Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 211


__ADS_3

Setelah melihat rekaman CCTV tersebut, Ken langsung menghubungi Juan. Tak berapa lama kemudian, panggilan telepon tersebut terhubung.


"Hallo, Pak Ken. Bagaimana?" sapa Juan begitu panggilan telepon terhubung.


"Aku mau kamu bergerak sekarang. Jangan sampai berlarut-larut. Aku nggak mau Zee terseret semakin panjang."


"Tenang, Pak Ken. Saya sedang mengumpulkan bukti yang akurat. Jadi, saat mereka menyerang, kita bisa langsung pukul balik," ucap Juan.


"Bagus. Aku benar-benar sudah tidak sabar menantikan hal itu."


"Baik, Pak. Tapi, ini ada sedikit masalah, Pak. Saya baru saja menerima berita ini."


"Ada apa?" Ken tampak penasaran.


"Wawan sudah melaporkan Mas Zee ke kantor polisi."


"Apa?! Berani sekali dia melakukan itu!" 


Ken langsung geram. Dia bahkan melempar charger ponsel yang dipegangnya.


Gitta yang saat itu berada di dalam kamar mandi, langsung keluar karena mendengar bentakan Ken.

__ADS_1


"Ada apa, Mas?" Gitta ikut panik saat melihat ekspresi geram Ken. Dia berjalan mendekat dan langsung menempel pada lengan suaminya tersebut.


"Sebentar, Yang." Ken menoleh ke arah Gitta. "Kamu yakin dengan informasi itu, Juan?"


"Iya, Pak. Sangat yakin. Bahkan, malam ini surat panggilannya akan diberikan. Tapi, Anda tidak perlu khawatir. Surat itu masih berupa surat panggilan untuk melakukan pemeriksaan, bukan surat penangkapan."


"Lalu, apa yang harus Zee lakukan?"


"Mas Zee ikuti saja alurnya, Pak. Lakukan semua prosedur secara kooperatif. Beri saya waktu sampai besok sore untuk mengumpulkan semuanya. Setelah itu, kita bawa orang itu ke polisi."


"Baiklah. Aku percayakan semua padamu. Ingat, aku tidak mau menerima kegagalan."


"Baik, Pak Ken. Anda tenang saja. Sekarang, Anda bisa memberitahu Mas Zee untuk bersiap."


Tut.


Ken langsung menutup panggilan telepon tersebut. Dia menoleh ke arah Gitta yang sejak tadi menempel pada tubuhnya. Ken bisa langsung tahu saat melihat wajah Gitta yang cukup kalut dengan kedua mata berkaca-kaca. Sepertinya, Gitta mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Juan.


"Sayang," Ken langsung memeluk Gitta ke dalam pelukannya. 


Dan, saat itu juga tangis Gitta langsung luruh. Gitta benar-benar tidak menyangka jika putranya akan mengalami hal seperti ini. Ken masih berusaha menenangkan Gitta. Dia mengusap-usap punggung Gitta sambil sesekali memberikan kecupan singkat pada pucuk kepala Gitta.

__ADS_1


"Ma-mas, i-itu, Zee, hiks hiks hiks." Gitta bahkan tidak sanggup meneruskan ucapannya.


"Ssttt, jangan khawatirkan apapun, Yang. Kamu dengar apa yang diucapkan Juan tadi, kan? Tidak akan terjadi apa-apa pada Zee. Dia hanya dimintai keterangan. Dan, kita juga harus kooperatif."


"Tapi, Mas. Keluarga kita tidak ada yang pernah berhubungan dengan polisi, hiks hiks hiks." Tangis Gitta semakin keras. Dia bahkan memeluk tubuh Ken semakin erat.


"Siapa bilang? Dulu, Daddy juga pernah berurusan dengan polisi kok, Yang. Bahkan, dulu Daddy yang bersalah."


Gitta yang memang belum mengetahui hal itu langsung melepas pelukannya. Dia menatap wajah sang suami dengan tatapan terkejut.


"Benarkah, Mas?"


Ken terkekeh sambil mengusap air mata yang membasahi pipi sang istri dan meninggalkan beberapa kecupan di wajah itu.


"Tentu saja benar. Cerita itu sebelum aku lahir, kok. Bahkan, sampai saat ini Daddy masih dendam jika bertemu dengan orang itu."


Hehehe, jadi Zee bukan jadi orang pertama di keluarga Geraldy yang berurusan dengan polisi ya.


Setelah berhasil memenangkan diri, Ken dan Gitta segera keluar kamar. Mereka harus memberitahu Zee tentang masalah ini. Namun, yang jadi permasalahan sebenarnya bukanlah Zee, melainkan Kiara.


\=\=\=

__ADS_1


Hhmmm, kira-kira bagaimana reaksi Kiara ya?


__ADS_2