bingung.


"Cckk, bukan. Cari saja di internet. Kemarin saat di Jepang, Papa bertemu dengan pengusaha muda. Dia pintar dan berbakat. Ide-idenya juga sangat bagus. Papa menjadi terinspirasi dengan namanya."


Zee mendesahkan napas ke udara. "Jangan-jangan besok jika Papa bertemu dengan pengusaha wanita yang juga berbakat, Papa akan terinspirasi kasih nama anakku dengan nama perempuan?"


Papa Vanno langsung menoleh dan mendengus kesal ke arah Zee. Belum sempat Papa Vanno menjawab ucapan Zee, terdengar panggilan dari dalam rumah. Segera Papa Vanno beranjak menemui Mama Retta.

__ADS_1


Satu minggu berlalu, hari ini Zee baru saja pulang kuliah. Dia terlihat sangat letih. Maklum saja, penelitian untuk skripsinya membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Zee berjalan gontai menuju dapur untuk mengambil minum.


Setelah selesai membasahi tenggorokannya, Zee mulai mengedarkan pandangan ke seluruh rumah. Tidak tampak seorang pun di sana. Zee melangkahkan kaki menuju halaman belakang. Ada Bi Ani yang sedang mengangkat jemuran baju.


"Bi, Kia dimana?" tanya Zee begitu berada di dekat Bi Ani.


"Eh, Mas Zee. Mbak Kia ke rumah Mommynya Mas Zee."


"Eh, ngapain kesana, Bi?"


Zee hanya bisa mendesahkan napas berat. Sebenarnya, Zee mengetahui jija Kiara bosan di rumah. Namun, dia tidak bisa membiarkan Kiara beraktivitas di luar rumah secara berlebihan. Zee tidak mau terjadi sesuatu yang tidak-tidak dengan Kiara dan calon buah hatinya.


Setelah itu, Zee langsung beranjak menuju kamar untuk membersihkan diri. Dia berniat menyusul Kiara ke rumah orang tuanya setelah itu.


Tak butuh waktu lama, Zee sudah selesai. Dia segera berganti baju dan langsung bergegas menuju rumah mommynya. Zee memilih berjalan kaki ke rumah orang tuanya. Dia yakin, jika Kiara pasti akan memilih berjalan kaki daripada naik mobil atau motor nanti jika pulang.


Beberapa menit kemudian, Zee sudah tiba di depan pintu rumah orang tuanya. Tanpa mengetuk pintu, Zee langsung membuka pintu dan nyelonong masuk. Terdengar suara kekehan tawa dari arah dapur. Zee bergegas menuju ke sana.

__ADS_1


Kiara yang melihat kedatangan Zee langsung menoleh. Sebuah senyuman terbit pada bibirnya.


"Lho, sudah pulang, Mas?" tanya Kiara sambil berjalan menghampiri Zee.


"Hhhmm. Kamu kok kesini, Yang?" Zee memberikan kecupan pada pucuk kepala sang istri. Tangannya juga langsung mengusap-usap perut buncit Kiara.


"Di rumah, bosan, Mas."


Belum sempat Zee menjawab ucapan Kiara, mommynya sudah lebih dulu bersuara. "Kamu ini memang benar-benar, Zee. Bisa bosan Kiara kamu larang ngapa-ngapain di rumah. Harusnya, masa-masa mendekati persalinan itu, mood istri kamu bagus. Kamu harus bisa membuatnya tenang, rileks, bahkan senang. Lha ini, kamu justru melarang dia melakukan hal-hal yang disukainya." Mommy Gitta menggerutu kesal.


"Siapa bilang aku tidak membuat Kia tenang, rileks dan bahagia. Setiap malam aku selalu membahagiakan dia di atas ranjang. Ya, meskipun harus diselingi pakai jari, sih."


"Astaga."


\=\=\=


Mohon maaf, kemarin othor masih ada deadline kerjaan, jadi belum bisa up. 🙏

__ADS_1


__ADS_2