
Zee langsung mendengus kesal setelah mendengar ucapan sang daddy. Ternyata, jiwa narsis daddynya itu tidak berkurang sama sekali meski sudah mempunyai cucu. Bahkan menurut Zee, semua sifat narsis Ken semakin hari semakin bertambah.
"Sudahlah, Dad. Aku capek dengar kenarsisan Daddy. Heran deh, semakin tua kok nggak ilang-ilang saja," Zee masih mengomel.
"Kamu benar, Sayang. Mommy saja juga sampai heran." Gitta ikut menimpali ucapan putra semata wayangnya tersebut.
Namun, si tersangka malah dengan santainya beranjak berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Tak lupa juga Ken langsung menyahuti ucapan istri dan putranya tersebut.
"Daddy bukan narsis, Zee. Tapi realistis. Daddy kan ngomong apa adanya. Tanya saja Mommy kamu, tuh. Jika Daddy nggak pulang malam ini juga, Mommy kamu akan marah. Sudah dipastikan Mommy kamu nggak akan bisa tidur jika nggak mainan billiard dulu bareng Daddy," ucap Ken sambil menaiki tangga.
Sontak saja jawaban Ken membuat Gitta sangat geram. Bisa-bisanya Ken mengatakan hal itu di depan putranya.
"Awas kamu ya, Mas!" Gitta segera beranjak berdiri dan melangkahkan kaki dengan cepat untuk mengejar Ken.
Ken yang melihat hal itu langsung menoleh ke arah Zee.
"Tuh lihat, Zee. Mommy kamu sudah nggak sabaran mau bantuin Daddy mandi. Hahahaha."
__ADS_1
"Jare sopo Masss?!" Gitta langsung berteriak saking kesalnya. Dia berhasil mengejar Ken saat hendak menutup pintu kamar. Terdengar suara gelak tawa Ken dan teriakan-teriakan kecil Gitta dari dalam kamar.
Zee yang melihat tingkah orang tuanya, langsung tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia merasa sangat bersyukur mempunyai orang tua seperti Ken dan Gitta. Mereka benar-benar bisa menjadi orang tua, guru, bahkan sahabat untuk Zee.
Apalagi, dengan Papa Vanno. Meski usia Papa Vanno sudah lebih dari enam puluh tahun, tapi Zee sama sekali tidak merasa jika usia kakeknya tersebut sudah tua. Papa Vanno selalu saja mampu menempatkan diri dengan baik. Bahkan, jika sedang ngobrol dengan Zee, papa Vanno selalu saja bisa mengetahui apa yang Zee inginkan.
Hal itu yang membuat Zee merasa selalu diperhatikan oleh keluarga besarnya. Bahkan, hal yang sama juga dirasakan oleh Zee dari aunty dan unclenya.
Setelah suara orang tuanya tidak terdengar lagi, Zee segera beranjak menuju dapur untuk membuatkan susu untuk Kiara. Hampir setiap malam Zee tidak pernah absen untuk membuatkan susu untuk Kiara, karena Zee tau istrinya tersebut agak malas jika harus minum susu.
Setelah susu buatannya jadi, Zee segera membawa susu tersebut menuju kamarnya. Zee melihat Kiara baru saja menidurkan Gen kembali ke dalam box bayinya. Rupanya, Gen sudah kembali terlelap setelah merasa kenyang.
Kiara yang baru saja merapikan selimut Gen, langsung beranjak menghampiri Zee. Dia mendudukkan diri di tepi tempat tidur sambil mengamati Zee yang tengah melepas baju dan menggantinya dengan kostum kebesarannya untuk tidur.
"Daddy sudah pulang, Mas?" tanya Kiara setelah meneguk beberapa kali susu buatan Zee.
"Sudah, Yang. Daddy baru saja pulang."
__ADS_1
"Bagaimana hasilnya?"
"Daddy sih belum menjelaskan detailnya. Tapi, aku percaya semuanya baik-baik saja."
Kiara hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Jika suaminya sudah mengatakan hal seperti itu, Kiara sudah merasa cukup tenang. Dia cukup tahu siapa keluarga suaminya itu.
Setelahnya, Kiara mencoba menghabiskan susu buatan Zee. Namun, netranya menangkap aktivitas yang tengah dilakukan oleh sang suami.
Saat itu, Zee melepas 'kurungan' andalannya dengan santai di depan lemari bajunya. Bahkan, saat itu Kiara bisa melihat dengan jelas sesuatu yang membuatnya selalu berteriak-teriak setiap hari sebelum melahirkan.
Kedua bola mata Kiara langsung membulat saat melihat penampilan tongkat kehidupan yang sedikit berbeda.
"Astaga, Mas! Sudah aku bilang beberapa kali untuk menjaga kebersihan. Jangan dibiarkan 'njembrung', ih!"
"Hhee?"
\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Bagi yang belum mampir ke cerita baru othor, cus kepoin cerita baru othor dengan judul "Tetangga Kamar"