Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 224


__ADS_3

Seperti biasa, setelah makan siang Gitta sudah kembali ke rumah. Dia memang lebih banyak bekerja setengah hari karena ingin membantu merawat sang cucu.


Seperti siang itu, setelah membersihkan diri, Gitta langsung mengambil alih Gen dari gendongan Zee. Dia langsung membawa cucunya tersebut tidur siang di kamarnya. Jika sudah seperti itu, Zee hanya bisa pasrah.


Zee berjalan menuju kamar untuk mencari Kiara. Jika sang putra sudah tidak bisa di ajak bermain, kini rencana Zee adalah mengajak bermain Kiara. Zee yang tidak beraktivitas apa-apa di rumah, membuatnya cepat merasa bosan.


Ceklek.


Zee membuka pintu kamar dan mendapati Kiara tengah merapikan baju Gen. 


"Lho, kamu kok disini? Mana Gen, Mas?" tanya Kiara sambil berbalik menghadap Zee.


"Tidur siang sama Mommy." Zee berjalan mendekati Kiara dan langsung memeluknya dari belakang.


"Eh, Mommy sudah pulang? Kok aku nggak dengar."


"Hhmmm." 


Tangan Zee sudah mulai bergerilya kesana kemari. Bibirnya juga sudah mulai menjelajahi leher bagian belakang Kiara. Tentu saja tindakan Zee tersebut mampu membuat Kiara kelimpungan. Pasalnya, leher bagian belakang Kiara adalah salah satu titik sensitifnya.


"Hhmmm, Mass. Jangan suka mancing-mancing, deh. Aku belum bisa lho ini. Masih nifas," ucap Kiara sambil berusaha menegakkan tubuhnya.


"Biarin. Maunya gini saja." Zee masih tidak memperdulikan ucapan Kiara.


"Tapi, nanti bagaimana jika 'itu' yang bawah minta? Ini sudah terasa keras, Mas." Kiara mendadak panik saat merasakan sesuatu di bagian bawah sana terasa mengeras.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Yang. Nanti bantuin biar bisa cepet lemes," ucap Zee sambil masih bekerja di sana.


Tubuh Kiara langsung meremang hebat saat Zee sudah menemukan 'boba' alami Kiara.


"Eehmmmm, Mas. Na-nanti banjir bagaimana?" napas Kiara sudah mulai memburu.


"Nggak apa-apa. Jika banjir, ada penampungan kok." Tangan Zee masih terus bekerja. Tak ketinggalan, bibir Zee juga mulai menjelajah ke sana kemari.


Karena sudah tidak sabar lagi, Zee melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah pintu. Dia langsung mengunci pintu dan segera menarik Kiara ke dalam pelukannya. 


"Aku sudah nggak kuat, Yang. Bantuin biar yang bawah segera lemes ya?" Zee langsung merengek.


"Eh, se-sekarang, Mas? Tapi ini masih siang. Nanti jika dicari Mommy bagaimana?"


"Mommy mau tidur siang sama Gen. Paling juga lama. Sekarang, tolong bantuin nidurin 'Bapaknya' Gen. Sudah menggeliat nih dari tadi."


"Biarin. Memang sudah pengen dia, Yang." Zee langsung melepas pelukannya. Setelah itu, dengan tidak tahu malunya Zee mulai melucuti pakaiannya sendiri.


Kiara sebenarnya mau protes, tapi mau bagaimana lagi, dia pasti tidak akan bisa melakukannya. Mau tidak mau, Kiara hanya bisa menuruti permintaan Zee.


Sore itu, Ken pulang lebih cepat dari biasanya. Ken langsung berjalan menghampiri Zee yang tengah menggendong sang putra. Ketika hendak menjahili Gen, terdengar suara Gitta dari arah ruang tengah.


"Mandi dulu, Mas. Jangan pegang-pegang Gen. Kamu dari luar, banyak kuman." Suara Gitta langsung terdengar.


"Cckkk. Sedikit saja, Yang." Ken tampak tidak terima dengan apa yang dikatakan sang istri.

__ADS_1


"Nggak ada sedikit-sedikit. Mandi dulu, gih." Gitta memasang ekspresi galak sambil menatap ke arah Ken.


Mau tidak mau, Ken hanya bisa menuruti permintaan sang istri. Saat dia berjalan melewati Gitta, secepat kilat Ken menggendong Gitta dan membawanya menuju kamar.


Gitta yang kaget langsung memukul-mukul bahu sang suami.


"Astaga, Mas. Apa-apaan ini. Malu dilihat anak dan menantu kamu, ih." Gitta masih protes.


"Biarin. Jika mereka mau, biar gendong-gendongan sendiri."


Zee yang melihat tingkah kedua orang tuanya hanya bisa melongo.


"Astaga, itu orang tua dua kenapa masih saja aneh-aneh, sih." Zee hanya bisa menggelengkan kepala.


"Nggak nyadar jika kamu juga seperti itu, Mas." Kiara yang baru saja datang langsung menghampiri Zee.


"Eh, mana ada, ya. Aku nggak begitu, kok."


Belum sempat Kiara menyahuti ucapan Zee, terdengar suara ponselnya berbunyi. Kiara melihat nama penelepon pada layar ponselnya.


"Mas, Ferdi telepon, nih."


"Eh,"


\=\=\=

__ADS_1


Hayo, mau apa tuh?


Jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak ya, biar othor semangat.


__ADS_2