
Zee dan Kiara masih mengatur napasnya masing-masing. Keduanya sudah tampak ngos-ngosan dengan aktivitas yang baru saja mereka lakukan. Peluh juga sudah bercucuran di sekujur tubuh mereka.
"Mas, capek, ih. Udahan dulu, ya." Kiara merengek karena sudah benar-benar lelah.
Zee yang melihat wajah sang istri yang sudah kelelahan tersebut merasa tidak tega. Saat ini, sudah hampir jam satu dini hari Zee dan Kiara baru menyelesaikan aktivitas buka puasa mereka. Keduanya tampak ngos-ngosan dengan tenaga yang benar-benar terkuras habis.
"Iya. Maaf aku sudah membuat kamu capek, Yang." Zee mendaratkan beberapa kecupan pada pucuk kepala Kiara.
Kiara yang sudah terlihat lelah pun hanya bisa mengangguk lemah.
"Aku nggak kuat jalan ke kamar mandi, Mas. Capek sekali."
"Tenang saja, aku akan membantumu." Zee langsung beranjak berdiri dan membantu sang istri pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah itu, secepat kilat Zee mengganti sprei tempat tidurnya dengan yang baru. Dia tidak nyaman jika sprei yang akan mereka gunakan terlihat lusuh dan penuh dengan, ah sudahlah.
Setelah beberapa saat kemudian, Kiara memanggil Zee untuk membantunya kembali ke tempat tidur. Saat itu, Kiara bahkan hanya memakai baju tidur terusan biasa yang diambilnya secara kilat dari walk in closet tadi.
__ADS_1
Dan, setelah Zee membawa Kiara ke tempat tidur, istrinya tersebut sudah langsung terlelap tidur. Rupanya, Kiara benar-benar kelelahan. Zee merasa kasihan dan bersalah sekaligus. Dia terlalu lama meminta Kiara berbuka puasa tadi.
Setelah memastikan Kiara tertidur dengan nyaman, kini giliran Zee untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu lama, Zee sudah selesai. Dia segera ikut bergabung dengan Kiara untuk beristirahat.
Sebelum memejamkan mata, Zee masih sempat menatap wajah sang istri yang tengah terlelap. Sambil menyunggingkan senyum bahagia, Zee mendekatkan wajah dan mengecup kening Kiara dengan penuh cinta.
"Terima kasih, Yang. Terima kasih untuk semua yang telah kamu berikan. Terima kasih sudah hadir di hidupku. Terimakasih juga sudah menghadirkan Gen ke dunia ini. Terima kasih." Zee memberikan beberapa kecupan pada wajah Kiara yang tampak terlelap tersebut.
Rupanya, tindakan Zee tersebut sempat mengusik tidur Kiara. Namun, tidak sampai membuatnya terbangun. Zee langsung menarik Kiara ke dalam dekapannya. Setelah itu, mereka berdua benar-benar terlelap.
***
Kiara menggeliatkan badannya dan melepaskan dekapan tangan Zee pada bagian depan tubuhnya. Kiara segera memindahkan tangan Zee dan membangunkan suaminya tersebut.
"Mas, bangun, ih. Ada yang ketuk pintu tuh. Siapa tahu Mommy atau Daddy. Bukain, gih. Takutnya Gen rewel."
Zee yang masih mengantuk pun mau tidak mau membuka kedua matanya. Dengan wajah bantal, Zee langsung beranjak menuju pintu untuk membukanya. Sementara Kiara, dia segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah dan menggosok gigi.
__ADS_1
Ceklek.
Zee membuka pintu kamarnya. Terlihat sang daddy sudah berdiri di depan pintu kamar Zee sambil menggendong Gen yang sudah membuka kedua matanya.
"Ada apa, Dad?"
"Ini, Gen sudah bangun dari tadi. Gantian kamu yang jaga. Kamu sudah buka puasa, kan? Sekarang giliran Daddy." Ken langsung memberikan Gen ke depan gendongan Zee.
Mau tidak mau, Zee langsung menerima Gen dari gendongan daddynya tersebut.
"Emang Daddy mau ngapain? Daddy kan nggak puasa."
"Eh, kata siapa? Daddy ikut puasa ya tadi malam. Mommy kamu nggak mau diapa-apain karena takut ganggu tidur Gen."
"Astaga, Dad. Baru juga puasa satu malam." Zee langsung mendengus kesal setelah mendengar jawaban Ken.
"Biarin."
__ADS_1
\=\=\=
Hhmm, kalau punya bapak seperti Ken, kira-kira enaknya diapain ya?