Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 118


__ADS_3

Kiara langsung terkejut saat menyadari Zee mengangkat roknya. Dia buru-buru menutupi pahanya yang hampir terekspos sempurna karena ulah Zee. Bukan Kiara tidak mau, hanya saja banyak pekerja yang memang di dipekerjakan untuk membersihkan sisa-sisa pohon dan ranting kemarin sore.


"Ma-maaf, Mas. Banyak orang di sini." Wajah Kiara sudah sangat merah.


Zee menolehkan kepala. Dia melihat di luar memang banyak pekerja. Untung saja mereka tidak memperhatikan tindakannya tadi. 


"Maaf, Yang. Aku nggak tau tadi jika banyak orang."


Kiara tampak mengangguk dan mengulas senyumannya. 


"Kenapa tiba-tiba sudah pulang, Mas?" tanya Kiara sambil berjalan menuju meja makan.


"Aku nggak tenang saat tau kamu keseleo. Mommy dan Daddy juga sedang dalam perjalanan pulang."


Kiara cukup terkejut mendengar jawaban Zee.

__ADS_1


"Eh, Mommy dan Daddy juga pulang, Mas?"


"Iya. Tapi memang mereka juga sudah waktunya pulang, kok. Hanya papa dan mama yang akan langsung kembali ke Singapura."


Kiara tampak mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, Kiara meminta sang suami membersihkan diri. Hari itu, rumah Zee benar-benar ramai dengan aktivitas para pekerja yang sedang membereskan rumah akibat adanya angin dan hujan deras kemarin.


Hal itu membuat Zee tidak nyaman. Dia memutuskan untuk mengungsi ke rumah papa dan mamanya. Menjelang sore, Ken dan Gitta juga sudah tiba di rumah. Mereka juga langsung menuju rumah daddy Vanno untuk mengetahui keadaan Kiara.


Seperti dugaan sebelumnya, Gitta langsung heboh saat melihat pergelangan kaki Kiara tampak membengkak dan kebiruan. Gitta langsung mengomeli Zee karena tidak segera membawa Kiara berobat.


"Pokoknya, Mommy nggak mau tau. Sekarang, panggil Dokter keluarga untuk mengobati kaki Kiara. Kamu ini mau membiarkan kaki istri kamu memar begini, Zee?" Gitta masih mengomeli Zee sejak tadi.


"Nggak apa-apa kok, Mom. Kakiku sudah mendingan kok ini." Kiara berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Padahal kenyataannya, rasanya semakin nyut-nyutan. Belum lagi, badannya juga semakin terasa hangat.


"Kamu jangan menganggap remeh, Sayang. Dulu, Mommy juga pernah seperti ini karena jatuh dari tangga. Jika tidak segera ditangani, lama kelamaan akan semakin membengkak. Setidaknya, kamu mendapat obat pereda nyeri. Dan, obat oles untuk mengurangi bengkaknya."

__ADS_1


Mau tidak mau, Kiara hanya bisa pasrah mendengar perkataan sang mertua. Zee juga segera memanggil dokter keluarga untuk memeriksa Kiara. Sekitar satu jam kemudian, dokter keluarga sudah datang. Kiara langsung mendapat pemeriksaan dan resep obat.


Malam itu, seluruh keluarga Zee menginap di rumah daddy Vanno karena rumah mereka masih belum selesai dibersihkan.


Keesokan hari, Kiara merasa jauh lebih baik. Suhu badannya yang kemarin sempat naik, kini sudah mulai turun. Zee juga sudah bisa melihat perbedaan pada pergelangan kaki Kiara.


Dua hari berlalu, pergelangan kaki Koara sudah sembuh. Kakinya sudah tidak membengkak lagi. Dia juga sudah mulai beraktivitas seperti sebelumnya.


Pagi itu, Kiara hendak ikut ke hotel dengan Gitta. Dia memang diperkenalkan dengan aktivitas yang biasa dilakukan oleh Gitta dan mommy Retta. Namun, ketika Kiara hendak bersiap, Zee melarangnya untuk ikut sang mommy.


"Eh, kenapa nggak boleh ikut Mommy, Mas? Biasanya juga aku ikut, kan?" Kiara tampak bingung kenapa Zee tumben melarangnya ikut.


"Kemarin aku belum sempat nyobain 'tusuk sateku', Yang. Aku mau, hari ini kita bisa 'masak-masakan'."


"Eh?"

__ADS_1


\=\=\=


Waduh, Zee pakai dadakan ngajakin main 'masak-masakan' segala. Bumbunya bagaimana? 🤔


__ADS_2