
Gitta langsung menoleh ke arah sang suami yang wajahnya sudah di tekuk seperti baju kusut. Jangan lupakan bibirnya yang sudah mengerucut seperti siap untuk di jepit.
Gitta memutar kedua bola matanya jengah sambil mendesahkan napas berat. Dia sudah sangat hafal dengan kelakuan sang suami.
"Apaan sih, Mas? Siapa juga yang selingkuh? Ini anak kamu telepon." Gitta mengulurkan ponsel ke arah Ken.
Ken yang saat itu hanya memakai kolor dan kaos tipis dan bertelanjang kaki, tidak langsung menerima uluran ponsel tersebut. Dia bahkan langsung menarik tubuh Gitta ke dalam pelukanny, dan mulai menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Gitt. Sontak saja Gitta langsung terkejut karena ulah suaminya tersebut.
"Astaga, Mas! Apa-apan, sih?" Gitta langsung protes. Dia berusaha menjauhkan tubuh Ken dengan cara mendorong bahunya. Namun, usahanya benar-benar sia-sia. Ken tidak mau melepaskan Gitta. Gitta masih memprotes tindakan Ken sambil menggerutu kesal.
Tanpa memperdulikan protes Gitta, Ken justru memeluk sang istri semakin erat. "Biarin. Habisnya kamu ninggalin aku begitu saja setelah aku tertidur. Tau nggak Yang, rasanya itu seperti dicampakkan setelah di apa-apain."
Emang ada cowok merasakan hal seperti itu, Ken? 🤔
Gitta mendengus kesal setelah mendengar perkataan sang suami. Tanpa menanggapi Ken, Gitta kembali menempelkan ponsel pada telinganya.
"Halo, Sayang. Kamu masih di sana?"
__ADS_1
"Iya, Mom. Daddy bangun, ya?"
"Iya. Biasa, Daddy kamu suka rese jika bangun tidur nggak ada Mommy." Gitta terang-terangan menyindir sang suami yang kini sudah menempel erat pada tubuhnya.
Terdengar Ken mendengus kesal sambil melepaskan pelukannya dan menatap tajam ke arah Gitta. Jangan lupakan bibirnya yang sudah mencebik tidak suka.
"Sembarangan kalau ngomong. Sini, aku mau ngomong sama Zee." Ken mengulurkan tangannya untuk meminta ponsel Gitta.
Melihat hal itu, Gitta segera memberikan ponsel tersebut kepada sang suami. Ken segera menerima dan menempelkannya di telinga, sambil berjalan menuju meja makan.
"Hallo, Zee."
"Sembarang kalau ngomong." Ken langsung berdecak kesal.
"Nggak sembarangan. Emang Daddy itu sudah kelewatan cemburuan nya. Sama anak sendiri saja cemburu. Apalagi sama kang ojol dan kang cilok. Belum lagi nanti sama karyawan Mommy yang cowok-cowok itu. Bisa-bisa, mereka akan langsung kena serangan jantung saat Daddy memarahi mereka karena berbicara dengan Mommy."
Lagi-lagi terdengar decakan kesal dari Ken. "Sudah-sudah. Nggak usah ngomentarin Daddy. Awas saja nanti kamu merasakan apa yang Daddy rasakan. Baru tau rasa."
__ADS_1
Seketika Zee terdiam. Zee mulai terpikirkan apa yang dikatakan oleh sang daddy. Apakah benar suatu saat dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh daddynya itu? Apakah nanti, aku juga akan cemburu kepada anakku? batin Zee.
Ken yang menyadari tidak adanya sahutan dari sang putra, kembali bersuara. "Zee, kamu masih disana?"
Zee mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sebelum menjawab pertanyaan daddynya. "Iya, Dad."
"Hhhh, ya sudah. Jangan tidur terlalu malam. Kamu besok masih harus melihat lahan Prasojo, kan? Ingat, jika lahan itu sudah ada kecenderungan bermasalah, lepaskan saja. Papa juga nggak begitu tertarik membelinya."
Zee cukup terkejut mendengar perkataan Ken. "Eh, kenapa begitu, Dad?"
"Papa sebenarnya sudah tau ada yang tidak beres dari lahan itu, Zee. Papa sudah punya beberapa bukti."
Zee mencebikkan bibir. Dia benar-benar kesal kali ini. Jika papanya sudah tahu ada yang tidak beres dengan lahan tersebut, mengapa dia tidak langsung menolak saja? Mengapa harus memintanya untuk melakukan survei segala? Tahu begini, Zee akan langsung kembali ke Jakarta dan menemani sang istri.
"Jika Papa sudah tahu semuanya, kenapa nggak langsung menolak saja kemarin, Dad? Kenapa harus repot-repot memintaku melakukan survei? Tahu begini, aku bisa langsung kembali ke Jakarta. Kasihan Kiara menangis menahan rindu ingin bertemu suaminya yang ganteng dan menggairahhkan ini."
"Hoeekkk."
__ADS_1
\=\=\=
Masih nyicil ya upnya.