
Lagi-lagi Zee merasa kalah oleh sang daddy. Daddy tersebut benar-benar membuat Zee kalah telak.
Memang benar apa yang Ken bilang. Zee pasti tidak akan sanggup tinggal jauh dari Kiara dalam jangka waktu yang lama. Saat menunggu tamu bulanan Kiara selesai saja Zee sudah tampak uring-uringan. Beruntung dia masih bisa melakukan aktivitas sampingan.
"Ccckkk. Nggak usah ngeledekin anak kamu, Mas. Kamu nggak nyadar jika seperti itu juga? Jangankan kuliah, kerja beberapa hari saja kamu sudah merengek agar aku ikut." Gitta menatap wajah Ken sambil mendengus kesal.
Mendengar ucapan sang istri, Ken hanya bisa tersenyum nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Yaa, itu kan memang kebutuhan, Yang. Ibarat ponsel jika tidak di charge, pasti akan mati, kan? Aku pun juga sama."
Gitta langsung melengos setelah mendengar ucapan sang suami. Dia lebih memilih membawa cucunya menuju kamar daripada mendengar ucapan absurd lagi. Sementara itu, Ken dan Zee melanjutkan obrolan mereka.
Dua hari kemudian, Ken mendapatkan kabar jika berkas laporan untuk Ferdi di Jawa Timur sudah lengkap. Kini, Ferdi sudah bisa memulai menjalani proses hukum. Gitta yang juga mendengar berita tersebut merasa sangat bahagia. Setidaknya, kehidupan Zee dan Kiara akan menjadi lebih tenang.
Beberapa hari setelah itu, acara syukuran empat puluh hari Zee sudah di gelar. Mereka mengadakan acara syukuran tersebut di rumah Ken. Seluruh keluarga Zee juga turut hadir di sana.
__ADS_1
Ada papa Vanno, mama Retta, Khanza dan keluarganya ikut memberikan doa terbaik untuk baby Gen. Tak lupa juga El dan Revina yang merupakan sahabat Zee juga ikut serta hadir di acara syukuran tersebut.
Para tetangga juga mendapatkan undangan di rumah Ken. Tak terkecuali si tetangga baru rumah Zee dan Kiara. Siapa lagi jika bukan Rachel. Ada yang masih ingat si ulet keket nih?
Dia datang ke rumah Ken untuk memenuhi undangan tersebut bersama dengan beberapa tamu lainnya. Rachel yang memang belum begitu mengenal keluarga Zee, tampak biasa-biasa saja. Dia bertingkah seolah Zee dan keluarganya adalah orang biasa seperti yang lainnya.
"Acaranya sederhana ya, Bu. Tapi, lihat hampers yang akan diberikan kepada para tamu undangan. Satu set perlengkapan masak dan peralatan makan dari 'tupitupi'. Itu satu set sudah berapa duit, ya?" ucap Rachel sambil berbisik kepada Bu Halimah yang saat itu tengah duduk di sampingnya.
Bu Halimah langsung menoleh sambil mengerutkan kening. Dia sedikit bingung dengan kening berkerut saat menatap Rachel.
"Ehm, kurang dari satu bulan sih, Bu. Memangnya ada apa?" Kini, gantian Rachel yang dibuat bingung oleh reaksi Bu Halimah.
"Memangnya Mbak Rachel belum tahu siapa keluarga Mas Zee?"
"Eh, memangnya mereka siapa? Aku tidak tahu siapa mereka sebenarnya, Bu. Ya aku tahu, mereka adalah orang tua dan anak yang pergi bekerja dan kuliah seperti kebanyakan orang-orang."
__ADS_1
Bu Halimah hanya menggelengkan kepala sambil menghembuskan napas berat. Rupanya, Rachel belum tahu siapa keluarga Geraldy.
"Jadi, selama ini Mbak Rachel tidak tahu kalau tinggal di kompleks yang sama dengan para sultan?" tanya Bu Halimah.
"Eh, Sultan? Sultan siapa? Andara?"
Bu Halimah menggelengkan kepala. "Ya kali sultan Andara tinggal disini, Mbak."
"Lalu, sultan siapa?" Rachel tampak berpikir sebelum akhirnya kembali bersuara. "Kalau sultan yang lainnya sih aku nggal mau kepo, Bu. Kecuali, Sultan Geraldy. Aku penasaran seperti apa mereka itu."
"Lhah."
\=\=\=
Nggak tahu dia? Kasih tahu, dong. Biar rame di kolom komentar
__ADS_1