
Malam itu, keluarga Zee berkumpul bersama untuk makan malam. Mama Retta dan papa Vanno juga ikut makan malam bersama. Mereka baru tiba di rumah menjelang petang.
Obrolan pun seolah tak ada habisnya di antara mereka. Setelah makan malam, mereka semua langsung melanjutkan obrolan di ruang tengah. Kecuali, Kiara yang tidak ikut bergabung karena harus menemani Gen.
Papa Vanno juga tak bosan-bosan mengingatkan Ken dan Zee untuk tidak lengah mengawasi keluarga. Tentu saja semuanya mengikuti apa yang disampaikan oleh papa Vanno.
Malam itu, papa Vanno dan mama Retta kembali pulang ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa rumah. Kini, tinggal Zee dan orang tuanya yang berada di ruang tengah.
"Kira-kira, apa yang akan memberatkan Ferdi nanti, Dad?" tanya Zee kepada Ken.
"Tentu saja penjualan lahan Kiara yang tanpa izin dan merencanakan kecelakaan yang menimpa kamu, Zee."
"Lalu, untuk Wawan dan keponakannya bagaimana?"
"Mereka sudah mendapat sanksi Zee. Mereka diberhentikan dari pekerjaannya. Jika yang mau kamu tanyakan tentang pengobatan keponakan Wawan di rumah sakit, Juan sudah mengurusnya dengan baik."
Zee tampak mengangguk-anggukkan kepala. Dia tahu jika daddynya tidak akan lepas tangan untuk masalah kemanusiaan.
__ADS_1
"Daddy juga sudah meminta Juan untuk mengawasi Wawan. Kita akan memberikan efek jera kepadanya selama beberapa waktu ke depan. Setelah dirasa cukup, dia pasti akan mendapatkan pekerjaannya kembali."
Lagi-lagi Zee bisa mengerti pola yang sedang dilakukan oleh daddynya tersebut. Semakin kesini, Zee semakin banyak belajar dari orang tuanya tersebut.
"Apa kita harus datang sendiri ke kota M untuk laporan tentang Ferdi, Dad?"
"Nggak perlu. Semua sudah di utus oleh Juan dan pengacara. Anggap saja semuanya sudah beres. Daddy hanya minta, mulai saat ini kamu harus lebih waspada, Zee. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali."
Belum sempat Zee menjawab, mommynya sudah lebih dulu bersuara.
"Iya, Yang. Oleh karena itu kita harus lebih berhati-hati." Ken langsung nemplok pada lengan Gitta. Jangan lupakan bibirnya juga sudah mulai nempel pada pipi istrinya tersebut.
"Iihh, apaan sih, Mas. Tuman kamu nemepel-nempel terus, ih." Gitta langsung protes saat Ken sudah mulai berulah.
Zee yang melihat tingkah orang tuanya hanya bisa mengelus dada sambil mendesahkan napas berat.
"Nasib, nasib. Punya orang tua nikah muda ya begini, ini." Zee menggumam sambil beranjak berdiri.
__ADS_1
Ken dan Gitta ternyata mendengar ucaoan sang putra. Secepat kilat Ken langsung membalas ucapan Zee.
"Bukannya kamu juga menikah muda, Zee? Awas saja jika tingkah kamu melebihi tingkah Daddy nanti. Daddy bisa pastikan, Gen akan menertawakan tingkah Daddynya nanti." Ken bersungut-sungut kesal.
Zee hanya melambaikan tangan sambil berjalan menuju kamarnya. Sementara Gitta langsung mencubit pinggang Ken. Sontak saja Ken langsung meringis mendapati 'tanda cinta' dari istrinya tersebut.
"Aduuhh, Yang. Sakit, ih." Ken masih mengusap-usap pinggangnya.
"Mulut kamu kenapa suka aneh-aneh sih, Mas. Sama anak sendiri selalu nggak mau ngalah. Malu sama Gen. Sudah punya cucu juga."
Tentu saja Ken tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh sang istri.
"Lho, bukannya kamu suka jika mulutku suka aneh-aneh, Yang? Kadang nyesepin, bibir kamu, nyesepin balon tiup, bahkan nyesepin..eehhmmmmm." Belum sempat Ken menyelesaikan ucapannya, Gitta sudah lebih dulu mencubit bibir Ken untuk menghentikan omongannya yang sudah mulai ngelantur.
Heran deh. Kenapa semakin tua semakin aneh sih turunan Geraldy 🤧
Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya. Kirimkan like, komen, vote dan kasih hadiah banyak-banyak. Terima kasih.
__ADS_1