Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 265 - Ken Berulah


__ADS_3

Zee dan El saling menceritakan apa yang mereka alami. Bahkan, Zee juga sudah menceritakan apa yang akan dilakukannya kepada El.


"Lo tahu dia sekarang dimana, Zee?" tanya El penasaran.


"Hhhmmm."


"Lo yakin mau repot-repot ngurusin mereka?"


"Nggak juga, sih. Tapi, gue akan langsung kasih mereka pelajaran biar kapok saja. Om Juan sudah kasih tahu gue jika si Riko ini sedang mengikuti masa percobaan di perusahaan keluarganya. Dan, asal lo tahu, perusahaan itu sudah diakuisisi oleh Papa gue."


"Eh, Om Vanno?" tanya El terkejut.


"Hhhmmm."


El mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya, kali ini si Riko akan kena batunya karena sudah berani mengusik Zee.


Setelah cukup lama mengobrol, El segera pamit. Zee juga langsung membereskan barang-barang keperluannya. Dia memutuskan pulang lebih cepat karena hendak menjemput sang putra. Kiara sudah berada di rumah sejak satu jam yang lalu.


Sementara di sebuah mall, Ken masih terus menemani Gen yang terlihat sangat betah berjalan-jalan. Ken sudah beberapa kali mengajak cucunya tersebut agar mau mencoba aneka permainan anak yang ada. Namun, hal itu tidak menarik perhatian Gen. 


Gen hanya senang bermain sebentar, dan beberapa saat kemudian dia sudah bosan. Ya, Gen memang tipe anak yang lebih suka bermain di outdoor, dari pada bermain di mall. Gen pasti akan cepat bosan jika orang tuanya mengajak Gen bermain di mall.


Dengan penuh semangat, Gen terus melangkahkan kakinya sambil mengenyot botol susu miliknya. Ken dan Gitta membuntuti cucunya tersebut. Gen juga tidak mau digendong meski langkah kakinya masih sering sempoyongan.

__ADS_1


Namun, langkah kaki Gen terhenti saat mereka melewati sebuah showroom mobil. Dan, seperti biasa, Gen langsung nyelonong masuk.


Gitta yang melihat hal itu hanya bisa mendesahkan napas beratnya.


"Itu cucu kamu mirip sekali sama bapaknya, Mas." Gitta masih berjalan mengekori Gen.


"Namanya juga turunan, Yang. Ya pasti yang ada dari pendahulunya, mengalir ke bawah. Kecuali kalau tanjakan, bisa beda ceritanya," ucap Ken sambil menggandeng tangan sang cucu.


Gitta mencebikkan bibir saat mendapati jawaban nyeleneh sang suami. Dia lebih memilih tidak menanggapi jawaban Ken daripada bertambah kesal.


Beberapa langkah kemudian, Gen berhenti di depan sebuah mobil dengan logo tiga arah mata angin. Mobil final edition dengan harga tidak main-main tersebut, benar-benar menarik perhatian Gen. Bahkan, generasi termuda Geraldy tersebut langsung melempar botol susunya dan merengek minta gendong.


"Papapa, ndong."


"Gek suka?" tanya Ken.


"Utaaaa!" Gen langsung bersorak bahagia.


Ken mengecupi pipi gembul sang cucu sambil berjalan menuju pegawai showroom tersebut. Gitta yang melihat hal itu, langsung menahan lengan Ken.


"Mau kemana, Mas? Kamu nggak mau ambil mobil ini buat Gen, kan?" Gitta tampak penasaran.


"Memangnya kenapa, Yang? Gen suka ini." 

__ADS_1


"Ya ampun, Mas. Gen juga masih bayi. Suka apa dia sama mobil. Lagian, Gen juga pasti senang jika dia dibelikan mobil mainan. Bukan mobil beneran seperti ini."


Ken yang sudah hafal dengan sifat sang istri, berusaha untuk menjelaskan.


"Nggak apa-apa, Yang. Lagian, ini juga buat cucu sendiri."


"Nggak apa-apa bagaimana? Ini buat apa ambil mobil semahal ini, Mas? Di rumah juga banyak yang belum kepake."


"Ya, buat ganti."


"Ganti yang biasa saja, ih. Ngapain ganti AMG G65?"


Ken hanya bisa nyengir. "Ya, i-itu…,"


"Itu apa? Ini yang niat ganti mobil mah kamu, Mas, bukan Gen."


"Hehehe, kok kamu tahu sih, Yang. Sudah hafal ya? Waahh makin sayang nih sama istri, ternyata, bukan hanya bentuk KJ saja yang kamu hafal, tapi yang lainnya juga hafal ternyata."


"Astaga."


•••


Satu kata buat Ken?

__ADS_1


__ADS_2