
"Seperti yang kalian ketahui, ada yang ingin memprovokasi keluarga kita. Kecelakaan yang dialami Zee itu memang sudah direncanakan sebelumnya oleh seseorang. Dia tidak bekerja sendiri, melainkan bekerja dengan meminta bantuan orang lain."
Zee dan Kiara yang sudah menduga hal itu pun tidak terlalu kaget. Bahkan, Kiara sudah langsung bisa menebak jika keluarga tirinya itu ikut terlibat.
"Apa ini ada hubungannya dengan keluarga tiriku, Dad?" Kiara yang sudah tidak sabar langsung bertanya. Zee yang berada di samping Kiara, langsung meremass tangan sang istri.
Ken mengamati ekspresi wajah Kiara sebentar sebelum mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Kiara.
"Kamu benar, Kia. Mereka yang merencanakan kejadian tersebut. Sepertinya, kakak tiri kamu masih punya dendam dengan Zee."
Wajah Kiara langsung sedih. Dia menunduk dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ma-maafkan aku, Dad. Karena keluarga tiriku Mas Zee mengalami hal seperti ini," ucap Kiara. Meskipun sudah berusaha menenangkan diri, dia cukup panik saat mengetahui kebenaran dari cerita ayah mertuanya tersebut.
Melihat reaksi Kiara, Zee, Ken dan Gitta menjadi panik. Gitta yang saat itu tengah menggendong Gen pun langsung beranjak ke sisi Kiara.
"Sayang, tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tidak bersalah. Jangan menyalahkan diri sendiri dengan apa yang terjadi dengan Zee." Gitta mengusap-usap bahu Kiara berusaha untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Benar, Kia. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan kamu." Ken ikut menimpali ucapan sang istri.
"Sudah aku bilang jangan terlalu dipikirkan, Yang. Percaya kepada Daddy jika semua ini pasti akan diselesaikan dengan baik." Zee memeluk tubuh sang istri dan mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Sesekali, kecupan-kecupan kecil juga didaratkan Zee pada pucuk kepala sang istri.
Setelah beberapa saat kemudian, Kiara sudah mulai tenang. Dia bisa meyakinkan diri sendiri jika keluarganya pasti akan menyelesaikan masalah ini dengan baik.
Ken dan Gitta yang melihat reaksi Kiara itu menjadi sedikit lebih tenang. Setidaknya, Kiara bisa mengontrol emosinya.
Kiara menghapus air matanya dan menatap ke arah Ken dan Zee bergantian. Tentu saja dia penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh mertuanya tersebut.
"Aku nggak bisa diam saja, Dad. Aku mau mereka mendapat balasan dari apa yang telah mereka lakukan." Wajah Kiara memancarkan kekesalan yang sangat besar.
"Kamu tenang saja, Kia. Daddy dan Om Juan sedang menyiapkan sesuatu untuk mereka. Selama menunggu persiapan itu, kita juga harus bersikap tenang dan kooperatif. Kita ikuti saja apa mau mereka," ucap Ken.
Kali ini, Zee yang bersuara. Dia cukup penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh orang suruhan keluarga Kiara tersebut.
"Apa Daddy sudah tahu apa yang akan mereka lakukan?" tanya Zee. Dia cukup yakin jika daddynya itu pasti sudah mengetahui sesuatu. Akan terasa aneh jika sampai Ken tidak mendapatkan informasi apapun dari Juan.
__ADS_1
"Kamu benar, Zee. Daddy juga sudah mendapat informasi dari Om Juan tentang hal itu," jawab Ken dengan santai.
Kening Zee dan Kiara berkerut. Mereka bisa melihat ekspresi santai dari Ken.
"Apa yang akan mereka lakukan, Dad?"
Ken menatap wajah Zee dan Kiara bergantian sebelum menjawab pertanyaan Zee.
"Mereka membuat laporan kepada polisi untuk kejadian tadi siang, Zee."
"Apa?Mereka melaporkan Mas Zee, Dad?!"
\=\=\=
Sabar, sabar. Sabar ini bukan hanya untuk Kiara saja, ya. Tapi untuk semuanya juga. Othor upnya gantian.
Jangan lupa kasih dukungan banyak-banyak buat othor. Sisikan vote juga ya.
__ADS_1